#30HMBCM
Oleh: Fitri Nur Laila
Bab 10 Misi Jeruk: Operasi MBG Toyomarto
CemerlangMedia.Com — Alarm telepon genggam Bu Lastri berbunyi “MBG Day 127″. Di luar langit masih gelap. Ayam di kandang belum berkokok. Akan tetapi, di Dapur Umum MBG Kecamatan Singosari, lampu 40 watt sudah menyala semua. Hari ini ada 1.350 paket untuk lima SD. Menunya: nasi putih, semur telur, oseng kacang panjang, susu kedelai, dan buah. Di kolom buah tertulis: 1.350 biji Jeruk siyem madu.
Bu Lastri membuka grup WhatsApp “MBG x Petani”. Ia mengetik, “Tim Jeruk, bagaimana? Aman?”
Lima detik kemudian, centang biru dua muncul.
Pak Wito: “OTW Dapur, Bu. 700 biji. Masih segar baru dipetik tadi malam.”
Mbak Lia: “400 biji aman sekarang sedang sortir.”
Pak Sarman: “250 biji. Plus cadangan 50 kalau ada yang memar.”
Totalnya 1.350. Pas.
Ini bukan sekadar angka, ini misi. Jika buah terlambat, paket terlambat, anak terlambat makan, guru protes, dan laporan ke dinas menjadi merah.
Pak Wito menjalankan pick up tuanya pelan-pelan. Jalanan desa masih berbatu dan licin karena embun. Di bak ada 14 keranjang bambu yang ditutup daun pisang agar jeruk tidak memar. Ia ditemani Rani, anaknya, yang kini menjadi “manajer lapangan”.
Tiba-tiba, dug! Ban belakang menghantam lubang. Pick up oleng, satu keranjang hampir terjatuh. Rani refleks menahan dengan badannya.
“Pak! Berhenti!” Teriak Rani dengan hati berdegup kencang.
Mereka memeriksa. Tiga jeruk penyok. Gagal masuk MBG. Standar MBG memang ketat, tidak boleh lecet, tidak boleh terlalu kecil, dan rasanya harus manis. Sebab, anak SD adalah juri paling jujur. Jika rasanya masam, besok kotak makan akan kembali utuh.
Pak Wito mengambil telepon genggam, lalu menghubungi Mbak Lia. “Lia, saya kurang tiga biji. Bisa tambah?” katanya gusar.
Mbak Lia menjawab, “Sisa 47, Pak. Ambil saja! Saya taruh di depan rumah.”
Misi pun selamat. Inilah serunya MBG. Jika satu petani tergelincir, petani lain menahan. Namanya “Sistem Tanggung Renteng”.
Di SDN Toyomarto 02, kelas 3B, kotak makan berbahan baja tahan karat dibuka bersamaan saat bel istirahat berbunyi.
“Yeeey jeruk!” teriak Nayla sangat senang. Ia mengangkat jeruknya tinggi-tinggi. “Ini dari kebunnya Pak Wito! Ada titik putihnya!”
Fajar yang biasanya hanya makan nasi dan telur, hari ini menggigit jeruk lebih dahulu. Matanya membelalak. “Bu Indah, manis! Tidak seperti jeruk di mal yang masam.”
Bu Indah, wali kelas, tersenyum tipis sambil menandai daftar periksa: Konsumsi buah: 33 dari 35 siswa = 94%. Bulan lalu hanya 60%. Mengapa naik? Karena anak-anak sekarang hafal: “Kalau jeruk MBG, pasti manis. Soalnya Pak Wito yang menanam.”
Di pojok kelas, ada Galang. Badannya paling kecil. Dulu, setiap bulan ia ke UKS karena lemas. Sejak MBG berjalan tujuh bulan, berat badannya naik 3,2 kg. Rapor UKS mencatat: HB naik dari 9 ke 12. Ibunya mengirim pesan WhatsApp kepada Bu Indah semalam. “Bu, Galang sekarang, setiap pulang sekolah bertanya, ‘Besok, jeruknya dari Pak Wito lagi tidak?’ Dia tidak pernah semangat makan buah sebelumnya.”
