Exile (bag 2)

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Shunink

CemerlangMedia.Com — “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS Ali ‘Imran [3]: 159).

“Masalahnya apa, Nak?” tanya Bunda yang berusaha tenang, agar tidak terpancing dengan emosi diri menghadapi She dengan kelemahannya.

Lagi-lagi She terdiam dan menundukkan kepalanya. Melihat hal itu, Bunda merasa ada hal yang dia sembunyikan, hal yang bisa jadi telah melanggar syariat atau semacamnya. Sehingga untuk bertahan dan agar orang tuanya memenuhi keinginannya, terutama Ayah. Dengan demikian, She pasti memilah dan memilih cerita yang bisa membuat keinginannya terwujud. Begitulah isi pikiran Bunda kala itu.

“She, coba lihat Bunda dan tolong jawab pertanyaan Bunda,” tegas Bunda yang mulai kurang bisa mengontrol emosinya.

“Katakan dengan jelas, awalnya kenapa? Kok sampai hati mereka bersikap seperti itu padamu. Bukan hanya satu atau dua, tetapi hampir seluruh santri?” ucap Bunda dengan heran.

Perlahan She pun menjawab dengan suara lirih, “Tidak tahu… Bun.”

“Sudah pernah ada syuro dan She pun sudah minta maaf jika ada salah. Tetapi… setelah itu, sikap mereka tetap sama, tidak ada yang berubah…. Seolah mereka tidak memberi maaf padaku,” imbuh She.

Dengan jawaban seperti itu, Bunda makin yakin bahwa ada hal yang She sembunyikan. Hal pokok yang merupakan sebab utama timbulnya permasalahan dan akhirnya menimpa diri She sendiri.

“Yakin tidak tahu? Atau ada hal yang She tidak ingin bagi ke Bunda dengan jujur?” kata Bunda penuh selidik.

She menatap tajam ke arah Bunda, dan berkata, “Bunda tidak akan percaya dengan apa yang She sampaikan!”

Bunda terkejut dengan reaksi She. Bukan menjadi iba, tetapi Bunda makin menjadi yakin bahwa anaknya bisa jadi merupakan penyebab timbulnya masalah dalam pondok putri.

Hari makin sore, jam penjengukan hampir habis. Sedangkan obrolan yang berlangsung sejak siang, belum ada titik terang. Di samping itu, Ayah pun tidak kunjung kembali ke ruangan. Bagi Bunda, hal itu sudah biasa. Apabila suaminya memilih untuk pergi atau keluar ruangan, berarti Ayah butuh waktu dan tempat untuk berpikir sendiri dan Ayah adalah tipikal orang yang tidak pandai merangkai kata, apalagi harus menghadapi anak gadisnya yang kritis dan keras kepala.

“Bunda, tolong sampaikan ke Ayah, ya? She mau di sini sampai satu semester saja,” pinta She.

“Kenapa harus Bunda? Coba She sendiri yang menyampaikan ke Ayah,” elak Bunda dan tak habis pikir dengan diri She saat ini.

She terdiam dan memandang sinis pada Bundanya.

Bunda menarik napas panjang sambil beristighfar dalam hati, seolah ingin meringankan rasa berat di kepala dan rasa sesak di dadanya.

“She… jangan hanya kau ingat semua nasihat baik yang datang padamu, tetapi nasihat-nasihat baik tersebut sebisa mungkin, semampumu, bahkan semaksimalnya kamu lakukan, terapkan dalam kehidupanmu,” ucap Bunda penuh dengan penekanan.

“Terkait apa yang kamu hadapi, Bunda salut bahwa She berani minta maaf. Namun, Bunda bertanya-tanya, apa kesalahan She pada mereka sehingga She minta maaf dan sampai diadakan syuro?” imbuh Bunda.

“She tidak tahu, Bunda. Apa salah She ke mereka. Tiba-tiba mereka bersikap seperti itu,” jawab She.

“Tidak mungkin. She pasti ada salah, coba diingat-ingat lagi,” kata Bunda dengan segenap keyakinannya.

Namun, apa yang She katakan pada Bunda?

“Bunda selalu seperti itu! Bunda tidak percaya dengan semua yang She ceritakan, Bunda suka memojokkan She, Bunda membenci She, Bunda sama saja dengan yang lain!” protes She penuh amarah.

“Bunda tidak tahu rasanya dikucilkan, diasingkan, selalu dijadikan bahan ghibah, dikambing hitamkan…. She selalu sendiri dan menyendiri! Bunda tidak tahu rasanya karena Bunda tidak pernah hidup di dalam pondok pesantren!” imbuhnya.

“Astaghfirullahal’adziim…. Apa yang sebenarnya terjadi, Ya Allah?” ucap Bunda dalam hati.

“Baiklah, She. Nanti Bunda sampaikan ke Ayah tentang apa yang kamu mau.” Tidak ada yang bisa dikatakan lagi oleh Bunda karena She dalam emosi yang bergejolak.

Setelah mendengar pernyataan dari Bunda, She mulai tenang. Dia mengambil napas panjang, mengusap air matanya dan berkata, “Benar ya, Bun. Jangan bohong.”

“Insya Allah, Bunda tidak pernah bohong. Bagaimana dengan She ke Bunda? Apakah sepenuhnya jujur?” sindir Bunda.

“Selalu seperti itu. Bunda selalu seperti itu…,” sahut She.

“Aku harus menemui Ustazah ‘Aini secara langsung. Apa sebenarnya yang telah terjadi,” gumam Bunda dalam hati.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 4

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *