Bertahan Tidak Pernah Sederhana

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM2

Penulis: Aksara Senja

CemerlangMedia.Com — Bertahan di tengah dunia yang telah berubah ini tidak pernah menjadi perkara sederhana. Bahkan, sejak dahulu, bertahan selalu menuntut perjuangan yang berat—terutama mempertahankan kewarasan dan keimanan. Dunia boleh berganti wajah, tetapi ujian untuk tetap teguh selalu hadir dalam bentuk yang berbeda.

Sejarah telah mengajarkan hal itu. Para sahabat Nabi dan orang-orang saleh terdahulu tidak pernah merasa aman dengan keimanannya sendiri. Mereka justru senantiasa memohon kekuatan dan keistikamahan karena mereka memahami satu hal penting: iman bukan sesuatu yang sekali dimiliki lalu selesai, melainkan sesuatu yang harus dijaga setiap hari. Allah ﷻ berfirman,

“Maka tetaplah engkau di jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu dan orang-orang yang telah bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas.” (QS Hud: 112).

Ayat ini turun bukan pada masa aman, tetapi pada masa penuh tekanan. Ia menegaskan bahwa istikamah adalah perintah yang berat, tetapi justru menjadi penentu keselamatan manusia.

Hari ini, ujian itu hadir dengan wajah yang lebih kompleks. Dunia menjadi makin keras, kriminalitas meningkat, dan batas antara benar dan salah kian kabur. Tekanan ekonomi, krisis mental, dan impitan hidup membuat sebagian manusia tergelincir ke jalan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Tidak sedikit yang runtuh karena jerat utang, ilusi kekayaan instan, gaya hidup semu, atau tekanan sosial yang tak manusiawi. Dalam dunia seperti ini, orang baik pun bisa terseret pada pilihan yang merusak dirinya sendiri.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Arus hedonisme, hegemoni budaya Barat, kapitalisasi kehidupan, dan sekularisme nilai membentuk cara pandang manusia terhadap hidup. Kebahagiaan direduksi menjadi kepuasan sesaat, keberhasilan diukur dengan materi, dan kebenaran dikembalikan pada selera pribadi. Ketika nilai-nilai ini dijadikan fondasi, menjaga iman dan kewarasan menjadi perjuangan yang melelahkan.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan beratnya jalan istikamah. Ketika seorang sahabat meminta nasihat singkat, beliau bersabda, “Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian beristikamahlah.” (HR Muslim).

Hadis ini tampak sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Sebab istikamah adalah ujian setelah iman diikrarkan. Ia menuntut konsistensi di tengah godaan, keteguhan di tengah tekanan, dan kesabaran di tengah dunia yang sering kali tidak berpihak.

Dalam dunia seperti ini, bertahan bukan berarti hidup tanpa luka. Bertahan adalah memilih tetap waras di tengah kegilaan, tetap beriman di tengah godaan, dan tetap manusia di tengah sistem yang kerap gagal memanusiakan manusia. Ia adalah perjuangan sunyi yang jarang terlihat, tetapi sangat bernilai di sisi Allah. Sebab Allah ﷻ menjanjikan:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka beristiqamah, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS Al-Ahqaf: 13).

Ayat ini bukan janji kehidupan tanpa masalah, melainkan jaminan ketenangan batin bagi mereka yang memilih tetap teguh meski jalan terasa berat.

Oleh karena itu, bertahan memang tidak pernah sederhana. Ia menuntut kesadaran, kesabaran, dan keberanian untuk terus berpihak pada kebenaran, meski dunia bergerak ke arah yang berlawanan. Namun, justru di tengah kerumitan inilah, manusia diuji bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk menemukan cara bertahan yang benar agar kelelahan tidak berubah menjadi keputusasaan dan luka tidak menjelma kehilangan iman.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 15

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *