#30HMBCM
Oleh: Cokorda Dewi
CemerlangMedia.Com — Perayaan Idulfitri telah berlalu. Akan tetapi, euforia suasana lebaran seharusnya tidak ikut berlalu. Perayaan Idulfitri tidak hanya sebatas perayaan kemenangan berpuasa, saling bermaaf-maafan saja, atau sekadar saling silaturahmi saja, dan makan-makan bersama. Perayaan Idulfitri seharusnya menjadi tonggak kesadaran umat muslim akan adanya peningkatan ketakwaan kepada Allah Swt..
Ketakwaan adalah wujud patuh, taat, dan mengikuti segala aturan-aturan Allah, menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Takwa adalah memiliki rasa takut kepada Allah dan mempersiapkan bekal (ihsanul amalan) untuk menghadapi masa penghizaban kelak. Dengan takwa, kita berlindung dari murka Allah. Menjaga ketakwaan adalah perintah Allah yang wajib diupayakan.
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan muslim.” (QS Ali Imran: 102).
Seorang muslim harus paham standar halal-haram sesuai dengan perintah dan larangan Allah. Kehidupannya selalu terikat pada syariat Allah. Seorang muslim yang bertakwa dituntut untuk selalu beramar makruf nahi mungkar. Saling mengingatkan dalam kebaikan, meskipun hanya paham pada satu ayat Al-Qur’an saja. Takwa seorang muslim bukanlah hanya sesaat. Akan tetapi, ketakwaan yang paripurna, selalu dijaga agar tetap menyala hingga akhir hayat.
Hidup dalam lingkup sistem yang ada saat ini, yaitu sistem sekuler kapitalisme, di mana urusan agama dipisahkan dari urusan kehidupan. Ketika agama sudah tidak dijadikan pedoman hidup dalam menjalani kehidupan, hanya dijadikan sebatas ritual ibadah saja, maka tak bisa dipungkiri bahwa saat ini kemaksiatan menjadi sebuah hiburan. Kemaksiatan menjadi sebuah kebiasaan umum yang tampak lumrah terjadi. Sulit untuk bertakwa sendirian ketika yang lainnya mendukung kemaksiatan.
Untuk itulah, momen perayaan Idulfitri seharusnya bisa dijadikan sebagai tonggak bagaimana meningkatkan ketakwaan berjemaah. Berhubung takwa tidak bisa dilakukan sendirian, maka harus ada dukungan lingkungan dan masyarakat, juga dari negara sehingga kita bisa istikamah menjaga ketakwaan bersama. Ketakwaan akan mendatangkan keberkahan dari Allah Swt.,
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS At Talaq: 2-3).
Ketakwaan juga akan membawa kita pada kemuliaan di sisi Allah.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS Al Hujarat: 1-3).
Peran ibu sebagai madrasah ula sangatlah penting untuk membentuk generasi pelopor peradaban yang beriman dan bertakwa. Bertakwa dilakukan atas dasar kesadaran dan keikhlasan. Seorang ibu tidak bisa bergerak sendirian dan butuh pembinaan serta berjemaah. Untuk dapat memahami takwa paripurna dalam Islam adalah melalui thalabul ilmi dan kemudian menyampaikannya kepada siapa saja, terutama dalam mendidik anak-anaknya sehingga dapat menciptakan lingkungan yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt..
Hal ini tidak lepas dari peran negara. Pemimpin punya wewenang sebagai pemilik kekuasaan, sudah seharusnya berhukum pada hukum Allah Swt., sebagaimana firman Allah dalam QS Al Ma’idah: 45, “Barang siapa yang tidak berhukum pada hukum Allah, adalah termasuk kaum yang zalim.”
Untuk itulah pentingnya menerapkan hukum-hukum Islam oleh negara dalam segala aspek kehidupan sehingga kita tidak termasuk kaum yang zalim serta dapat menciptakan suasana keimanan dan ketakwaan di tengah masyarakat, demi menyiapkan generasi pelopor peradaban dalam mewujudkan peradaban yang gemilang. Wallahu a’lam bisshawwab.
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 3






















