Orang-Orang yang Tidak Bertanya

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Fitri Sumantri

CemerlangMedia.Com, STORYTELLING — “Ujian terberat itu bukan masa-masa sulit yang membuatmu dekat pada Allah Swt., tetapi momen indah yang membuat waktumu hilang hingga tanpa kamu sadari, kamu hanya punya jedah sedikit untuk mengadu pada-Nya.”

Kota Sawahlunto adalah kota wisata tua yang multi etnik, salah satu kota tua terbaik di Indonesia. Kota yang didirikan pada tahun 1888 ini masih banyak terdapat bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda. Sebagian telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah setempat, dalam rangka mendorong ekonomi berbasis pariwisata dan mencanangkan Sawahlunto menjadi “Kota Wisata Tambang yang Berbudaya”. Di kota itulah aku mulai belajar menjadi manusia pekerja yang biasa disebut karyawan.

Tampaknya, aku terlalu menikmati pekerjaanku. Suasana kantor yang bersih, udara sejuk, serta orang-orangnya yang ramah dan baik, membuat aku menjadi nyaman dan betah di sana sehingga aku lupa berpikir, apakah segala hal yang aku lakukan sesuai dengan aturan Allah Swt.? Atau justru aku persis dengan kebanyak orang, yang diberi kenikmatan, tetapi mulai lalai oleh kenikmatan itu.

Tampaknya, aku mulai jadi manusia yang tidak lagi banyak tanya, mengerjakan sesuatu bukan berlandaskan aturan Allah Swt., halal haram suatu perbuatan tidak lagi jadi sandaran, hingga lupa akan syarat diterimanya suatu amalan, yang mana niatnya ikhlas karena Allah Swt. serta caranya benar. Akan tetapi, bagaimana menurut versi manusia sehingga persepsi orang menjadi sesuatu yang sangat penting. Entah itu benar atau salah, aku seolah tak punya suara. Bahkan, aku mulai tampak lupa batas pergaulan laki-laki dan perempuan yang pada dasarnya terpisah.

Mungkin memang benar, kebebasan secara finansial terkadang membuat kita bisa lupa akan jati diri kita sebagai generasi muslim yang seharusnya hidup sesuai dengan aturan-aturan Allah Swt., bukan menurut versi manusia. Apalagi bagiku yang baru lulus kuliah, adalah suatu kebebasan tanpa batas di mana kebebasan itu yang selalu didambakan.

Bebas bisa membeli apa yang diinginkan tanpa dipreteli harga dan kegunaannya. Bebas keluyuran tanpa ditentukan jadwal pulang. Bebas nongkrong di mana bersama siapa, asalkan aman. Bebas tidur jam berapa tanpa ada aturan jam tidur dan berbagai macam kebebasan yang dimiliki setelah bekerja dan bisa membiayai hidup sendiri. Itu adalah suatu kenikmatan yang baru di dapat.

Efek dari kenikmatan itu, aku lupa bertanya siapa diriku. Hidupku seolah tak ada aturan lagi. Boncengan dengan laki-laki yang non mahram sudah jadi biasa. Bahkan, tidak punya pacar, hidup terasa dihakimi. Menulis sedikit pembohongan, tidak jadi masalah asalkan semuanya demi uang dan bisa diterima lingkungan.

Itulah aku, yang hanya sibuk merancang agenda perjalanan. Menikmati keindahan Kota Sawahlunto dari Puncak Polan, suasana malam Bukit Cemara dengan lampu-lampu yang indah, sejuknya air terjun rantih, sambil meregangkan otot di pemandian air panas Gantiang. Menguji adrenalin dengan naik ke batu runcing Silungkang.

Tentu dengan menu pempek dan tekwan yang membuat suasana sore di pasar Sawahlunto terasa makin nikmat, serta sate padang dengan kuah kuningnya yang menggoda, soto babatnya yang nggak kalah gurih dengan kuah santan khas Minangkabau. Apalagi sambil menikmati bubur ayam di depan gedung pertunjukan kebudayaan itu dengan menyaksikan pertunjukan seni dari komunitas kuda lumping yang cukup membuat jantung deg-degan.

Segala hal yang aku lakukan hanyalah dengan dalih menikmati hidup sebelum menikah, memuaskan hati dengan mengunjungi berbagai macam tempat-tempat wisata, memanjakan lidah dengan berbagai macam makanan hits yang tak tahu baik atau buruknya untuk tubuh. Aku menjadi manusia terlalu ambisius akan dunia, ingin melakukan segalanya dengan dalih menikmati hidup. Saking menikmati, terkadang aku lupa waktu, mengerjakan sesuatu tanpa faedah.

Bahkan, pada suatu hari, di mana aku merasa waktuku habis hanya dengan hal yang tidak perlu, tidak ada manfaat, tidak ada faedah. Malam itu, aku dan beberapa temanku nongkrong di salah satu cafe yang bukanya 24 jam di Kota Bandung. Kebetulan hari itu kami lagi mendapat tugas dinas di Kota Bandung. Makan mie dengan tingkat kepedasan yang luar biasa sambil main uno.

Beberapa jam selesai hanya dengan permainan, serta berlinang air mata dengan pedasnya mie rebus. Kami lanjutkan perjalanan ke alun-alun, bukan untuk pergi salat atau mengikuti kajian, tetapi duduk manis di taman depan masjid megah itu. Berjam-jam kami habiskan hanya untuk sekadar bercerita dan mengabadikan momen di ponsel dengan pilihan foto yang begitu estetik. Seolah hidup hanya sebatas itu, sebatas menikmati momen yang memang tidak lagi terulang, dengan menikmati indahnya pemandangan, kebersamaan terasa hangat, padahal kosong.

Hari-hari lainnya juga berlalu dengan demikian tanpa ada pertanyaan. Yang ada hanya menikmati cerita. Seolah tawa dan segala momen indah itu akan abadi seperti cerita dalam buku. Akan tetapi ternyata, setelah kami pulang ke rumah masing-masing, hanya lelah yang tersisa. Sambil berbaring di kasur dengan memilih beberapa foto yang akan diposting di sosial media -biar dunia tau kalau kita bahagia, biar semua orang tau kalau kita begitu menikmati hidup, padahal jika kita tanya pada tiap-tiap hati, yang tersisa hanya lelah.

“Terkadang kita tertawa, kita bilang bahagia, tetapi terasa kosong. Seolah ada yang hilang, padahal baru menemukan. Bukan tentang apa yang dicari, tetapi tentang sesuatu yang membuatmu mulai lupa, hilang dan makin jauh.”

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 3

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *