#30HMBCM
Oleh: Shunink
CemerlangMedia.Com — “Sampaikan kebenaran, meskipun itu pahit.” (HR Ibnu Hibban).
“Bun… Bunda,” panggil Ayah dari dalam kamar tidur.
“Ya, Mas? Ada apa?” jawab Bunda sambil bergegas menghampiri suaminya tersebut.
“Bun, maaf, ya. Bunda tahu atau tidak uang lima puluh ribu di dompetku?” tanya Ayah.
“Enggak. Kenapa, Mas? Hilangkah?” terka Bunda dengan berbagai rasa cemasnya.
“Entahlah. Seingatku, di dalam dompet ada empat lembar uang lima puluh ribu, tetapi sekarang tinggal tiga saja. Ini uang spare part customerku,” jelas Ayah.
Sejenak Bunda terdiam, dia tidak ingin su’udzan pada anaknya, She.
Mengapa, She? Karena sebelumnya, She pernah berbohong terkait membeli dompet blink-blink dan memakai uang belanja Bunda tanpa izin.
“Bun, kok diam?” celetuk Ayah.
“Eh, tidak apa-apa, Bunda hanya berpikir…. Apa mungkin ini perbuatan She?” terka Bunda.
“Ya, Allah… Tidak mungkin, Bun. Bisa jadi aku saja yang lupa. Udah tidak apa-apa, aku ada uang untuk ganti, kok. Dah, tidak usah dipikir…” jelas Ayah yang berusaha menetralkan pikiran dan suasana, sebab uang untuk bayar barang telah hilang.
Ayah pun berangkat bekerja dengan tersenyum, meski mungkin dalam hatinya juga bertanya-tanya, “Di mana uang itu?”
Sore hari…
“She… bisakah Bunda bicara sebentar, Nak?” panggil Bunda dari ruang tengah.
“Ya, Bun, ada apa?” jawab She yang menghampiri bundanya.
“Sini, duduk dulu. Ini Bunda dapat kue bolu dari Ummi Hasanah, kesukaan She. Dimakan, yuk?” ajak Bunda.
“Wah… alhamdulillah, She lagi pingin banget makan kue cokelat, Bun,” kata She dengan senangnya.
“She… tadi Ummi Hasanah bilang, katanya kamu habis belanja bareng anaknya, juga dengan beberapa teman ngaji lainnya, ya?” tanya Bunda.
“Ooo… iya, She ikut teman-teman ke swalayan di tikungan jalan, baru buka dan banyak promo,” jawab She sambil memotong bolu cokelatnya.
“Lho, kamu tidak bawa uang, kok bisa ikut pergi ke swalayan?” tanya Bunda bingung.
“Bawalah, Bun. Kan dapat uang jajan lima ribu dari Ayah dan ditambahi sama Alvi jadi bisa beli snack,” jawab She.
“Tapi, kata Hasanah kamu beli banyak, bahkan kamu traktir Erlyta, Wanda, dan Chelsea?” ucap Bunda dengan ekspresi bingung.
Mendengar ucapan Bunda, She menghentikan kunyahannya dan menatap sayu pada sosok wanita berkerudung hitam yang sedang bingung dengan ceritanya.
“Apa mungkin Hasanah berbohong pada Bunda? Ngarang-ngarang cerita gitu?” ucap Bunda seolah memancing She untuk berkata jujur.
“Atau Hasanah salah paham? Bisa jadi yang traktir itu bukan kamu, tetapi teman yang lain,” imbuhnya dengan ekspresi bertanya-tanya.
Mendengar hal itu, She hanya terdiam.
“She… beneran kamu yang traktir?” tanya Bunda pada She.
“Ya… Ya… Enggak mungkinlah Bun. Uangku aja cuma lima ribu, masa traktir temen,” jawab She dengan sedikit gugup.
“Lalu, ada snack rasa sapi panggang, rasa jagung, ada juga susu untuk remaja dan beberapa permen di lemari es, itu milik siapa?” tanya Bunda lagi.
“Milik She, Bun. She dibelikan teman-teman,” jawab She lirih.
Bunda mulai putus asa menghadapi usaha She yang menutupi kebenaran dalam dirinya.
“She… tolong jujur, ya Nak? Hasanah dan Alvi juga tahu dan bilang bahwa kamu membawa uang lima puluh ribu, bukan lima ribu.” Akhirnya, Bunda menyampaikan poin pokok pembicaraan dan hal itu membuat She terkejut dan bermimik canggung saat mendengar sederet ucapan Bunda.
“She…” panggil Bunda dengan lembut.
She hanya terdiam, dia menundukkan kepala dan meremas jari jemarinya.
“Tidak apa-apa, She jujur sama Bunda. Insyaallah, Bunda tidak akan marah,” ucap Bunda dengan lembut sambil memegang jari jemari She.
Sedikit lebih lama, Bunda terdiam hanya untuk menunggu She berani menjelaskan kebenarannya.
“Iya… She bawa uang lima puluh ribu, ambil di dalam dompet Ayah. Maaf, Bunda.” Dengan tenang dan suara lirih, She mengakui sebuah kejujuran yang terasa pahit didengar dan dirasa oleh bundanya.
“Kenapa She melakukan hal itu?” tanya Bunda.
“Karena She ingin seperti teman yang lain, pergi ke mall, ke swalayan dengan membawa uang lebih dari dua puluh ribu, beli apa aja yang dimau. Setiap mereka minta uang berapa saja, orang tuanya selalu memberi dan mereka berangkat beli ini dan itu, kadang ajak teman untuk ditraktir. She ingin seperti mereka, Bun…” jelas She.
“Astagfirullahal’adziim… Astagfirullahal’adziim… Astagfirullahal’adziim…” ucap Bunda berulang dengan suara gemetar.
“She… Maafkan Ayah dan Bunda jika belum bisa memenuhi keinginan She. Namun… Jika She ingin seperti teman-teman She yang seperti itu, Ayah dan Bunda tidak akan memenuhi hal itu, Nak. She tau itu…” ungkap Bunda.
“Ya, Allah tidak suka dengan hamba-Nya yang boros, membelanjakan harta hanya berdasarkan keinginan, bukan kebutuhan apalagi mencuri,” jelas She dengan tangsinya.
“Lalu, kenapa She lakukan itu?” tanya Bunda.
“She hanya ingin sekali… saja, merasakan seperti mereka, Bun.” She dengan pengakuan dan keinginannya yang kontra membuat Bunda merasa gagal meriayahnya.
“She bisa minta baik-baik ke Ayah dan Bunda. Jika ada rezeki lebih, Insyaallah akan diberi. Jika belum, She hanya butuh bersabar, Nak…” ucap Bunda terhenti karena dadanya terasa sesak mendengar pengakuan She.
“Tolong jangan diulangi lagi. Mencuri itu dosa. Kita memang bukan orang yang kaya harta, tetapi tolong… Jangan miskin jiwa, jangan sampai Allah Swt. murka. Paham kan, Nak?” Bunda mengelus kepala She yang sedang menangis.
Mendengar nasihat dan permintaan bundanya, She menganggukkan kepala dan berucap, “Maafkan She, Bun. Nanti, She juga akan minta maaf ke Ayah.”
“Iya, She… Maafkan kami juga, ya?” ucap Bunda sambil memeluk anaknya.
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 1






















