#30HMBCM
Penulis: Zakiah Ummu Faaza
Bab 5 Air Laut yang Tak Pernah Kering
CemerlangMedia.Com, NOVEL — “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, karena semua perkaranya adalah baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu baik baginya.” (HR Muslim).
Air mata Bunga mengalir begitu deras membasahi pipinya. Ia tak bisa membendungnya dan menyembunyikan kesedihannya. Hal yang membuat ia menangis, ketika ia mendengar kabar teman sebangkunya yang bernama Naya, teman pada waktu SMP dikabarkan telah berpulang menghadap Sang Pencipta. Ia tidak menyangka sama sekali akan kehilangan sosok teman dulu yang sangat dekat dengannya telah tiada.
Sosok Naya yang baik hati dan mengerti akan karakter Bunga juga cocok dengannya, yang tak bisa dilupakan oleh Bunga. Naya sebenarnya murid baru di kelas 3 pada saat itu. Dari sekian teman yang bisa meraih hatinya, hanya Bunga. Ia adalah teman yang pendiam, tetapi support. Ia murah senyum, senang berbagi, tidak sembarang bergaul dengan lawan jenis dan ramah.
Terakhir, Bunga mendengar kabar Naya pada saat ia liburan. Pada saat itu, Bunga sedang membeli obat untuk ibunya ke apotek. Dari situlah Bunga mendengar kabar meninggalnya Naya, dari adik kelasnya yang rumahnya masih dekat dengan Naya. Bunga mendengar berita pada saat ia pergi ke apotek dan bertemu di sana.
Bunga dan Naya, setelah perpisahan SMP telah berjanji akan saling berkunjung dan menjaga silaturahmi. Namun, seiring waktu dan kesibukan, hal itu tidak terlaksana. Naya pada waktu itu melanjutkan ke pondok pesantren di luar daerah, sementara Bunga melanjutkan aliyah sekalian mondok dekat sekolah.
Bunga merasakan kehilangan yang begitu mendalam. Ia berharap pertemanannya langgeng hingga sudah dewasa dan berkeluarga kelak, akan saling berkomunikasi. Pada saat itu, alat komunikasi masih sangat terbatas. Apalagi di daerah Bunga yang masih pelosok. Terkadang berita ataupun informasi tidak langsung diterima seperti saat ini.
“Bunga, hapuslah air matamu,” kata ibu sambil memberikan sapu tangan berwarna biru kepada Bunga.
“Semangat ya, Nak. Jangan berlarut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Ibu yakin, Bunga akan mendapatkan teman yang banyak dan lebih baik lagi atau bahkan mirip seperti mendiang Kak Naya. Asalkan kita tetap istikamah berada di jalan-Nya, pasti Allah juga akan memberikan teman yang terbaik sebagai gantinya.
Dekapan hangat, belaian, dan pelukan ibu pada Bunga bagaikan obat baginya. Seperti obat yang mujarab yang susah diperoleh dari manapun. Obat inilah yang mampu menghapuskan rasa sakit seketika. Ibu adalah pelipur lara, cermin kesabaran yang tiada tara. Ia selalu menghibur dan membuat Bunga tersenyum bahagia.
Bunga memeluk erat ibunya, ia menumpahkan rasa kesedihan yang tiada tara. Rasanya ia ingin sekali bertemu dan memeluk Naya.
Hal ini memberikan sebuah pelajaran yang luar biasa bagi Bunga tentang bagaimana memandang kehidupan ini. Bahwasannya hidup ini sangatlah singkat, bukan untuk bersantai ria.
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 13






















