Arsip yang Kosong

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Fitri Sumantri

CemerlangMedia.Com, STORYTELLING — “Berbahagialah ketika kamu memiliki, tetapi kamu merasa ada yang hilang, hampa dan kosong. Cobalah tanya hatimu dan cari tempat kembali. Bukan sesuatu yang membuatmu jauh dan makin menghilang, tetapi sesuatu yang menenangkan jiwa, serupa kelompok kajian mungkin. Karena kekosongan itu perlu diisi dengan menguatkan iman, bukan mencari jalan pintas dengan kebahagiaan semu. Setiap rasa itu adalah tanda cintanya Allah, bukti di mana Allah Swt. tidak pernah meninggalkanmu. Dia melihatmu dari jauh, menikmati kelupaanmu, tetapi Dia merangkulmu dalam lelah. Maka pulanglah pada Sang Penciptamu.”

Terkadang, ada orang-orang yang terlihat sempurna dari luar, mempunyai pekerjaan yang bagus, teman yang baik, serta keluarga yang selalu mendukung, bahkan senyum saja tersedia saat dibutuhkan. Namun, ketika malam datang dan suara-suara dunia mulai reda, dia terasa sepi, asing, bahkan yang tersisa hanyalah ruang hening yang sulit dijelaskan. Walaupun memiliki banyak hal, tetapi ternyata tidak selalu merasa cukup. Bukan karena tidak bersyukur dengan apa yang ia punya, hanya saja ada ruang kosong yang belum terisi. Sedikit cela, tetapi berasa.

Bahkan, terkadang rumah hanya seperti tempat singgah untuk mengistirahatkan fisik yang mulai lelah. Pujian bisa terdengar seperti gema yang jauh, sampai-sampai tidak tahu orang yang memuji benar-benar peduli atau justru tengah mempersiapkan momen untuk menjatuhkan. Keramaian itu terkadang hanyalah serupa tirai yang menutup kesepian, bisa tertawa jika ada cerita lucu atau barangkali ikut tertawa supaya dibilang bahagia, tetapi hampa setelahnya.

Kekosongan itu ternyata suka datang diam-diam. Ia memang tidak merusak apa-apa, tidak juga berteriak serupa suara Fadil yang menggelegar sampai ke dapur hanya karena minta dibukakan pintu. Datangnya juga perlahan, tetapi jelas mengikis rasa sehingga yang tersisa hanyalah rutinitas tanpa jiwa. Bak manekin yang berdiri anggun di depan toko baju itu. Ia terlihat sempurna, tetapi tak bernyawa, bergerak berdasarkan perintah tuannya.

Terkadang aku merasa begitu, seperti asing. Aku tidak lagi menjadi diriku yang punya kepala berisik dengan bermacam pertanyaan. Terkabulnya impian seolah membuat aku kehilangan suara, berhenti berpikir. Entah karena aku terlalu menikmati kebebasan yang kudambakan selama ini atau barangkali sistem kerjanya membuat aku tutup mulut. Awalnya, bagiku hidup ini baik-baik saja, meski terkadang aku merasa ada yang berbeda, tetapi aku pikir semua itu wajar. Sebab, kehidupan yang kini dijalani bukan lagi bolak-balik kampus, kos, teater seperti dulu, tetapi dunia nyata masyarakat dengan berbagai macam kepribadian.

Sampai pada suatu hari, selesai salat Magrib, kami pergi membeli martabak ke Santur. Kedai martabak pinggir jalan yang baru buka itu memiliki dua karyawan, laki–laki dan perempuan. Tampaknya mereka pasangan muda yang baru menikah. Ada yang terasa menarik di sana, bukan menunya, tetapi pakaian orangnya. Laki-laki itu berpakaian rapi sambil memakai sepatu, serupa pekerja kantoran saja, dan yang perempuan menggunakan jilbab panjang satu lorong (gamis), berkerudung menutup dada, lengkap dengan kaos kaki dan sepatunya berwarna pink.

Sepanjang proses pembuatan martabak itu selesai, kami sibuk memperhatikan yang perempuan. Bukan karena cantik rupanya saja, tetapi bersebab akidah yang diembannya. Bahwa menutup aurat adalah suatu kewajiban, entah apa pun profesinya, tidak ada yang sulit dalam menjalani perintah Allah Swt. yang menciptakan kita. Itulah yang kami dapatkan dari momen membeli martabak malam itu bahwa menutup aurat adalah kewajiban.

Sepulang dari membeli martabak, kami duduk di meja makan saling menatap dan berucap, “Kamu sama nggak sih, mikirnya kayak aku?” ucap kakak kosku bernama Aini.

Aku langsung menjawab, “Ya, malu ya, kita yang tiap hari pergi kerja, hanya duduk manis sambil ngetik aja, masih mikir panjang untuk menutup aurat dengan sempurna. Dia yang megang tepung, berteman dengan api saja bersedia taat tanpa pikir panjang. Ia mampu menjalankan perintah Allah yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab 59 yang artinya, Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

“Al-Qur’an surah An-Nur ayat 31 yang artinya, Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman agar mereka menjaga padangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan sesame (Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. Lantas, kita yang tinggal satu rumah dengan ibu kos dan anak laki-lakinya yang jelas sudah balig bukan mahram kita, ini gimana?” ucap Aini.

“Hmm… entahlah, Kak. Barangkali kekosongan yang kita rasakan selama ini bukan karena kurang bersyukur atau kurang yang kita dapat, tetapi bisa jadi kita merasa baik-baik saja, padahal sebenarnya kita melanggar aturan Sang Pencipta.”

“Coba kita logikakan, terasa berat nggak sih, untuk dia yang memakai gamis jualan martabak dan roti cane, belum lagi takut kerudungnya mengganggu pas motong dan balikin martabak. Tetapi ternyata keimanan bisa membuat mereka tidak lagi mencari celah untuk berhenti melakukan kewajiban.”

“Barangkali dia anak pondok,” sahut Kak Aini.

“Mungkinlah,” jawabku. “Sebab, kita yang orang biasa ini masih terasa susah.” Begitulah proses menutup aurat menurut versi kami, terasa berat untuk dijalani.

Padahal ternyata yang berat itu justru bukan menjalaninya, tetapi memikirkannya. Karena awalnya, kami pikir menutup aurat itu harus bersihkan hatinya dulu, seolah kami mampu mengeluarkan hati, lalu mencucinya dengan sabun terbaik biar ia jadi bersih dan di situlah kami mulai siap menutupnya dengan sempurna. Tetapi ternyata, justru cara membersihkan hati itu ialah dengan menutup aurat dengan sempurna, dari sanalah rasa malu mulai muncul dan pada akhirnya takut jika tidak melakukan aturan Allah Swt..

“Kebaikan itu akan berdampak jika diamalkan, bukan hanya sekadar dipikir. Karena terkadang, pemikiran itu tidak selalu sama dengan realita. Terkadang kita pikir sesuatu itu mudah, ternyata sebenarnya rumit, dan ada juga sesuatu yang kita anggap muda, justru itu ribet. Yang perlu kita lakukan hanyalah mencoba belajar menjalani aturan-aturan Sang Pencipta, bukan terus berlari mencari celah dengan mengisi kekosongan itu dengan hal-hal yang justru membuat kita makin tidak tenang. Sebab, ketenangan jiwa, Allah Swt. yang berikan pada tiap-tiap hati yang Dia inginkan.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 1

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *