#30HMBCM
Penulis: Kak Na
CemerlangMedia.Com — Pernah nggak sih, kamu ngerasa kayak gini….
Udah niat mau berubah. Udah janji sama diri sendiri.
“Besok, aku mau lebih baik.”
Tetapi besoknya datang… dan kamu tetap jadi versi yang sama. Atau mungkin kamu pernah bilang:
“Nanti aku mau rajin salat.”
“Nanti aku mau mulai baca Al-Qur’an.”
“Nanti aku mau berubah.”
Tapi “nanti” itu… nggak pernah benar-benar datang. Aneh ya. Padahal kamu tahu itu baik.
Kamu tahu itu benar, tetapi tetap aja… susah.
Dan dari situ biasanya muncul satu pertanyaan jujur:
Kenapa sih, susah banget taat?
Coba kita lihat lebih jujur lagi. Bukan sekadar tahu atau nggak tahu. Tetapi apa yang kita lakukan setiap hari.
Bangun tidur langsung pegang HP. Scroll sebentar… jadi lama. Niatnya hanya lima menit, tetapi tahu-tahu satu jam lewat. Habis itu capek, malas, dan akhirnya banyak hal yang tertunda.
Salat jadi mundur.
Al-Qur’an jadi nanti lagi.
Target berubah jadi hanya rencana.
Dan besok… diulang lagi. Ini bukan karena kamu nggak peduli. Tetapi karena kamu kebawa.
Kebawa suasana. Kebawa kebiasaan. Kebawa apa yang paling mudah.
Coba bayangin ini.
Kalau kamu lempar bola ke atas, dia pasti jatuh lagi ke bawah. Kenapa? Karena ada gaya yang menariknya. Tanpa kamu sadari, hidup kita juga punya “tarikan”. Tarikan ke arah yang mudah. Ke arah yang nyaman. Ke arah yang instan.
Makanya, kalau kita nggak melawan… kita akan otomatis jatuh ke situ. Dan itu yang sering terjadi. Bukan karena kita nggak mau baik, tetapi karena kita nggak cukup kuat melawan arus.
Sekarang coba lihat diri kita sendiri.
Kita tahu mana yang benar. Kita tahu mana yang salah. Tetapi anehnya… kita tetap sering memilih yang salah.
Kita tahu salat itu penting, tetapi sering ditunda. Kita tahu Al-Qur’an itu petunjuk, tetapi jarang dibuka. Kita tahu mana yang harus dijaga, tetapi masih sering dilanggar.
Bukan karena nggak tahu.
Tetapi karena… berat.
Dan di sinilah letak masalahnya. Dalam diri kita… ada dua arah. Yang satu ingin jadi lebih baik.
Yang satu lagi ingin tetap nyaman. Yang satu ngajak naik. Yang satu lagi narik turun.
Dan seringnya… kita kalah sama yang narik turun. Karena jujur saja, taat itu nggak selalu enak.
Bangun lebih awal itu berat.
Menahan diri itu nggak nyaman.
Konsisten itu capek.
Sedangkan ikut keinginan?
Lebih mudah. Lebih cepat. Dan langsung terasa enak. Makanya seringnya kita pilih itu.
Padahal… enaknya hanya di awal.
Setelah itu?
Kosong. Nyesel. Dan pengen mulai lagi.
Allah sebenarnya sudah mengingatkan kita:
“Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS An-Nazi’at: 40–41).
Ayat ini sederhana, tetapi dalam. Masalahnya bukan karena kita nggak tahu, tetapi karena kita belum bisa menahan diri. Dan itu memang butuh latihan.
Coba bayangin orang yang lagi olahraga. Awalnya capek. Berat. Kadang pengen berhenti, tetapi kalau dia terus latihan… lama-lama jadi kuat. Taat juga sama. Awalnya berat, tetapi kalau dilatih… jadi ringan.
Masalahnya, banyak dari kita berhenti di awal. Baru mulai sedikit, sudah menyerah. Baru jatuh sekali, langsung merasa gagal. Padahal… jatuh itu bagian dari proses.
Yang penting bukan kamu jatuh atau nggak, tetapi kamu bangkit atau nggak. Karena orang yang terus bangkit… lama-lama akan sampai.
Sekarang coba kita jujur lagi. Selama ini kita susah taat. Itu karena nggak tahu atau karena kita masih lebih milih yang nyaman?
Dan jawabannya sering kali… kita tahu, tetapi kita belum benar-benar mau melawan diri sendiri. Padahal perubahan itu selalu dimulai dari situ. Dari hal kecil. Dari keputusan sederhana.
Milih bangun atau lanjut tidur. Milih salat sekarang atau nanti. Milih buka Al-Qur’an atau lanjut scroll. Hal kecil… tetapi berulang. Dan itu yang menentukan arah hidup kita. Dan mungkin… yang selama ini kamu rasakan bukan karena kamu buruk. Bukan karena kamu gagal. Tetapi karena kamu sedang ada di titik perjuangan.
Dan itu wajar.
Bahkan, itu tanda baik.
Karena orang yang nggak peduli… nggak akan ngerasa berat. Tetapi kamu ngerasa berat karena kamu tahu itu penting.
Dan itu artinya… hatimu masih hidup.
Renungan kecil:
Selama ini kamu susah taat karena kamu nggak tahu? Atau karena kamu belum mau benar-benar melawan diri sendiri?
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 1






















