#30HMBCM
Oleh: Fitri Nur Laila
Bab 11 Sebutir Jeruk, Sebakul Syukur
CemerlangMedia.Com — Namaku Yusuf. Umurku 32 tahun. Pekerjaanku menjaga kebun wakaf milik masjid di kaki Gunung Arjuno. Dua hektare tanah, dua ratus pohon Keprok Batu 55, dan satu langit yang kadang lupa menetes.
Tiga tahun yang lalu, kebun ini ramai. Daunnya rimbun, bunganya harum, buahnya bergelantungan seperti lentera kecil. Setiap Jumat, keranjang-keranjang kami penuh. Tiga ratus, lima ratus kilo kami timbang, kami bungkus, kami antar ke tangan anak yatim, janda, santri, marbot. Aku yang mengikat plastiknya, aku yang melihat senyuman mereka, aku juga yang pulang dengan punggung pegal, tetapi dada terasa lapang.
Lalu datang kemarau 2024, delapan bulan langit berpuasa. Mata air di bawah langgar menyusut sampai tinggal sedikit. Daun jeruk menguning, lalu cokelat dan jatuh. Bunga gugur sebelum sempat jadi pentil. Panen raya tahun itu gagal. Sunyi.
Dari dua ratus pohon, yang berbuah hanya satu. Pohon paling ujung, paling kecil, paling sering lupa kusiram karena selangnya tidak sampai. Akarnya dangkal, batangnya kurus. Tetapi ia yang berbuah. Sembilan biji. Tidak sepuluh, tidak delapan. Sembilan, seperti jari yang kurang satu.
Malam Jumat pertama setelah almanak panen kami coret, aku duduk di bawah pohon itu. Tanahnya kering, retaknya seperti peta nasib. Aku marah, tetapi marahku tidak punya suara. Malu, tetapi maluku tidak punya tempat sembunyi. Besok, jemaah akan datang, akan bertanya, “Mana jeruknya, Pak Yusuf?” Apa jawabku?
Aku menengadah. Langit gelap, tidak ada bintang, tidak ada bulan. Hanya gelap yang jujur. Aku berbisik, suaraku pecah, “Ya Allah, kebun ini wakaf. Jeruk ini untuk umat-Mu. Kenapa Engkau ambil semua? Kenapa sisa sembilan? Cukup untuk siapa sembilan biji ini? Cukup untuk maluku?” pilu menyergap batinku begitu saja.
Angin malam lewat, membawa bau debu, membawa suara daun kering, membawa diam. Tidak ada mukjizat. Tidak ada hujan susulan. Hanya sembilan jeruk, diam, menggantung seperti pertanyaan yang tidak aku tahu jawabnya.
Subuh, terdengar langkah pelan mengetuk tanah. Tampak tongkat, sandal, dan jubah. Kyai Hambali, takmir berusia 70 tahun, datang ke kebun. Wajahnya seperti kayu tua, garis-garisnya banyak, tetapi matanya bening seperti air wudhu.
Kyai Hambali berhenti di bawah pohon satu-satunya. Menghitung dengan telunjuk, pelan, seperti takut salah. “Sembilan,” katanya. Suaranya tidak kaget, tidak sedih. Datar, seperti azan.
Aku mengangguk, tenggorokanku kering. “Nggih, Yai. Mboten cukup. Kula wirang. Kula ajrih dipunsalahke,” ucapku seraya menunduk.
Kyai Hambali duduk di akar. Tasbihnya berputar, bijinya bunyi, pelan, seperti detik. “Yusuf,” katanya, “Siapa yang ngasih buah pada pohon ini?” sorot matanya terlihat teduh.
“Allah, Yai,” jawabku cepat, seperti anak TPQ.
“Siapa yang menahan buah di seratus sembilan puluh sembilan pohon lainnya?” lanjut Kyai Hambali.
Aku diam. Pertanyaan itu berat, seperti karung basah. Tenggorokanku tercekat, seperti ada biji jeruk nyangkut. “…Allah juga, Yai,” jawabku lirih.
Kyai Hambali tersenyum. Senyumnya tidak lebar, tetapi cukup untuk menerangi kebun. “Kalau begitu, yang sembilan ini juga dari Allah. 199 yang kosong, juga dari Allah. Tugas kita bukan protes jumlahnya, Le. Tugas kita menaati caranya. Tugas kita memetik, lalu membagikan. Cukup tidak cukup, itu hisab-Nya. Ikhlas tidak ikhlas, itu hisab kita.”
Aku ingin membantah. Mau bilang, “Yai, nanti saya diomeli jemaah. Nanti dibilang saya makan sendiri.” Tetapi aku ingat, tanah ini dulu milik Kyai Hambali. Ia yang wakafkan saat anaknya meninggal. Ia yang bilang saat serah terima, “Kebun ini bukan milik masjid. Milik Allah. Masjid hanya disuruh jaga. Kita hanya disuruh mengantar.”
Aku petik kesembilan jeruk itu. Tanganku gemetar, bukan karena berat. Karena ringan. Terlalu ringan untuk disebut panen. Ini bukan panen, ini ujian. Dan aku tidak belajar.
Kiai Hambali minta daftar. “Siapa yang paling butuh minggu ini, tuliskan. Jangan pakai kira-kira, pakai hati…,” ucapnya pelan.
Aku dan Bu Mar, ketua muslimat, duduk di teras. Menulis di kertas buram memakai pensil.
1. Mbah Satin, janda, sakit gula, anaknya di Kalimantan, kadang kirim uang, tidak pernah pulang.
2. Dek Galang (6), yatim, HB tujuh, kulitnya kuning, sering pingsan di TPQ, katanya butuh yang segar.
3. Pak Karso, tukang becak, baru stroke ringan, tangan kiri mati, becaknya dijual buat berobat.
4. Bu Yuni, janda, anak tiga, buruh petik apel, tetapi apel juga gagal panen, jadi pengangguran.
5. Nayla (9), santri tahfiz, ibunya meninggal bersama adiknya saat melahirkan.
6. Mbah Dir (78), marbot, yang selama kemarau tetap azan lima waktu, suaranya serak, tetapi tidak bolong.
7. Lek Mun, difabel netra, penjual kerupuk keliling, katanya, “Bumbu kerupukku kurang, Le. Orang tidak mau beli.”
8. Dek Fajar (8), gizi buruk, bapaknya kabur, ibunya TKW di Malaysia, pulangnya tidak tahu.
9. Bu Lastri, guru ngaji, tiga bulan tidak gajian karena kas TPQ kosong, tetapi ngajinya jalan terus.
Sembilan nama. Sembilan biji. Pas, seperti sudah ditakar malaikat. Aku merinding, tetapi tak berani berucap.
Aku bungkus satu-satu. Plastik bening, karet gelang merah. Tidak ada beras, tidak ada mi. Hanya jeruk. Satu biji per orang, per rumah, per nasib.
Tanganku malu saat menyerahkan ke Mbah Sati. “Ngapunten, Mbah. Namung angsal setunggal. Kebune gagal.” Senyummu terasa getir.
Mbah Sati menerimanya dengan dua tangan, seperti menerima mushaf. Diciumnya jeruk itu, lama, lalu matanya basah, tetapi tidak sedih. “Alhamdulillah, Le. Wis rong wulan Mbah nggak ngrasakke sing kecut seger. Lambeku pait. Iki tombo. Matur nuwun Gusti Allah. Matur nuwun kowe, Le.”
Dek Galang melonjak, tidak pingsan. “Yee! Jeruk! Bu Dokter bilang aku kurang vitamin! Ini vitamin, Bu!” Ia gigit, kulitnya sekalian, bijinya dilepeh. Ibunya ketawa, air matanya ikut.
Pak Karso menerima di atas kursi roda, hanya tangan kanannya yang bisa bergerak. “Iki tombo, Yusuf. Aku wis suwe nggak ngerasakke seger. Stroke iki pait. Mugo-mugo sing nandur entuk pahala, sing ngeterno seger waras.”
Sembilan orang. Sembilan pintu. Sembilan kali alhamdulillah. Tidak ada yang bilang “kok cuma”. Tidak ada yang timbang. Tidak ada yang hitung.
Aku pulang melewati masjid. Masuk dan bersujud lama. Malu. Selama ini aku menghitung nikmat pakai kalkulator, pakai kilo, pakai truk. Kurang sedikit, aku marah, aku protes pada Allah. Mereka menghitung nikmat memakai hati, memakai lidah, dan air mata. Mendapat sedikit, mereka pulang membawa langit.
Malamnya, aku tidak tidur. Aku ambil Al-Qur’an warisan bapak, sampulnya kulit, pinggirnya menguning. Kubuka, jatuh di pangkuan, terbuka sendiri. Ayatnya seperti menunggu aku.
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Ibrahim: 34)
Aku baca, ulang, ulang lagi. Tidak akan mampu menghitungnya? Aku ini apa? Tukang timbang. Allah suruh hitung yang ada, aku hitung yang tidak ada. Allah kasih sembilan, aku minta tiga ratus. Dan Allah kasih senyum Mbah Sati.
Aku buka lagi halaman berikutnya dan mengena di hatiku lagi.
“Dan sungguh akan Kami beri cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 155)
Kekurangan buah-buahan. Ini. Namaku ada di sini, tetapi aku tidak membaca. Dan berikanlah kabar gembira. Kabar gembiranya apa? Kuhela napas panjang dan menghembuskannya pelan.
Aku baru paham, jeruk itu bukan rezeki. Senyum setelah menerima jeruk itu rezekinya. Tanganku yang sampai ke mereka itu ibadahnya. Dadaku yang tidak protes itu pahalanya. Sabarku itu timbangannya.
Sejak hari itu, aku lihat jeruk seperti kitab. Setiap bagiannya ayat.
Kulitnya tebal, pahit, pori-porinya besar. Itu sabar. Pahit di lidah, tetapi ia yang menjaga isinya tidak busuk. Allah tidak langsung kasih manis. Dia kasih kulit dulu, biar kita belajar menahan, belajar tidak buru-buru, belajar tidak manja. Kulit itu doa: “Ya Allah, jagakan hatiku sampai waktunya.”
Selaputnya putih, tipis, membungkus bulir. Itu syukur. Tidak dimakan, sering dibuang, padahal ia yang pegang bulir biar tidak berantakan. Syukur itu begitu. Tidak enak, tetapi tanpanya, nikmat pecah, tidak utuh.
Bulirnya kecil-kecil, berjejer, bening. Itu nikmat. Datang tidak pernah sendiri. Selalu rombongan. Satu biji jeruk ada delapan, ada dua belas bulir. Artinya, dalam satu pemberian Allah, ada rincian yang tidak kita sebut. Air, vitamin C, serat, manis, asam, wangi, obat sariawan, teman dahaga. Kita bilang “satu jeruk”. Langit hitung “dua belas nikmat”. Kita tidak pernah mengatakannya.
Bijinya keras, kecil, pahit, sering dilepeh. Itu ujian. Tidak enak, tetapi dari situ tumbuh pohon baru. Sembilan jeruk kemarin, bijinya kusemai di polibag. Jadi 27 bibit. Pahit yang ditanam, sabar yang disiram, nanti jadi manis lagi.
Rasanya manis tidak pernah sendiri. Selalu ada asam. Itulah hidup. Allah tidak berjanji dunia ini seperti gula. Tetapi Dia janji, di setiap asam ada manisnya, di setiap pahit ada obatnya.
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah: 5-6).
Dua kali disebut agar kita selalu ingat.
Kemarau pergi, hujan pun datang, tak ada marah ataupun dendam. Pelan, seperti maaf. Tanah- tanah retak menutup, mata air berbisik lagi. 199 pohon bertunas, malu-malu, lalu berani. Bunga bermunculan, putih, wangi, seperti kabar baik. Pentil jadi buah, buah jadi besar.
Panen tahun ini, kata dinas, tujuh ton. Karung-karung lagi, timbangan lagi, jemaah lagi. Tetapi aku tidak berani takabur. Takut lupa.
Setiap Jumat, sebelum membagi, aku ke pohon satu-satunya yang dahulu berbuah sembilan. Sekarang ia biasa saja, buahnya sama seperti yang lain. Tetapi bagiku, ia guru. Aku tempelkan kening di batangnya, kasar, hangat. Aku berbisik, “Matur nuwun. Kamu yang ngajari aku ngitung. Kamu yang ngajari aku cukup.”
Sembilan nama itu kutulis di dinding gudang, pakai kapur. Di bawahnya kutulis QS Ibrahim: 34. Biar yang menimbang setelahku tidak sombong. Biar ingat, tugas kita bukan banyak, tetapi sampai.
Kemarin Mbah Sati dipanggil. Umur delapan puluh empat. Sebelum dikafani, anaknya dari Kalimantan telepon, suaranya jauh. “Pak Yusuf, Ibu titip pesan. Katanya, kirim salam buat jeruk satu biji dari masjid. Itu buah terakhir yang bikin Ibu seger, yang bikin Ibu kuat sampai anak pulang. Ibu wis ikhlas.”
Aku tutup telepon. Ambil satu jeruk dari keranjang, yang paling bopeng. Kupas, tidak kumakan. Kutaruh di tanah, di bawah pohon itu. Kembali ke pemiliknya. Kembali ke tanah, kembali ke langit.
“Ya Allah, yang menumbuhkan jeruk dari tanah kering. Yang menahan buah di 199 pohon. Yang menitipkan 9 di satu pohon. Ajarilah aku menghitung nikmat, bukan kekurangan. Ajarilah aku melihat 9 sebagai utuh, bukan sebagai kurang dari 300. Ajarilah aku paham bahwa sebutir jeruk di tangan Mbah Sati, lebih berat di sisi-Mu daripada satu truk yang busuk di gudang karena lupa dibagi.”
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya.” (QS Ad-Dhuha: 11).
Maka kusebut, ya Rabb:
Alhamdulillah untuk sembilan.
Alhamdulillah untuk yang tidak jadi 300, sebab kalau 300, mungkin aku lupa sujud.
Alhamdulillah untuk marahku yang Kau tegur dengan senyum Mbah Sati, bukan dengan azab.
Alhamdulillah untuk ayat yang Kau jatuhkan di pangkuanku tepat di malam aku hampir kufur nikmat.
Alhamdulillah untuk kulit yang pahit, yang mengajariku sabar.
Alhamdulillah untuk biji yang pait, yang mengajariku tanam lagi.
Alhamdulillah untuk asam, sebab tanpanya, manis tidak tahu namanya.
Karena sekarang aku tahu, ya Allah:
Jeruk dari-Mu tidak pernah sedikit.
Yang sedikit itu syukurku.
Yang kecil itu dadaku.
Yang sempit itu hitunganku.
Selama pohon itu masih berdiri, selama ayat itu masih kubaca, aku akan terus membagi. Satu biji atau satu ton, bagiku sama. Sebab timbangannya bukan di dacin.
Timbangannya di Engkau, ya Rabb.
Dan Engkau Maha Tahu, siapa yang butuh asam hari ini, siapa yang butuh manis besok, dan kapan keduanya harus datang bersamaan agar hamba-Mu tidak kufur, tidak sombong, tidak lupa pulang.
Maka jika besok Engkau uji lagi dengan kekurangan buah-buahan, jangan ambil sabarku.
Jika besok Engkau beri lagi tujuh ton, jangan ambil syukurku.
Cukupkan aku di angka-Mu, bukan angkaku.
Cukupkan aku di alhamdulillah, bukan di andai.
Sebab sebutir jeruk,
kalau Kau ridai,
bisa jadi sebakul syukur.
Dan sebakul syukur,
cukup untuk hidup,
cukup untuk mati,
cukup untuk temu Engkau,
tanpa malu.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 8






















