Hari Tanpa Masa Lalu

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM2

Oleh: Fitri Sumantri

CemerlangMedia.Com — “Jika saja segala hal yang telah membentuk dirimu tiba-tiba hilang, apakah kamu masih bisa menemukan dirimu sendiri atau apakah benar kamu bisa bahagia dengan alur cerita baru, yang belum kamu tahu endingnya?”

Aku terdiam di lorong rumah sakit yang ramai dan riuh, dengan kepala berdenyut seperti di hantam sesuatu yang tak bisa kuingat. Aku tak lagi tahu arah jalan, naik turun lift sendirian, tanpa tahu tujuan, penuh ketakutan, takut ditinggal, takut ditanya, dan ribuan ketakutan lainnya yang mendadak muncul di kepala. Padahal, aku hanya disuruh berjalan lebih dahulu, bukan benar-benar ditinggal sendiri. Namun ketakutan itu terasa nyata, hadirnya meluluhlantakan segala gerak, yang terjadi secara mendadak itu benar-benar membuatku kehilangan akan diriku sendiri. Aku jadi lupa ruangan mana yang harus dituju.

Semua orang datang serupa menghakimi, padahal semuanya asing, tak ada yang dikenali, bahkan rasanya untuk pertama kalinya aku jadi tidak tahu siapa diri sendiri. Aku penuh dalam ketakutan. Hal pertama yang kusadari hanyalah momen di mana aku bolak-balik ke ruang USG itu, ruangan yang menginggatkanku akan putri kecilku, “Nusaibah Fatimah Asyifa” perempuan hebat yang mengajarkan padaku arti pengorbanan, kesabaran serta cinta yang sebenarnya.

Tanganku mendadak gemetar. Kusentuh wajah sendiri, memastikan aku nyata. Kuperiksa sekujur tubuhku yang mendadak dingin, semuanya utuh, tak ada darah ataupun luka goresan. Cuma bekas jahitan operasi yang sudah mulai menggering. Namun, kehilangan itu begitu terasa nyata, seperti sebuah ruangan besar dalam diriku yang penuh dengan tawa, mendadak dikosongkan dengan paksa, tanpa bertanya apakah boleh kepingan sedih hadir memberi warna biar ia jadi berwarna.

Di sekelilingku orang-orang lalu lalang, ada yang mendorong kursi roda, ada yang menunggu kepastian kapan waktu operasi datang, ada yang berjuang kembali seperti sedia kala, masa di mana hidup baik-baik saja tanpa sakit, tanpa luka. Semuanya serba buru-buru, tak ada yang santai di meja itu, yang ada hanya sebuah meja snack dan teh hangat untuk diteguk oleh penggunjung yang belum sempat sarapan karena buru-buru mengejar antrian. Kucoba berdiri perlahan sambil memegang meja, kakiku terasa lemas, tetapi masih bisa menopang tubuhku yang sudah mulai mengurus, mencoba menunggu laki-laki itu datang kembali mengenggam tanganku dengan hangat, memusnahkan segala takut yang menyelinap diam-diam.

“Maaf, aku lama, parkiran antri. Kenapa tidak langsung ke ruangan itu, mendaftar dulu baru tunggu dokternya datang,” ucapnya. Aku terdiam sambil menatapnya, seolah bertanya ini tempat apa? Dia menoleh padaku memberi sedikit senyum, menciptakan lesung pada pipinya dan mengenggam tanganku yang terasa dingin. Aku kaget, seolah terbangun dengan perasaan aneh, kehilangan ini tak nyata. Bukan bersebab diri tak ikhlas, bukan juga bersebab lupa bahwa aku hanyalah makhluk yang tak pantas bertanya atas segala hal yang terjadi. Namun… semuanya masih saja terasa berat.

Atap rumah sakit itu berwarnah putih, terlihat sedikit mulai muncul bintik-bintik noda, udaranya terasa kotor penuh dengan berbagai penyakit dan obat-obatan. Namun tidak terlalu menggusik, semuanya masih terasa normal. Aku duduk perlahan di depan ruang tunggu itu, di sekelilingku orang-orang berjalan seperti biasa, berbicara, tertawa menatap ponsel mereka, seolah ponsel itu sebagai penghibur bagi jiwa yang luka. Di rumah sakit, pagi itu dunia berjalan seperti tidak ada yang salah, tetapi bagiku sekelumit cerita masa lalu serupa laron yang menyerbu cahaya, tiba-tiba menguap ke permukaan, menghakimi masa lalu yang tak peduli, tak teliti, tak ingin tahu dan semacamnya.

Dalam lamunan, aku mencoba menginggat sesuatu. Apa saja yang terjadi sebelumnya, nama, tempat, wajah seseorang, hasil diagnosa, lembaran-lembaran kertas USG, buku KIA, kenangan yang pernah membuat aku bertahan hingga punya secuil harapan. Tidak ada. Yang tersisa hanya takut, sedih, hilang. Seolah ruang tawa yang besar itu terhapus oleh kesedihan tak terluapkan dengan rintik yang utuh.

Sesekali ia menoleh padaku, memberi senyum untuk menguatkan. Namun, matanya terlihat begitu gelisah, tangannya yang kugenggam sedikit gemetar. Tampaknya ia juga tak begitu baik-baik saja, meski kehilangan bukanlah hal pertama baginya, tetapi aku tahu ia masih menyimpan luka walau sedikit, hanya saja ia tetap punya kewajiban untuk menguatkan, sambil merangkul lukannya dalam diam. Sesekali ia tertawa kecil, bukan karena sesuatu itu terlihat lucu tapi fase dimana diri sudah merasa pasrah pada ketetapan-Nya, ia masih tetap bersyukur dengan segala hal yang terjadi, sebab Allah masih menyisihkan secuil harapan untuk di rakit di hari esok.

Dalam lamunan, di ruang tunggu itu aku bertanya pada diri sendiri. Bagaimana jika suatu pagi aku terbangun tanpa masa lalu? Masa dimana tidak ada kenangan tentang luka, tidak ada kenangan tentang ketakutan, tentang rasa bersalah, atau tentang kehilangan, semua kesedihan itu mendadak hilang, seolah tidak ada yang terjadi, barangkali hari akan terasa lebih ringan, lebih santai serta lebih menyenagkan bukan. Sebab tidak ada beban, tidak ada bayangan tentang rasa bersalah yang menghantui, tidak ada rasa sesak yang perlu di tahan, tidak ada rasa takut yang membuat tubuh menggigil dan tidak ada rintik dari bola mata yang membuat mata sembab.

Aku pasti akan berdiri di depan cermin sambil berdandan cantik dan melihat diriku yang baru, tetapi kebebasan itu hanya hadir dalam kepala yang kian hari makin berisik. Saking berisiknya, mataku tak bisa terlelap, bahkan sedetikpun. Sebuah harap yang tak akan mungkin jadi nyata. Sebab, tanpa masa lalu, aku juga pasti akan kehilangan arah. Aku jadi tidak tahu bagamana rasanya sabar, rasanya tetap kuat di saat hati terluka, harus terus tersenyum padahal raga lelah, rasa di mana fisik remuk, tetapi harus tetap berdiri, rasa kehilangan sesuatu yang sedang kita tunggu kehadirannya.

Barang kali hidup akan berubah menjadi serangkaian keputusan tanpa dasar, seperti berjalan tanpa petunjuk atau barang kali berjalan di lorong yang sepi tanpa tahu ujungnya serta rintangan apa yang bakal dihadang. Rasanya itu aneh, membuat diri menjadi was-was dan ragu untuk kembali memulai perjalanan. Sebab, masa lalu sesakit apa pun itu ia serupa jangkar yang membuat kita tetap tabah, meski menghadapi ribuan luka.

Ia membentuk diriku, mengajarkanku tentang kehilangan, tentang bertahan, tentang memilih. Barang kali tanpa semua itu aku bukan hanya kehilangan cerita, tetapi kehilangan makna. Dan bahkan bukan hanya tentang lupa yang tiba-tiba menakutkan, melainkan tanpa masa lalu, aku bisa menjadi siapa saja, termasuk seseorang yang tak pernah ku ingin. Rasanya hari tanpa masa lalu tidaklah begitu sempurna. Itu adalah sebuah momen kosong yang harus diisi dari nol, tanpa petunjuk, tanpa peganggan, itu jelas terasa menyeramkan.

Suara perawat memanggil namaku dari pintu ruangan depan itu membanggunkanku dari lamunan panjang akan hari tanpa masa lalu. Aku berdiri, berjalan pelan menuju ruangan tempat kontrol pertamaku dimulai setelah melewati beberapa hari pemulihan pasca operasi. Kutatap wajah mereka satu persatu, sebuah senyum lebar menghiasi wajah laki-laki berkacamata dengan rompi putih memeriksa tensiku yang perlahan sudah menurun. Senyumnya seolah memberi isarat bahwa semuanya baik-baik saja. Aku bukan orang pernah yang berada di sini, kematian itu pasti terjadi pada setiap makhluk yang bernyawa, tetapi hidup harus terus berjalan.

Aku jadi sadar, mungkin hari ini bukan tentang kehilangan masa lalu, hanya saja tentang kesempatan yang belum dipilihkan untukku, kesempatan di mana aku bisa membesarkan seorang putri atau kesempatan melihat diriku di versi perempuan lain. Namun tak mengapa, sebab aku sudah lama hadir di versi laki-laki keren yang menunggu raga dan jiwaku kembali hadir menemani harinya yang riang, berharap segala lukaku selesai, ragaku bisa berlari kembali mengejarnya seperti sediakala.

Aku berdiri keluar dari ruangan itu, mengusap ujung mataku yang terselip rintik dengan senyum dan harapan baru, sebuah kekuatan bahwa aku bukan yang pernah di sini, mereka bisa memulainya kembali, kenapa aku tidak. Senyum itu aku genggam erat, kubawa pulang untuk menemui anak laki-lakiku yang sudah lama menunggu ibunya merangkul dengan cinta yang utuh. Pada akhirnya aku mengerti bahwa segala hal terjadi bukanlah tentang siapa aku yang dahulu, melainkan tentang aku ingin menjadi siapa.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 10

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *