Selamat Datang di Kota Nol, Putri yang Kulahirkan Tidak Lagi Ada

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM2

Oleh: Fitri Sumantri

CemerlangMedia.Com, STORYTELLING — “Tak perlu buru-buru untuk beranjak pergi karena menyembuhkan luka bukan tentang pemaksaan yang harus cepat selesai. Kota Nol adalah tempat di mana waktu menunggu keputusanmu, bukan tentang luka yang sembuh oleh waktu, tetapi karena pilihan yang diambil.”

Di gerbang rumah sakit yang beberapa bulan ini hampir setiap hari kukunjungi, sebuah kata yang nyaris terlewat dalam pandangan: Selamat Datang. Kata sederhana, tetapi cukup berkesan. Ya, aku datang ke sana membawa cerita tentang harapan yang kuanggap nyata, terkadang aku juga datang dengan terluka, terkadang luka itu sembuh dan aku pulang dengan selamat. Namun kali ini, kata selamat datang itu punya makna yang terasa pilu untuk diucap.

Akhirnya, aku baca kata itu dengan Selamat Datang di Kota Nol, kota yang tidak ada di peta dunia, tidak pernah tercantum namanya, tidak ada titik koordinat, tidak ada nama jalan, tempat. Bahkan, tidak ada sejarah yang bisa dilacak, tetapi aku merasa pernah melewatinya, tempat di mana aku membawa sesuatu, tetapi pulang tanpa sesuatu itu. Nol, berakhir sebelum semuanya dimulai. Kota yang sebenarnya bukan tempat yang ingin kutuju, sebab awalnya aku yang punya segudang tawa tiba-tiba hilang dan kosong, nol. Ia muncul di antara perjalanan, di sela-sela keputusan yang terlalu berat untuk diambil. Pada detik ragu, haruskah mengikhlaskan atau melakukan operasi untuk kesekian kalinya.

Tempat di mana tidak ada yang benar-benar dimulai dan juga tidak ada yang benar-benar berakhir. Segala sesuatu itu berhenti di saat aku merasa pulih dan tidak siap untuk mendengar kelanjutan dari penelitian yang entah kapan usai. Yang aku pahami, semuanya pasti akan baik-baik saja. Kita hanya butuh penjagaan biar tubuh terus sehat, serta mental juga perlu dijaga. Sebab, kesehatan mental sangat penting karena mental yang rusak bisa mempenggaruhi berbagai hal dalam hidup. Aku lebih memilih untuk menutup lembaran itu, bukan karena takut mendengar keputusan yang mengecewakan lagi untuk kesekian kalinya, hanya saja hatiku memilih untuk pergi.

Untuk terakhir kalinya aku berdiri di gerbang itu tanpa menoleh kembali, dengan sebuah harapan tidak akan pernah lagi kembali ke sana. Aku pergi dengan membawa kenangan akan sesuatu yang pernah kuanggap ada. Sebuah harapan yang membuatku berani untuk memulai, yang membuatku kembali bernapas meski itu pelan, tetapi aku percaya, di balik luka pasti terselip tawa. Pertemuan di dunia barangkali tidak begitu membahagiakan untuk kita, semoga akhirat menjadi pertemuan terindah kita.

Meskipun pada awalnya tidak ada yang benar-benar menyambutku di sana. Walau mereka terasa hangat dan cukup baik, itu hanyalah sebuah kewajiban dari tugas yang memang harus dilaksanakan. Kipas angin besar itu yang selalu berputar tanpa arah, membawa debu dari sandal orang-orang yang datang, dan kenangan yang tak ingin diingat. Sebab, ada luka yang terselip di dalamnya, luka yang terlalu sakit jika di kenang.

Aku berdiri cukup lama di depan gerbang itu, seakan menunggu seseorang memanggil namaku untuk kembali. Menyampaikan kabar tentang kepulanganmu, menyampaikan kabar bahwa kepergianmu hanyalah sebuah kesalahan, ada yang tertukar. Hmm… serupa cerita di film saja, sebuah harap yang tak akan pernah jadi nyata. Namun, tak ada siapa-siapa yang datang memanggil dan hal itu jelas sudah kuketahui sejak awal bahwa semuanya tak mungkin. Untuk kali ini di tempat ini, semua yang datang dengan lukanya sendiri, pulang dengan tawa dan juga ada yang pulang dengan luka, persis seperti diriku kali ini.

Aku yang datang membawa cerita dan pulang kehilangan. Persis serupa Kota Nol, tidak ada yang berakhir, sebab semuanya belum dimulai. Putri yang aku lahirkan di penghujung tahun itu tidak lagi ada. Sebuah angan yang kuanggap tawa akan dimulai di tahun baru, tetapi justru air mata yang menyelimuti. Aku tahu dia berada dalam ruang tersulit, sesuatu yang dianggap kemustahilan, tetapi namanya pernah hidup di antara doa-doa yang kuucap setiap malamnya. Geraknya yang terasa aktif membuat hari-hariku jadi berwarna, meski waktu itu hanya sebentar, tetapi cukup berkesan.

Pertanyaan tentang kehadirannya kini hanya dipenuhi gema ingatan. Aku masih bisa mengingat bagaimana geraknya jika setiap pagi abangnya menyapa di kala bangun tidur, hentakan kakinya seolah dunia tak akan berani menyakitinya. Dan nyatanya memang begitu, dunia ternyata tidak mengusiknya, sebab baru sebentar menatap, dia memilih pergi untuk selamanya.

Pada awalnya aku tahu dunia memang tidak pernah berjanji membuatnya selalu hidup di sampingku dan aku mengganggap tempat itu serupa Kota Nol, tempat di mana semua janji yang patah terkumpul. Tempat di mana segala ceritaku dihentikan dengan paksa, tempat segala rencana dihapus jadi nol. Tempat di mana secuil harapku menghilang, tetapi dari segala luka itu, aku belajar bahwa kehilangan bukan sekadar perpisahan.

Ia adalah ruang kosong yang menetap, tumbuh diam-diam, dan menata ulang siapa diri ini tanpa izin. Apakah aku terpuruk begitu dalam sehingga menjauh sejauhnya-jauhnya atau aku sadar akan ketetapan yang tak bisa aku ubah bahwa sekeras apa pun aku menjaga jika yang bukan untukku, maka tidak akan pernah jadi milikku. Begitu juga jika sesuatu itu jadi takdirku, sekeras apa pun aku menolaknya, ia akan tetap kembali padaku.

Dalam lamunan panjang aku coba memanggil diri ini, berkali-kali, berharap ada suara yang mampu menembus batas antara yang ada dan yang telah tiada. Menembus ruang sadar dari diriku akan kehilangan bukanlah akhir dari segalanya dan setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, kita hanya menunggu waktu kapan saat itu tiba. Tugas kita hanya mempersiapkan diri pulang dalam kondisi terbaik, bukan terus meratapi atas apa yang hilang.

Namun Kota Nol tidak memberi jawaban. Ia memantulkan kembali setiap lukaku yang belum selesai dalam rintik yang riuh dan jelas. Rasanya aku marah, kesal, sedih, kecewa, dan semua rasa terus berkecamuk dalam benak. Persis serupa akar serabut yang kusut, tetapi aku kembali sadar bahwa ini tak pantas. Walaupun orang-orang di luar sana menyebut tempat ini sebagai tempat penyelamat bagi mereka yang tak bisa ditangani di tempat lain, pelarian bagi mereka yang tak sanggup menerima kenyataan.

Akan tetapi bagiku, ini bukan pelarian. Ini adalah satu-satunya tempat yang terasa jujur. Tempat di mana do’a lebih lirih, lebih khusyuk. Sebab di luar sana, semua orang pura-pura kuat. Mereka bilang waktu akan menyembuhkan. Mereka bilang aku harus ikhlas. Mereka bilang aku harus sabar, tetapi Kota Nol tidak mengatakan apa-apa dan justru itu yang kubutuhkan saat ini. Aku butuh seseorang yang ada tanpa suara, tanpa kata. Cukup ada, walau akan melihat aku menangis sekencang-kencangnya, meraung sekeras-kerasnya, tetapi ia cukup ada bukan untuk menghakimi, bukan untuk menata ulang ceritaku yang hancur di pertengahan bukan, cukup serupa Kota Nol yang kosong dan diam.

Jika suatu saat kamu mengalami kisah yang sama denganku, kisah di mana secuil harapmu menghilang dalam semalam, kisah di mana putri yang kamu harap tiba-tiba meninggalkanmu untuk selamanya. Kisah di mana anak yang baru kamu lahirkan, baru kamu genggam tangan mungilnya tiba-tiba hilang, pergi untuk selamanya, tanpa pernah lagi kamu lihat, kamu rasa hadirnya, bahkan untuk terakhir kalinnya kamu tak sempat mengantarnya ke tempat peristirahatannya, sebab luka sayatan di tubuhmu belum cukup kering untuk di bawa berjalan.

Jika suatu saat nanti kamu merasakan sakitnya kehilangan itu atau kamu tiba-tiba tersesat di dunia luka yang tak pernah kamu ingin, jangan cari arah pulang terlalu cepat, duduklah sejenak, dengarkan sunyinya, nikmati perihnya. Tak mengapa meski bersandar sejenak, walau meratap dalam sujud, tak menggapa. Sebab mungkin, seperti aku, kau akan menemukan bahwa beberapa kehilangan tidak untuk dilupakan, melainkan untuk dibawa perlahan sebagai bagian dari dirimu yang baru. Sebab, buru-buru melupakan itu rasanya seperti tulang yang bengkok diluruskan dengan paksa, jelas lukanya tak pernah sembuh. Ia tetap ada dan terus terkenang.

Selamat datang di Kota Nol, tempat di mana aku belajar hidup tanpa dirimu.

Awalnya melihat bayi-bayi munggil itu, aku merasa kau ada, seolah luka lamaku kembali muda. Namun, sebuah pertanyaan dari anak laki-lakiku, “Dedek bayi Umma mana?” membuatku terdiam. Rasanya seperti ada bayangan dari masa lalu, masa di mana kita saling bercerita, masa di mana setiap kali kubacakan cerita sebelum tidur kau bergerak riang dalam perut. Hmm… barangkali semua orang yang kehilangan mungkin memang berakhir di tempat yang sama, berakhir dalam ingatan sebuah kenangan.

Namun, aku lebih suka menyebut kehilangan itu dengan kata nol, sebuah Kota Nol, tempat di mana aku pernah ke sana, tempat di mana aku mengerti bagaimana rasanya luka yang benar-benar luka, dan tentunya aku juga tengah mencari cara untuk keluar dari sana, memilih merangkai kembali cerita yang belum usai, meskipun bukan pilihan yang sempurna, bukan juga pilihan yang pasti benar dan berakhir dengan bahagia. Aku hanya memilih untuk kembali melaju, meskipun terasa sulit. Akan tetapi aku yakin, aku mampu karena di Kota Nol, semua kemungkinan akan terasa setara. Selama aku terus mencoba menjadi lebih baik dari aku yang dahulu, maka segalanya akan terus berjalan di jalan yang kembali penuh dengan tawa.

Nol.

Bukan sebuah akhir dan juga bukan awal. Ia hanya sebuah masa di mana sesuatu yang kuinginkan ternyata tidak ditakdirkan untukku.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 9

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *