#30HMBCM
Penulis: Kak Na
CemerlangMedia.Com — Terkadang tanpa sadar… kita sudah sampai di satu titik. Titik di mana kita mulai paham kalau hidup ini nggak bisa asal jalan. Nggak cukup cuma ikut keinginan, nggak cukup cuma ngikutin mood.
Karena ternyata… hidup ini butuh arah. Dan arah itu butuh aturan. Tetapi di titik ini… biasanya muncul pertanyaan baru.
Kalau memang hidup harus ada aturan, aturan itu sebenarnya datang dari mana?
Karena kalau dipikir-pikir… banyak orang hidup dengan ‘aturan’ masing-masing.
Ada yang bilang, “Yang penting aku bahagia.”
Ada yang bilang, “Yang penting nggak ganggu orang lain.”
Ada juga yang bilang, “Yang penting jadi diri sendiri.”
Sekilas kelihatannya benar. Nggak salah. Tetapi… cukup nggak?
Coba bayangin kamu lagi ikut ujian. Terus setiap orang boleh bikin aturan sendiri.
Yang satu bilang, “Aku jawab bebas aja.”
Yang satu lagi, “Aku pakai cara aku.”
Yang lain, “Yang penting aku nyaman.
Kira-kira… hasilnya bakal adil nggak?
Nggak.
Karena setiap orang punya standar sendiri. Dan kalau semua bebas menentukan aturan… yang terjadi bukan kebenaran, tetapi kebingungan. Dan hidup… jauh lebih besar dari sekadar ujian.
Kalau aturan hidup diserahkan ke manusia… yang satu menganggap sesuatu itu benar, yang lain menganggap itu salah. Yang satu bilang bebas, yang lain bilang itu merusak.
Akhirnya… nggak ada pegangan yang jelas.
Dan di sinilah masalahnya. Manusia itu terbatas. Kita bisa salah, bisa berubah. Hari ini kita yakin sesuatu itu benar, besok kita ragu lagi.
Coba ingat diri kamu sendiri. Pernah nggak, dahulu yakin banget sama sesuatu, sekarang malah berubah?
Dahulu ngerasa itu nggak apa-apa, sekarang baru sadar ternyata salah?
Itu manusia. Nggak stabil. Jadi kalau aturan hidup ditentukan oleh manusia… akan selalu berubah dan goyah. Sekarang balik lagi. Kalau yang menciptakan kita adalah Allah… Yang Maha Tahu, yang nggak pernah salah, dan nggak terbatas….
Maka, siapa yang paling layak menentukan aturan hidup kita?
Kita… atau Dia?
Jawabannya sebenarnya jelas. Masalahnya sekarang bukan di siapa, tetapi di bagaimana.
Kalau aturan itu dari Allah… kita tahu dari mana?
Karena kita nggak bisa langsung bertanya seperti ke manusia.
Nggak bisa langsung, “Ya Allah, aku harus ngapain?”
Di sinilah pentingnya petunjuk. Coba bayangin kamu lagi ada di tempat yang benar-benar baru. Kamu nggak tahu jalan, nggak tahu arah, nggak tahu harus ke mana.
Lalu kamu dikasih dua pilihan.
Yang pertama: jalan sendiri, nebak-nebak. Yang kedua: dikasih petunjuk yang jelas.
Kamu pilih yang mana?
Pasti yang ada petunjuknya. Karena tanpa petunjuk… kamu bisa nyasar, muter-muter, dan capek sendiri. Dan hidup juga sama. Kalau kita jalan tanpa petunjuk, kita bisa salah arah, salah pilihan, bahkan menyakiti diri sendiri tanpa sadar.
Dan di sinilah… Allah tidak membiarkan kita sendirian. Allah memberikan petunjuk. Bukan sedikit, bukan sekadar garis besar, tetapi lengkap.
Petunjuk itu… ada. Dan sebenarnya dekat dengan kita. Namanya Al-Qur’an. Bukan sekadar kitab yang dibaca. Bukan sekadar untuk dilombakan, tetapi petunjuk hidup.
Allah sendiri sudah menjelaskan:
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 2).
Masalahnya… banyak dari kita mengenal Al-Qur’an hanya sebatas bacaan, belum sebagai jawaban. Kita bisa baca, tetapi belum tentu paham. Kita bisa hafal, tetapi belum tentu menjalani.
Padahal di dalamnya ada arah, ada aturan, ada penjelasan tentang hidup, tetapi seringnya… kita nggak benar-benar mencarinya di sana. Kita lebih sering mencari jawaban di internet, mencari validasi dari orang lain, atau sekadar ikut arus.
Padahal… petunjuk itu sudah ada. Dekat. Tetapi kita yang belum mendekat. Dan mungkin… ini salah satu alasan kenapa banyak orang tetap merasa kosong.
Bukan karena nggak ada jawaban. Tetapi karena… nggak mencari di tempat yang benar.
Sekarang pertanyaannya jadi lebih jelas. Kalau Allah sudah memberikan petunjuk… kita mau mengikuti? Atau tetap mencari jalan sendiri?
Karena dua-duanya punya konsekuensi. Mengikuti petunjuk mungkin nggak selalu mudah, tetapi jelas arahnya. Sedangkan jalan sendiri… terlihat bebas, tetapi penuh ketidakpastian.
Dan mungkin… pilihan itu sekarang ada di kamu.
Renungan kecil:
💕🦋 Selama ini kamu lebih sering mencari jawaban dari mana? Dari Allah atau dari dunia di sekitarmu? 💕🦋
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 8






















