Fragmen yang Tersisa

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Fitri Sumantri

CemerlangMedia.Com, STORYTELLING — “Pada akhirnya, aku mengerti satu hal bahwa tidak ada yang lebih indah dari hidup ini, melainkan menemukan kebenaran. Namun, ketika dihadapkan pada dua pilihan, itu adalah fase di mana sesuatu menunggu diri untuk cukup berani. Bukan tentang ketakutan karena tidak lagi memiliki, tetapi kebiasaan yang perlahan mulai jadi rutinitas dan jujur, itu butuh waktu yang cukup untuk sekadar diputuskan.”

Tanpa kusadari, makin aku belajar, makin aku paham arah hidup sebagai generasi muslim. Yang cukup taat dengan apa yang diperintahkan Rabb-nya, bukan bersikeras menjadi lebih baik menurut versi manusia. Hanya saja, rasanya masih terlalu berat untuk memulai, bukan diri tidak ingin, tetapi lingkungan perlahan terasa asing. Dahulu nongkrong sama lawan jenis dianggap biasa dan setelah belajar, jadi tahu bahwa ternyata Islam memberi batas antara laki-laki dan perempuan. Pada dasarnya, laki-laki dan perempuan itu terpisah.

Satu persatu yang dipelajari, mulai kucoba untuk mengamalkannya. Namun setiap kuamalkan, aku selalu dihadapkan dengan berbagai pilihan. Pilihan kenyamanan yang perlahan sulit untuk dilepaskan, ketakutan tidak lagi mendapatkan yang cukup, serta suara-suara berisik yang mulai bermunculan dari grup kampus, seoalah Islam yang aku pelajari adalah kesesatan. Namun, pertengahan 2018, semenjak Kak Aini memutuskan untuk pergi, ibu kos yang cekcok dengan anaknya, membuat kami memutuskan untuk pindah tempat tinggal dan semuanya terasa tidak lagi senyaman dulu. Rumah makin sepi, kantor terasa asing, dan semacamnya.

Terkabulnya impian membuat aku sadar bahwa Allah punya cara tersendiri untuk mendekatkan hamba-Nya. Ada orang yang kembali pada-Nya dengan cara terluka dan kehilangan, ada juga orang yang kembali dengan kenikmatan yang diberi. Apa pun jalannya, tidak ada yang salah, sebab itu bukti bahwa Allah Swt. tidak pernah meninggalkanmu. Sadar atau tidaknya kita, bersedia mengambil cahaya itu atau justru tetap bertahan dengan kenikmatan dalam gelap, itu adalah pilihan sendiri.

Dan dalam kondisi apa pun, setan selalu punya celah untuk menggoyahkan hati. Sebab, hampir saja hari itu ia mengusik keinginanku untuk pergi dengan mempertemukanku dengan seorang laki-laki yang sudah beristri, tetapi cukup perhatian. Dia seolah merangkai cerita, menciptakan momen di mana aku dan dia kejar-kejaran layaknya anak-anak. Dia menawarkan untuk menetap. Meskipun sempat terbesit dengan ajakannya, tetapi aku kembali ingat pada kekosongan yang selama ini kucari, secercah cahaya yang tidak ingin lagi aku tinggalkan.

Meskipun ketika dihadapkan dengan pilihan, sebenarnya aku tidak lagi memilih jalan, tetapi justru memilih diriku sendiri dengan versi yang baru. Memang benar, jalanku yang sekarang terasa begitu aman, sebab jalannya sudah kukenali, jejaknya jelas, serta risikonya masih bisa kuatasi. Sedangkan di sisi lain, hal baru yang bisa saja begitu menggoda dan juga menakutkan. Kemungkinan baru akan terjadi, segalanya akan berubah, semuanya bisa jadi tidak pasti. Kedua pilihan itu kini memanggil dengan cara berbeda, satu dengan kenangan, satu dengan tantangan.

Ketika dihadapkan pada pilihan, waktu terasa pelan. Otakku kembali bising oleh pertimbangan yang kian hari terasa berat. Logika menghitung untung-rugi, takut pada komentar orang, padahal sebenarnya aku hanya butuh keberanian, berani merelakan segala hal yang telah dan yang akan terjadi. Sebab, hidup tidak terbentuk oleh keraguan, melainkan oleh keputusan yang kuambil dengan berani.

Kuhela napas panjang. Dengan memejamkan mata, kembali kusapa diriku dengan versi yang dulu. Kutanya padanya, apakah yang kau cari? Hidup bahagia menurut versi kebanyakan orang atau menemukan ketenangan dengan bahagia menjalani aturan Sang Penciptamu. Kuceritakan keraguanku pada Allah Swt. di sepertiga malam. Kutanya berkali-kali, “Apakah ini petunjuk-Mu untukku mendekat? Jika iya, berikanlah aku pekerjaan baru di tempat yang baru.

Dan sehari sebelum kepergianku, aku menerima pesan dari seorang teman yang kutemukan di kelompok kajian beberapa bulan lalu, dia menawarkan pekerjaan. Memang dengan gaji yang tidak sebanding dengan kerjaanku saat ini, tetapi aku pastikan semuanya akan Allah cukupkan. Yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah At-Talaq ayat 3, “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”

Jika dipikir, pilihan itu sebenarnya bukanlah mana yang terlihat lebih sempurna, tetapi mana yang membuat kita tumbuh menjadi versi lebih baik. Karena pada akhirnya, pilihan itu tidak hanya tentang ke mana kita melangkah, melainkan tentang siapa kita, seperti apa kita, menjadi apa kita setelah melangkah.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 3

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *