#30HMBCM
Oleh: Shunink
CemerlangMedia.Com — “Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menelantarkannya. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (HR Muslim).
“Bun…,” panggil Ayah.
Suasana yang sempat tegang antara Bunda dan She, seketika itu buyar karena Ayah sudah kembali bersama Ayya, Azzam, dan Rosyid.
“Ya…,” sahut Bunda yang beberapa detik sempat larut dalam pikir tentang langkah yang hendak dia ambil untuk menyelesaikan problem yang dialami oleh She.
“Kita balik sekarang, ya? Keburu petang, nanti terjebak macet,” ajak Ayah.
“She sudah baik-baik saja, kan?” tanya Ayah.
“Insya Allah, Yah…,” jawab She.
Bunda pun segera merapikan barang dan makanan bawaannya, dibantu oleh Rosyid, adik She yang kedua.
She pun merapikan beberapa snack dan barang keperluannya yang dibawakan oleh Bunda.
“She baik-baik di sini, ya? She anak yang kuat, Ayah percaya itu. Fokus saja untuk belajar dan memperbaiki diri, yang lain hanya selingan saja,” ucap Ayah memberi support system pada anaknya tanpa dia tahu apa sebenarnya yang dialami oleh She.
Mendengar hal itu, She tersenyum dan berkata, “Insya Allah, Ayah.”
Bunda hanya diam menyaksikan sepenggal moment yang diukir oleh Ayah dan anak gadisnya.
“Kami pamit dulu ya, She. Insya Allah, Ahad pertama bulan depan, Ayah akan ke sini lagi bersama Bunda dan adik-adik,” ucap Ayah dengan lembut.
She hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Sudah, kamu masuk saja. Sudah hampir Ashar, segera bersih diri dan salat berjemaah,” saran Ayah.
“Ayah, kenapa harus pulang sekarang, sih? Kan waktunya masih ada…,” rengek She.
Hal yang ingin dihindari oleh Ayah, akhirnya dihadapi juga, ‘rengekan’.
“Kami harus menempuh perjalanan dua jam dan mobil ini… milik teman Ayah. Ayah dipinjami cuma-cuma dan dia bersedia mengantar pun gratis. Maaf, She. Jika terlalu petang, Ayah tidak enak hati sama teman Ayah,” ungkap Ayah.
Seketika itu, She memasang muka masam. Melihat hal itu, Bunda pun hanya diam. Dalam benak Bunda, hanya ingin bertemu dengan Musyrifah She, Ustazah ‘Aini dan segera mendapat kejelasan terkait problem yang dihadapi oleh She.
Untuk kedua kalinya, She mencium punggung tangan kedua orang tuanya, kali ini diiringi dengan tetesan air mata. Ayah hanya memeluk anaknya dan berusaha menguatkannya, “She, Allah memilihmu di sini berarti kamu pasti bisa survive. Ayah dan Bunda akan selalu mendoakanmu.”
Tidak ada respons dari She terkait apa yang telah dikatakan oleh Ayah. Setelah memeluk Ayahnya, She memeluk Bunda. Bunda tidak mengucapkan apa pun, ia hanya mengelus kepala dan mencium kening She. She pun bersalaman dengan adik-adiknya.
Tidak ada kalimat yang keluar dari lisan She, dia hanya menangis dan berbalik tubuh lalu berjalan menuju asrama putri.
“Ayah, tunggu sampai selesai salat Ashar, Bunda mau ketemu Ustazah ‘Aini untuk bicara. Tadi kami sudah saling kirim pesan dan membuat janji, ba’da Ashar,” bisik Bunda pada Ayah.
“Ya, tadi aku sudah ketemu di depan, beliau mencarimu dan menyampaikan pesan yang sama,” kata Ayah.
Ternyata jam pulang dimajukan lebih awal oleh Ayah, sebab Bunda harus bertemu dengan Ustazah ‘Aini untuk membicarakan She.
…
“Assalamualaikum, Ustazah…,” sapa Bunda di depan ruang asatidzah.
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, silakan masuk, Bunda…,” sahut Ustazah ‘Aini dengan ramah.
“Silakan duduk,” imbuhnya.
“Afwan ya, Ustazah…, jika mengganggu waktu liburnya,” kata Bunda dengan kerendahan hati.
“Masya Allah, tidak Bunda. Justru saya senang bisa bertemu dan sharing dengan wali santri. Saya juga sangat menunggu timing seperti ini,” ucap Ustazah ‘Aini.
“Iya…. Bagaimana tadi saat ngobrol sama Kak She?” tanya Ustazah ‘Aini.
“Saya bingung dengan semua yang dia sampaikan, sebenarnya ada masalah apa? Saya tanya ke She, jawabnya tidak tahu. Tetapi sampai ada syuro dan dia meminta maaf pada santriwati yang lain. Sebenarnya, seserius apa masalahnya?” ungkap Bunda.
“Hemm. Jadi, Kak She menjelaskan seperti itu?” ucap Ustazah ‘Aini sambil tersenyum.
“Iya, tolong diperjelas Ustazah, sebenarnya ada masalah apa?” Bunda mulai ketar-ketir dengan fakta yang terjadi.
“Sebelumnya, kami minta maaf, Bunda. Di pondok pesantren kami, memang jika ada masalah di dalam pondok, sebisa mungkin tidak memberi atau berbagi kabar dengan wali santri. Jadi, kami berusaha menyelesaikannya sendiri bersama anak-anak yang bersangkutan sampai masalah ini terurai dan terselesaikan,” jelas Ustazah ‘Aini.
Mendengar penjelasan dari Ustazah ‘Aini, Bunda mengernyitkan dahi karena merasa terganggu dengan prinsip pondok yang tidak berbagi kabar terkait permasalahan yang dialami santri dan pondok akan menyelesaikan sendiri tanpa harus melibatkan wali santri.
“Nah, Kak She ini pernah mencuri. Dia mencuri cemilan temannya, dia berani membuka almari teman sekamar dan mengambil cemilan yang bukan haknya,” ungkap Ustazah ‘Aini.
Seketika Bunda terkejut dengan fakta yang didengarnya. Antara percaya dan tidak, justru yang muncul dalam pikiran Bunda, apa yang membuat She nekad mencuri cemilan, bukankah setiap bulan dikirimi cemilan dan uang saku.
“Jadi, saya secara pribadi sebenarnya ingin menyampaikan, kalau bisa, Kak She jangan dibatasi, Bunda,” kata Ustazah ‘Aini.
“Dibatasi…, maksudnya dalam hal apa, Ustazah?” tanya Bunda bingung.
“Terkait keinginannya untuk berbelanja, seperti beli snack. Karena di kantin pondok, dibolehkan kredit dahulu dan diselesaikan saat wali santri menjenguk,” jawab Ustazah ‘Aini.
Bunda mulai tak habis pikir dan heran dengan kebijakan pondok pesantren Al Imaani tersebut. Kebijakan yang baru saja diketahui olehnya dan hal itu cukup membuat Bunda merasa tersinggung dan di sisi lain, dia dibuat heran dengan fakta yang ada.
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 8






















