#30HMBCM
Oleh: Fitri Nur Laila
Bab 7 Pohon Keempat
CemerlangMedia.Com — RSJ Lawang bukan tempat yang nyaman untuk sarapan. Dindingnya berwarna hijau pucat, warna yang katanya menenangkan, tetapi bagi Dokter Wulan, justru mengingatkan pada lumut di kamar mandi kos lamanya. Jam baru menunjukkan pukul 06.15 WIB, tetapi lorong bangsal pria sudah ramai suara sandal diseret, gumaman, dan sesekali teriakan yang dipatahkan obat penenang.
Hari pertama dinas, Dokter Wulan, psikiater 29 tahun lulusan Universitas Airlangga, mendapat satu berkas dengan stempel merah: “PERHATIAN KHUSUS”. Nama pasien: Arga Pratama. Usia: 28 tahun. Diagnosis: Gangguan Kepribadian Antisosial dengan Waham Moralistik. Status: Non-verbal selama 2 tahun 11 bulan.
Catatan paling bawah, ditulis tangan oleh psikiater sebelumnya: Pasien tidak berbahaya secara fisik. Bahayanya ada di diamnya. Jangan bawa dia ke kebun jeruk tanpa pengawasan.
Kebun jeruk. Dua kata itu muncul tiga kali di berkas. Dokter Wulan menandai dengan stabilo kuning.
Pertemuan pertama terjadi di ruang terapi. Arga duduk di kursi besi, tangan di atas paha, punggung tegak. Rambutnya rapi, kukunya bersih, kaus rumah sakitnya tidak kusut. Tidak ada ciri pasien yang telantar. Matanya… itu yang membuat perawat senior selalu menyerahkan makan siangnya dari jarak dua meter. Mata itu tidak kosong. Mata itu penuh, seperti ruang sidang yang menunggu vonis.
Dokter Wulan membuka percakapan standar. “Pagi, Mas Arga. Saya Dokter Wulan. Mulai hari ini saya yang mendampingi.”
Tidak ada jawaban. Bahkan kedipan pun terukur.
“Saya baca berkas Mas. Boleh saya tahu kenapa Mas suka ke kebun jeruk?”
Arga menoleh. Bukan ke Dokter Wulan. Ke jendela. Di luar jendela, terhalang teralis, terlihat ujung-ujung daun jeruk. Kebun terapi RSJ, 20 pohon, warisan direktur lama yang percaya hortikultura menyembuhkan.
Sejak itu, setiap Selasa pukul 09.00, Arga mendapat “jatah kebun” satu jam. SOP: harus ditemani dua perawat, tidak boleh memegang alat tajam, tidak boleh memetik buah.
Dokter Wulan melanggar SOP di minggu ketiga. Dia minta ikut. Kepala perawat, Pak Joko, menggeleng. “Dok, pasien lain takut ke kebun kalau ada Mas Arga. Katanya, di sana ada ‘Arga yang lain,” desisnya.
“Maksudnya?”Dokter Wulan mengernyitkan dahi.
“Delusi kolektif, Dok. Pernah ada pasien yang teriak-teriak melihat orang hilang duduk di bangku, ngupas jeruk. Padahal cuma Mas Arga.”
Dokter Wulan tetap ikut. Dia tidak percaya hantu. Dia percaya trauma.
Di kebun, Arga berjalan tanpa ragu ke satu titik: bangku kayu di depan pohon keempat dari gerbang. Dia duduk. Diam. Menatap ke atas. Di dahan paling tengah, ada satu jeruk yang tidak pernah dipanen. Paling besar, oranye sempurna, tetapi ada bercak hitam sebesar koin di sisi yang menghadap timur. Seperti memar. Seperti lebam.
Perawat bisik-bisik, “Itu jeruknya Mas Arga. Sudah 8 bulan di situ. Kami mau petik, tetapi setiap mau dipetik, Mas Arga berdiri. Tidak marah. Cuma berdiri. Kami takut.”
Hari itu, 60 menit hanya diisi suara angin dan daun. Dokter Wulan duduk di bangku sebelah. Tidak mencatat. Tidak bertanya. Hanya mengamati. Arga tidak meliriknya sama sekali. Tetapi saat waktu habis dan perawat bilang, “Sudah, Mas”, Arga menoleh sepersekian detik ke Dokter Wulan dengan tatapan dingin. Seolah berkata,
Kamu lulus hari pertama.
Minggu keempat, Dokter Wulan bawa buku catatan.
Minggu kelima, dia bawa termos kopi. Dia minum sendiri.
Minggu keenam, dia bertanya.
“Kenapa pohon keempat?”
Untuk tiga detik, dunia rasanya berhenti. Lalu Arga menjawab. Suaranya kering, seperti kertas lama dibuka, tetapi utuh dan teratur. “Karena pohon keempat jujur,” ucapnya dengan tatapan kosong, tetapi hangat.
Dokter Wulan menahan tangan agar tidak gemetar saat menulis. “Jujur bagaimana, Mas?” ucapnya sambil diam-diam menelan salivanya.
“Pohon satu sampai tiga, kalau akarnya kena jamur, buahnya tetap manis. Menipu. Pohon lima sampai dua puluh, kalau batangnya digerogoti rayap, dia tetap memerah. Supaya dipetik. Supaya dikira sehat.” Arga menunjuk jeruk memar. “Pohon keempat, kalau sakit, buahnya memar. Dia bilang: aku sakit. Jangan makan aku kalau kamu tidak siap pahit.”
Dokter Wulan menulis: Waham moral. Proyeksi nilai kejujuran pada objek. Sistem kepercayaan internal kaku.Tetapi tangannya menulis, pikirannya lain. Sebab logika Arga… rapi. Terlalu rapi untuk disebut gila.
Malam hari, Dokter Wulan membongkar arsip kepolisian yang dilampirkan di berkas. Tiga tahun lalu, polisi menggerebek kos Arga di Kota Malang setelah tetangga lapor curiga: Arga tidak pernah keluar, tetapi tiap minggu ada kurir mengantar keranjang jeruk. Di kamarnya ditemukan 6 keranjang bambu. Masing-masing berisi satu jeruk. Besar, segar, tanpa cacat. Di bawah setiap jeruk, kertas kecil dilipat rapi. Enam nama:
1. Bambang S. – Mantan Kades, kasus korupsi dana desa.
2. Hendro W. – Suami yang selingkuh, istrinya gantung diri.
3. Farida A. – Jual tanah warisan adiknya tanpa izin.
4. Dr. Taufik. – Dokter yang memalsukan rekam medis, pasien meninggal.
5. Ustadz M. – Pengajar ngaji yang terbukti mencabuli santri.
6. Jono. – Ayah yang menelantarkan anak kandung, anak ditemukan di terminal.
Keenam orang itu dilaporkan hilang oleh keluarga dalam rentang dua tahun sebelum Arga ditangkap. Tidak ada mayat. Tidak ada TKP. Tidak ada jejak Arga di rumah mereka. Arga hanya mahasiswa filsafat DO yang bekerja sebagai admin gudang buah. Polisi buntu. Arga dijerat UU ITE karena “meneror” dengan mengirim jeruk dan nama, tetapi bebas karena bukti tidak cukup. Keluarga korban yang malu malah meminta Arga dirawat di RSJ.
Dokter Wulan menutup arsip. Pukul 01.23. Dia lapar, tetapi mual. Kasus Arga benar-benar membingungkan, menyedot pikirannya sampai lupa makan dan asam lambungnya naik.
Minggu kesepuluh. Jeruk memar di pohon keempat akhirnya jatuh sendiri. Pagi-pagi, perawat memungutnya, menaruh di meja perawat karena bingung mau diapakan. Takut dibuang, Arga marah. Takut dikasihkan, nanti jadi masalah.
Dokter Wulan mengambil alih. Dia bawa jeruk itu ke ruang terapi. Ditaruh di meja, pas di tengah, antara dia dan Arga.
“Makan,” katanya. Ini bukan SOP. Ini insting. Kalau dia psikopat klasik, dia tidak punya rasa jijik. Tidak punya asosiasi emosional pada objek. Dia akan makan apa saja tanpa ekspresi.
Arga menatap jeruk itu 20 detik. Lalu dia mengupas. Bukan pakai kuku. Pakai ibu jari, pelan, memutar. Kulitnya tersambung, melingkar seperti pita. Tidak putus. Itu butuh kendali motorik yang luar biasa sabar.
Dia bagi jeruk itu. Tepat 6 bulir. Dia makan satu. Mengunyah pelan. 1, 2, 3… sampai 30 kunyahan. Menelan. Baru dia dorong piring kecil ke arah Dokter Wulan.
“Giliran Anda.”
Jantung Dokter Wulan berlari. Ini melanggar semua kode etik. Tetapi dia sudah terlalu jauh. Dia ambil satu bulir. Kecil. Dia masukkan ke mulut.
Asam. Asam yang bukan asam buah. Asam yang seperti marah. Asam yang membuat rahang ngilu dan mata berair. Dia mau muntah. Tetapi setelah 5 detik, muncul manis. Bukan manis gula. Manis seperti… maaf yang akhirnya terucap. Manis seperti beban yang lepas.
Dia menelan. Tenggorokannya panas.
Arga bertanya, “Rasanya seperti apa, Dok?”
Dokter Wulan butuh minum. Tetapi dia jawab jujur, “Seperti… penyesalan yang terlambat.”
Arga mengangguk kecil. Hampir tak terlihat. “Tepat. Itu rasa mereka. Rasa Bambang, Hendro, Farida, Taufik, M, dan Jono. Saya tidak pernah bertemu mereka. Saya hanya titip jeruk. Lewat orang. Lewat mimpi. Lewat rasa bersalah mereka sendiri,” ucapnya datar dihiasi senyuman tajam.
“Terus mereka ke mana?” mata Dokter Wulan membulat, darahnya berdesir.
Arga menunjuk ke luar jendela. Ke kebun. “Lihat pohon nomor 7, 8, 9, 10, 11, dan 12. Mereka pohon muda. Usianya tiga tahun. Ditanam dua bulan setelah saya di sini.”Ucapnya dengan nada landai.
Dokter Wulan ingat data kebun. Benar. Tahun 2023, direktur baru meminta tambah enam pohon untuk terapi pasien. Tidak ada yang tahu siapa menanamnya. Tukang kebun bilang, “Sudah ada pas saya masuk.”
“Mereka nanam dirinya sendiri,” lanjut Arga. “Orang yang makan jeruk dari pohon keempat, dia tidak bisa bohong lagi ke dirinya sendiri. Rasanya terlalu pahit kalau di hati masih ada busuk. Jadi mereka memilih jadi pohon. Supaya berikutnya, kalau berbuah, buahnya jujur.”
Dokter Wulan mulai mimpi buruk. Setiap malam, dia di kebun. Langit merah. Dia berdiri di depan bangku. Di depannya bukan pohon keempat, tetapi pohon baru. Kecil, setinggi dada. Di dahannya ada satu jeruk. Masih hijau, tetapi sudah ada memar kecil.
Dia terbangun selalu pukul 03.14. Nafasnya memburu. Keringat dingin membasahi wajahnya.
Puncaknya hari Jumat. Dia masuk ruang kerja pagi-pagi. Di atas mejanya, ada keranjang anyam kecil. Di dalamnya, satu jeruk. Kulitnya oranye, ada memar. Di bawahnya, kertas kecil. Kosong. Tidak ada nama. Belum.
Dokter Wulan tidak lapor polisi. Tidak lapor direktur. Dia hanya mengambil surat cuti. Siang itu juga dia beres-beres dari kos. Dia minta pindah tugas ke RSJ Surabaya.
Sebelum pergi, dia ke kebun. Sendirian. Melanggar SOP lagi. Arga ada di sana, duduk seperti biasa. Pohon keempat sekarang gundul. Tidak ada buah. Tidak ada daun. Meranggas.
“Sudah sembuh,” kata Arga tanpa ditanya. “Sudah tidak jujur lagi. Jadi tidak perlu berbuah.”
Dokter Wulan menaruh keranjang berisi jeruk memar itu di bangku. “Ini punyamu!” wajahnya terlihat pucat pasi.
Arga melirik. Lalu tersenyum. Senyum pertama yang lebar. “Bukan, itu punya Anda, Dok. Tetapi kertasnya masih kosong. Artinya, Anda masih bisa memilih. Mau dimakan atau mau ditanam.”
Darahnya berdesir lebih cepat. Dokter Wulan berlari. Dia tidak mengambil keranjang itu.
Setahun berlalu. Dokter Wulan sudah di Surabaya. Tidak pernah ke Lawang lagi. Tetapi dia dengar kabar dari Pak Joko lewat WA.
[Dok, Mas Arga masih di sana. Masih ke kebun tiap Selasa. Pohon keempat mati, sudah ditebang. Tapi bangkunya masih. Anehnya, Dok, setiap ada pasien baru masuk, yang kasusnya nipu orang, korupsi, selingkuh, pasti H+3 dia ditemukan duduk di bangku itu. Diam. Tidak ada yang nyuruh. Terus Mas Arga bakal duduk di sebelahnya. Tidak ngomong. Cuma naruh satu hal di bangku: jeruk. Terkadang ada, terkadang tidak. Kami tidak tahu dia dapat dari mana. Kebun sudah tidak ada jeruk]
Dokter Wulan menutup chat. Dia buka laci mejanya. Keranjang kecil dari Lawang masih ada di sana. Jeruknya sudah kering, keriput, tetapi tidak busuk. Kertas di bawahnya masih kosong.
Malam itu, untuk pertama kalinya, dia ambil pulpen. Dia dekatkan ke kertas.
Tangannya berhenti.
Di luar jendela kosnya, entah kenapa, ada bau jeruk. Padahal dia di lantai 4, di tengah kota.
[Catatan Penutup dari Dokter Wulan, ditulis di jurnal pribadi]
Psikopat biasanya tidak punya empati. Arga berbeda. Dia empati terlalu banyak, sampai dia muak. Dia tidak membunuh tubuh. Dia membunuh kebohongan. Senjatanya bukan pisau. Senjatanya rasa. Rasa jeruk yang jujur.
Dia tidak gila. Dia hanya… waras di waktu yang salah. Di dunia yang terbiasa makan buah manis dari pohon busuk, pohon yang berani memar justru dianggap penyakit.
Aku tidak tahu apakah enam orang itu benar-benar jadi pohon. Polisi bilang mereka kabur ke luar negeri. Mungkin. Tetapi aku lebih percaya Arga.
Dan kertas kosong di mejaku? Aku belum tulis nama. Bukan karena aku suci. Karena aku takut. Takut rasanya. Takut bahwa sekali makan jeruk itu, aku tidak bisa lagi pura-pura tidak tahu betapa busuknya aku.
Jadi aku tanya kamu yang membaca sampai sini: kalau suatu pagi kamu temukan keranjang di meja kerjamu, isinya jeruk memar dan kertas kosong… kamu tulis nama siapa?
Atau kamu, seperti aku, memilih tidak memakannya dan membiarkan jeruk itu kering sambil berharap tidak ada yang menuliskan namamu di kertas orang lain?
Pohon keempat sudah ditebang. Tetapi bangku kayunya masih ada. Dan Arga masih bertanya ke setiap orang baru.
“Mau jeruk?”
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 3






















