#30HMBCM
Oleh: Fitri Sumantri
CemerlangMedia.Com, STORYTELLING — “Terkadang, yang kita anggap sunyi itu bukan karena diri sedang sendiri, tetapi karena suara yang sering kali kita kubur pelan. Ia tidak hilang. Hanya menunggu keberanian pada diri untuk pulang.”
Terkadang, aku merasa aneh karena ada banyak suara di dunia ini yang tidak pernah benar-benar didengar. Ada dilihat, tetapi hanya sekadar dilirik, bukan benar-benar di dengar. Ada yang berbicara lantang tentang keadilan, tetapi keadilan itu sering kali hanya dimiliki oleh segelintir orang. Tentang hak yang sering kali tidak diberikan pada tempatnya. Meskipun terkait hak-hak dasar warga negara telah diatur dalam konstitusi, tetapi kenyataannya masih banyak kasus di mana hak-hak ini diabaikan atau bahkan di langgar. Mulai dari hak untuk mendapatkan perlindungan hukum hingga hak kebebasan berpendapat. Semuanya tak lepas dari ancaman.
Ada juga yang berteriak meminta pertolongan, meminta secuil harap untuk tempatnya bertumbuh, atau bahkan sebiji gandum untuk bisa di makan. Bahkan, ada yang menangis meratapi nasib yang entah kapan usai. Akan tetapi, dunia seolah menutup mata dan telinga, padahal suara-suara itu bisa datang dari pinggiran kota, dari rumah-rumah elite yang serba lengkap, tetapi hasil korupsi. Ditangkap, tetapi ruang penjaranya nyaman dan bersih. Maupun pondok-pondok sawah yang kering kerontang, sebab air aliran sawah disedot untuk kepentingan pemilik modal, sebagai ladang cuan yang menjanjikan. Bahkan, bisa datang dari ruang sepi di rumah sendiri atau dari hati yang terlalu sering diremehkan.
Sehingga memendam lukanya sendiri, berharap waktu jadi penawar. Suara yang tidak diakui itu bukan berarti ia tidak lagi ada. Ia tetap hidup di antara kita, dihembuskan lewat keluhan yang dianggap remeh, lewat ide yang tak mendapat tempat, lewat pendapat yang dipotong sebelum selesai diutarakan, lewat kesalahan-kesalahan yang selalu di normalisasikan. Terkadang, suara itu berasal dari seseorang yang terlalu lama dibungkam hingga akhirnya percaya bahwa diam adalah satu-satunya cara untuk diterima atau bisa jadi suara-suara itu hadir dari seseorang yang sering kali dimarahi. Ia memilih berontak dengan cara yang sangat menyeramkan, bisa saja melakukan sesuatu yang melanggar norma agama, atau bahkan mentransfer lukanya sendiri.
Namun, diam bukan berarti setuju. Walaupun terkadang banyak orang berpendapat bahwa diam adalah suatu pilihan yang benar, sebab ketidakkuasanya untuk berpendapat. Akan tetapi pada dasarnya, diam bukan berarti ia tidak setuju, hanya saja dia butuh waktu untuk berpikir sejenak. Barangkali berpikir lebih lama, lebih jernih, lebih santai dan lebih tenang, biar keputusan yang diambil tidak saling menyakitkan atau meragukan. Sebab, pilihan yang salah bukanlah cara untuk menyembuhkan luka, tetapi bisa kembali membuka luka yang sudah mengering.
Begitu juga dengan tidak diakui bukan berarti salah. Terkadang, ada fase di mana seseorang tidak ingin memvalidasi sesuatu. Bukan karena sesuatu itu salah, hanya saja ia butuh ruang untuk menempatkannya pada ruang yang dianggapnya benar. Sebab, ada kebenaran yang tidak sempat menemukan panggungnya, ada cerita yang tidak mendapat tempat dalam wacana besar.
Ketika sebagian orang sibuk menentukan siapa yang pantas bicara, dunia perlahan kehilangan keberagamannya, kehilangan nuansa dari banyak kisah kecil yang justru membentuk wajah manusia sesungguhnya. Wajah yang tak tahu diri, tak punya sabar, tak tau bersyukur, serta tak menyadari bahwa diri hanyalah hamba yang pantasnya hidup berlandaskan aturan Sang Pencipta, bukan menjalankan kehidupan sekehendak hati.
Jika saja kita mengakui sebuah suara, mungkin kita sudah memberi ruang bagi kemanusiaan. Meskipun sekadar untuk mendengarkan suara tangis anak-anak yang kelaparan, suara orang tua yang tercekik biaya pendidikan, keluhan para petani akan hasil panen yang rendah, kesehatan yang dijadikan ladang cuan, para buruh yang tak diberikan haknya, dan berbagai persoalan kemanusiaan lainnya yang kita anggap hanya sebagai cerita hidup, yang cukup sekadar tahu bukan untuk didengar. Karena setiap suara, sekecil apa pun itu, membawa pengalaman, rasa, dan harapan. Dan selama masih ada keberanian untuk mendengar, tak ada suara yang benar-benar bisa dihapus oleh keheningan.
Disudut kota yang ramai itu, di balik hiruk pikuk kendaraan dan tawa yang terdengar ringan, ada jeritan-jeritan yang tak pernah sampai ke telinga banyak orang. Mereka tidak berbisik, tidak juga memaksa untuk didengar. Bukan karena mereka tak ingin, tetapi karena mereka terlalu sering diabaikan. Bahkan, ada yang hampir setiap sore berdiri di depan pintu rumahnya, menunggu orang-orang pulang bekerja, berharap ada kendaraan yang berhenti, lalu bertanya kenapa matanya selalu sembab. Atau sekadar bertanya kenapa ia sering kali berdiri menatap kosong dari balik jendela itu, apakah ada rahasia yang sulit ia utarakan atau segenggam luka yang tak pernah diajarkan cara untuk menyembuhkannya.
Banyak orang yang tengah berjalan dalam kerumunan sambil memeluk kesakitannya. Anehnya, hal itu dianggap normal dan memang sudah bagian dari hidup. Bahkan, ada juga yang menjadikan sebagai bentuk dari keberhasilan dan kemudian menurunkannya pada generasi sebagai luka yang tak terputus, persis serupa mata rantai yang terus dijaga biar ia tetap utuh. Padahal semua orang punya hak untuk menghentikannya, menganggap luka sebagai suara yang tidak diakui. Biarkan ia terputus, selesai, dan cukup di rantai yang satu.
Namun sayangnya, sering kali dunia terlihat lebih nyaman membawa luka. Sebab kesedihan akan meraih simpati yang lebih ramai, tentunya dalam dunia sekarang, followers berjamur dan cuan berhamburan. Begitulah persepsi di mana luka dijadikan topik utama sebagai hiburan, sebagai simpati untuk mendapatkan keuntungan. Bahkan, ada yang memaksakan diri untuk terlihat terluka, padahal dalam diri seseorang ada ruang sunyi yang jarang di sentuh, ruang tempat suara-suara kecil berdiam. Bukan karena ia tidak ada, tetapi karena suara itu tidak diakui.
Sering kali kita hanya sekadar mendengar, padahal suaranya lantang bukan sebagai bisikan. Justru itu sebuah keberanian yang begitu luar biasa. Sayang, keberanian itu hanya milik mereka, bukan milik kita yang sering kali memilih diam biar diri dianggap ada atau bersuara lantang, tetapi hanya sebatas untuk dikenal.
Hmm… mungkin mereka lelah, sebab aku sendiripun juga merasa lelah melihat persoalan yang tak ada habisnya. Namun, sekadar untuk tersenyum, rasanya terkadang terlalu sulit untuk diulang. Bukan karena semua hidup dipenuhi dengan luka, hanya saja banyak suara yang didengar sering kali membuat kita merasa asing, bahkan dengan diri sendiri. Apalagi untuk berkata “Aku baik-baik saja”, jawaban cepat meski tidak ada yang bertanya. Itu rasanya seperti sebuah harapan yang entah kapan jadi nyata, bahkan terasa seperti sekadar menjaga citra diri, berusaha untuk menyenangkan semua orang.
Setiap kali suara itu muncul, rasa itu seolah menekannya lebih dalam. Walaupun terkadang kita tak perlu berusaha untuk terus pura-pura baik-baik saja. Biar dunia di sekililing juga ikut baik-baik saja, walau faktanya tidak ada yang benar-benar baik. Apalagi tentang suara yang tidak diakui, sesuatu yang bukan berarti tak lagi ada. Karena ia hanya menunggu waktu, waktu di mana kamu merasa siap, sampai kamu cukup berani untuk mendengarkan sesuatu tentang dirimu sendiri.
Ya, walaupun itu luka yang akan kembali membuatmu hancur serupa pecahan beling dari retak seribu, tak mengapa. Karena sering kali, yang terasa sunyi itu bukan dunia di sekelilingmu, tetapi hati yang menolak untuk mendengarkan suaranya sendiri. Karena terkadang, suara yang kamu tolak itu bisa jadi suara dari dalam dirimu, suara yang selama ini tidak pernah kamu dengar, suara yang selalu kamu abaikan, atau suara yang selalu kamu anggap hilang. Mmakin kencang kamu berlari, maka akan makin keras ia akan mencari cara untuk didengar. Karena suara yang kamu abaikan hari ini, bisa saja menjadi luka yang berbicara di hari esok. Maka memilih untuk mengakuinya adalah suatu pilihan yang tepat. Bukan sebagai tanda bahwa kamu lemah, tetapi itu adalah awal di mana kamu belajar untuk menyembuhkan luka.
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 13






