Tanpa pemberitahuan, Tim Dinas datang ke SDN Dengkol 01. Mereka membuka lima kotak secara acak. Suhu nasi dicek menggunakan termometer. Susu diperiksa kemudian mereka mengambil jeruk.
Kepala Bidang Gizi menggigitnya. Mengunyah. Diam. Lalu bertanya kepada kepala sekolah, “Ini jeruk dari mana?” sorot matanya berbinar.
“Dari petani Toyomarto, Pak. Namanya Pak Wito dan Mbak Lia. Radius 4 km dari sekolah.”
Kabid mengangguk. Ia menulis di berita acara: Buah: layak, rasa manis, ukuran seragam, dapat dilacak ke petani. Nilai: 95.
Siang harinya di grup WhatsApp dinas, kabid mengunggah foto jeruk dibelah. Takarirnya: “Ini contoh MBG berhasil. Bukan cuma kenyang. Anak doyan, petani jalan. Tolong kecamatan lain ATM: Amati, Tiru, Modifikasi,” tegasnya.
Pak Wito duduk di gubuk kebun, membuka buku tulis. Buku itu isinya bukan puisi, melainkan angka.
– Setor MBG Juli: 28.400 biji x Rp2.500 = Rp71.000.000
-Biaya pupuk, tenaga, plastik: Rp23.000.000,
sisanya: Rp48.000.000
“Ran,” panggilnya kepada Rani. “Bulan ini kita bisa melunasi cicilan motor, membayar kuliahmu, dan sisa untuk menambah 100 bibit. Tahun lalu, dapat uang segitu harus jual ke tengkulak empat bulan.”
Manfaat pertama, ekonomi berputar di desa. Uang MBG tidak lari ke luar kota. Menjadi batako, menjadi SPP, menjadi bibit baru.
Rani membuka telepon genggam, menunjukkan Instagram Story anak SD: foto jeruk dibelah, takarirnya “Thx Pak Wito, jeruknya moodbooster banget!”
Manfaat kedua, anak mengenal petaninya. Psikologinya berbeda. Makanan jadi ada wajahnya. Namanya “efek empati pangan”. Anak jadi tidak membuang makanan. Sampah MBG turun 40% sejak memakai buah lokal bernama.
Malamnya, Bu Lastri merekap data gizi dari Puskesmas:
-Siswa kurang energi kronis: turun 9% dalam enam bulan.
-Kasus sariawan dan gusi berdarah: turun 22%. Penyebabnya? Vitamin C jeruk 70 mg/biji + dikonsumsi rutin lima kali seminggu.
-Kehadiran siswa: naik 11%. Kata kepala sekolah, “Anak-anak semangat datang karena penasaran menu hari ini apa.”
Manfaat ketiga: gizi yang terasa. Bukan hanya angka AKG. Anak sehat, masuk kelas, belajar.
Karang Taruna Toyomarto rapat di balai. Agendanya: “Setelah MBG, terus bagaimana?”
Rani mengangkat tangan. “Kita buat ‘Wisata Petik Jeruk MBG’. Anak kota bayar Rp20.000, boleh petik 1 kg, lalu ditempeli stiker: ‘Calon Jeruk MBG’. Biar mereka tahu, jeruk yang dimakan adik-adiknya di SD itu asalnya dari sini.”
Ketua Karang Taruna mengetuk meja. “Gas!”
Tiga bulan kemudian, bus pariwisata parkir setiap Sabtu. Hasilnya? Pendapatan kebun naik lagi. Pak Wito dipanggil Dinas Pertanian menjadi pembicara: “Dari Nyaris Ditebang ke Rantai Pasok MBG”.
Itu manfaat keempat: MBG memancing ekosistem. Dari program makan, menjadi agrowisata, menjadi edukasi, menjadi lapangan kerja.
Pukul 04.15, Mbak Lia datang membawa 400 biji jeruk. Ia dan dua anggota KWT sudah sortir sejak subuh. Kriterianya: diameter minimal 5 cm, kulit mulus, tangkai pendek, dan saat ditekan terasa padat. Yang tidak lolos? Dibuat selai jeruk untuk dijual di koperasi. Tidak ada yang terbuang.
Pukul 04.40, tim pencucian bekerja. Jeruk direndam air mengalir, disikat pelan dengan sikat sabut, lalu ditiriskan di rak bambu. Bu Lastri selalu cerewet soal ini. “Anak SD itu imunnya beda-beda. Bersih itu wajib. Kita tidak mau, MBG jadi klaster diare.”
Pukul 05.30, tim pengemasan mulai menghitung. Satu kotak satu jeruk. Jika ada jeruk terlalu besar, ditukar dengan yang sedang agar adil. “Anak itu sensitif, Bu. Kalau temannya dapat lebih besar, bisa nangis,” kata Yuni sambil tertawa lebar.
Pukul 06.10, 1.350 kotak masuk boks pendingin, naik ke tiga mobil boks. Setiap mobil punya log sheet jam berangkat, suhu boks, nama pengemudi. Ini SOP. Sebab, jeruk yang kepanasan bisa kering dan kehilangan vitamin C.
Pukul 06.45, mobil pertama tiba di SDN Toyomarto 02. Penjaga sekolah membantu menurunkan. Kotak langsung masuk ruang kelas, belum boleh dibuka sampai bel. Tujuannya agar tidak ada yang makan duluan, lalu mual karena lari-lari.
Nayla: “Aku suka jeruknya Pak Wito karena kalau dikupas bunyinya ‘kres’. Terus baunya enak. Kalau pulang, tasku wangi jeruk.”
Fajar: “Dulu aku nggak suka buah. Soalnya mama beli di pasar, masam. Tetapi jeruk MBG manis. Kata Bu Indah, itu karena baru dipetik kemarin. Jadi aku mau.” Raut wajahnya seperti lampu menyala.
Galang: “Aku pernah ke kebun Pak Wito pas Minggu. Disuruh petik sendiri. Terus Pak Wito bilang, ‘Itu pohonmu, Lang. Kalau kamu sehat, pohonnya juga sehat.’ Aku senang.”
Testimoni itu yang tidak pernah masuk ke Excel Dinas. Tetapi bagi Bu Indah, itu indikator keberhasilan paling jujur.
Pak Wito masih ingat, 2022. Harga jeruk di tingkat petani Rp1.200/kg. Tengkulak bilang, “Pak, ini kebanyakan. Pasar nggak nyerap.” Padahal ongkos petik saja Rp800/kg. Rugi. Ia sudah siapkan gergaji mesin. Mau diganti sengon.
Mbah Dir, seorang mantri tani datang membawa kabar. “To, sabar, tahun depan ada program makan anak sekolah. Syaratnya ketat, tetapi harganya pasti. Awakmu gelem ra?”
Pak Wito ikut pelatihan. Belajar GAP, pembukuan, dan sortir. Dapurnya disemprot desinfektan, pisaunya diganti stainless, keranjangnya dicuci setiap hari. Capek. Tetapi Desember 2024, kontrak pertama turun: 800 biji/hari selama setahun.
Hari ini, kontraknya 1.200–1.500 biji/hari. Ia ajak dua tetangga jadi plasma. Mereka tanam juga. Jadi, “Tim Jeruk Toyomarto” sekarang tiga KK. Kalau satu sakit, dua lain backup. Itulah “Sistem Tanggung Renteng” yang menyelamatkan misi pagi tadi.
Rasanya seperti menggigit jeruk siyem Pak Wito pukul 09.00.
Pertama: kecut — karena perjuangannya ribet. Bangun subuh, sortir, kejar setoran, lapor administrasi.
Kedua: manis — saat melihat video anak SD rebutan jeruk, bukan rebutan ciki.
Ketiga: lega — saat tahu 1.350 biji jeruk itu artinya 1.350 anak dapat vitamin C, tiga petani dapat kepastian harga, satu dapur umum dapat menu yang tidak ditolak anak-anak.
MBG tanpa jeruk lokal itu hanya program.
MBG dengan jeruk lokal itu ekosistem.
Dan ekosistem yang sehat rasanya… ya, seperti jeruk Toyomarto: manisnya jujur, tidak bikin batuk, dan kalau sudah coba, besok nagih lagi.
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 6






















