Siapa Penciptaku

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: Kak Na

CemerlangMedia.Com — Terkadang, kalau kita benar-benar mau mikir… semua yang ada di sekitar kita ini terasa terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Tubuh kita bekerja tanpa kita atur. Jantung berdetak terus tanpa kita suruh. Mata bisa melihat. Otak bisa berpikir.

Kamu nggak pernah bilang:

“Jantung, sekarang detak, ya.”

Tapi dia tetap bekerja. Terus. Tanpa henti.
Belum lagi kalau kita lihat yang lebih besar.

Langit.

Bumi.

Siang dan malam.

Semua berjalan teratur. Nggak pernah telat. Nggak pernah tabrakan.

Pernah nggak kamu melihat matahari lupa terbit?
Nggak pernah.

Dan kalau kamu jujur… semua ini terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Pelan-pelan, satu kesimpulan muncul:
Semua ini… pasti ada yang menciptakan.

Tapi di titik ini, muncul pertanyaan yang lebih dalam.

Kalau memang ada yang menciptakan… siapa? Mungkin kamu pernah dengar banyak jawaban.
Ada yang bilang:

“Yang penting percaya aja, nggak usah dipikirin.”

“Tuhan itu banyak, tergantung kepercayaan masing-masing.”

Atau bahkan… ada yang memilih nggak mau mikir sama sekali. Padahal kalau dipikir… ini bukan pertanyaan kecil. Ini pertanyaan paling penting dalam hidup.

Karena dari sini akan menentukan arah hidup kita. Coba kita pakai logika sederhana lagi.
Kalau yang menciptakan kita adalah sesuatu yang nggak tahu apa-apa, nggak punya kekuatan, atau terbatas, harusnya dunia ini kacau.

Tapi kenyataannya?

Semua berjalan rapi. Tubuh kita bekerja tanpa kita suruh. Alam berjalan dengan aturan yang jelas. Berarti yang menciptakan… bukan sembarang.

Ibarat kamu pakai ponsel. Kalau ponsel kamu error sedikit aja, kamu langsung sadar:

“Ini ada yang nggak beres.”

Kalau aplikasinya tiba-tiba crash semua atau sistemnya kacau… kamu pasti yakin:

“Ini sistemnya bermasalah.”

Sekarang coba bandingkan. Ponsel aja rumit. Tapi masih terbatas.

Sedangkan dunia? Jauh lebih kompleks.

Tubuh manusia? Lebih rumit dari teknologi mana pun. Tapi tetap berjalan rapi. Berarti yang membuat sistem ini… pasti jauh lebih hebat.

Dia pasti: Maha tahu, Maha Kuat, dan Tidak Terbatas. Karena kalau terbatas… nggak mungkin bisa menciptakan sesuatu sebesar dan serapi ini.

Sekarang coba pikir lagi. Apakah mungkin Pencipta itu lebih dari satu? Kalau lebih dari satu… harusnya ada benturan.

Ibarat satu grup tugas. Kalau semua orang punya ide sendiri, punya kemauan sendiri, tanpa satu pemimpin… apa yang terjadi?

Berantakan.

Nggak selesai-selesai.

Apalagi kalau yang “ngatur” dunia ini lebih dari satu. Harusnya kacau.

Tapi kenyataannya?

Semua tetap teratur. Berarti… Pencipta itu satu.
Dan di titik ini… sebenarnya kita sedang mendekat ke sesuatu yang sudah lama kita kenal. Sesuatu yang sering kita dengar sejak kecil.

Allah.

Bukan sekadar nama. Bukan sekadar yang kita sebut di doa. Tapi… Dia adalah yang benar-benar menciptakan kita. Masalahnya… banyak dari kita mengenal Allah hanya sebatas tahu. Belum benar-benar dipahami. Belum benar-benar dipikirkan.

Ibarat kamu punya teman di sekolah. Kamu tahu namanya. Sering lihat orangnya. Mungkin pernah satu kelas. Tapi kamu nggak pernah benar-benar ngobrol.

Nggak tahu dia suka apa. Nggak tahu dia sebenarnya gimana. Nggak tahu dia lagi ngerasain apa.

Kalau ditanya, “kenal?” Kamu mungkin jawab, “iya.” Padahal sebenarnya… belum benar-benar kenal. Dan seringnya, kita seperti itu dengan Allah.

Kita tahu nama-Nya. Sering dengar. Sering sebut, tetapi belum benar-benar kenal. Padahal kalau kita benar-benar sadar bahwa Allah itu yang menciptakan kita… harusnya hidup kita berubah.

Karena berarti… kita ini bukan milik diri kita sendiri. Kita adalah milik-Nya. Dan kalau kita milik-Nya… harusnya kita hidup sesuai dengan yang Dia mau.

Tapi di sinilah tantangannya. Banyak orang berhenti hanya di “tahu”. Tidak lanjut ke “sadar”. Tidak sampai ke “tunduk”.

Padahal kalau dipikir… kalau kita pakai sesuatu, kita biasanya cari tahu cara pakainya dari siapa? Dari yang buat.

Ponsel rusak → tanya teknisi atau pabriknya.
Barang error → lihat buku petunjuknya.

Nggak mungkin kita pakai seenaknya. Lalu kenapa saat bicara soal hidup… kita malah merasa bisa jalan sendiri?

Tanpa bertanya kepada yang menciptakan kita?

Dan mungkin… inilah yang selama ini bikin kita capek. Bukan karena hidup kita terlalu berat.
Tapi karena kita berjalan tanpa benar-benar tahu harus ikut siapa.

Sekarang pertanyaannya bukan lagi:

“Apakah Allah itu ada?”

Tapi berubah jadi:

“Kalau Allah yang menciptakan aku… aku harus hidup bagaimana?”

Dan dari sini… pelan-pelan hidup kita akan mulai menemukan arah yang sebenarnya.

Renungan kecil:

🦋💕 Kalau kamu benar-benar sadar Allah yang menciptakan kamu, apakah kamu sudah hidup sesuai dengan yang Dia mau? 🦋💕

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 5

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *