Dia Jalanku Pada Cahaya-Mu (bag 1)

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Cokorda Dewi

CemerlangMedia.Com — Pagi yang cukup cerah, secerah wajah Agung Chandra yang akan memulai aktivitas kerjanya di kantor. Dia masih tampak sibuk menyiapkan berkas-berkas proyek. Komputer pun belum dinyalakan. Hari ini dia berencana untuk memantau langsung proyek villa yang ditanganinya.

“Agung, today you go with me. We have a meeting with Mr. Dan in Legian,” ucap boss besarnya, yang tiba-tiba datang menemuinya.

Boss besarnya Agung adalah seorang ekspatriat, warga negara asing yang memiliki izin tinggal menetap dan bekerja. Namanya Mr. Zen, biasa dipanggil Pak Zen. Pak Zen banyak punya usaha yang tersebar di beberapa tempat. Pak Zen fasih berbahasa Indonesia Melayu, tetapi hanya digunakan jika berbicara dengan orang yang tak paham Bahasa Inggris.

Agung mendongak dan mendengarkan ucapan bossnya.
“Sorry, I’ll go by myself, boss. I have to go to the project site after the meeting,” jawab Agung.

“Ok. That’s good,” balas Pak Zen.

Wait. Where is the meeting and what time will it be, boss?” tanya Agung menghentikan langkah Pak Zen yang hendak keluar ruangan.

At 8.00 am, at my restaurant, La Boheme. Don’t be late!” jawab Pak Zen.
Agung mengangguk paham.

Agung segera membereskan berkas proyeknya. Hari ini dia harus mendatangi dua tempat yang berbeda. Meeting di Legian, dan lokasi proyek di Seminyak.

“Agung, sudah tau ya, kalo perusahaan yang kerja sama dengan kita dalam proyek villa di Seminyak, ada perwakilannya yang baru. Mereka menempatkan satu Site Manager mereka di sana,” ujar Pak Komang bergosip, staf bagian elektrikal dan plumbing perusahaan, yang hobi bergosip tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.

“Oya?” Agung tampak berpikir sejenak.

“Siapa?” tanya Agung penasaran.

Sementara teman-teman se-ruangan Agung sudah mulai berdatangan dan ikut menyimak pembicaraan mereka.

“Beneran gak tau?” tanya Pak Komang terheran. Agung hanya mengangguk tanda tak tahu.

Agung memang tidak setiap hari ke proyek. Tugasnya di kantor juga banyak yang harus diselesaikan. Apalagi belum ada meeting lanjutan dengan perusahaan rekanan yang melibatkan Agung.

“Ganteng lho, Gung,” ucap Pak Komang semangat. Agung memutar bola matanya. Teman-teman lainnya mulai tertarik bergosip.

“Kalau aku cewek, pasti udah naksir berat, lho,” Pak Komang melancarkan promosinya dan tertawa, untuk menggoda Agung yang masih jomblo akut.

“Siapa, Pak Komang?” tanya Eka antusias, staf keuangan bagian konstruksi.

“Namanya Bryan,” ujar Pak Komang melanjutkan.

“Hah?” Semuanya tampak kaget.

“Bryan Adam?” tanya Agung sekenanya, sembari siap-siap hendak berangkat. Yang lain pada tertawa mendengar ucapan Agung.

“Bukan artis, Agung. Katanya sih, orang Jawa,” jawab Pak Komang, tampak berpikir.

“Namanya sih keren, Pak Komang. Apa orangnya sekeren namanya? Nyanan nyak care topeng tugek,” komentar Eka, membuat seisi ruangan makin riuh oleh tawa.

“Sing, ganteng ne,” ujar Pak Komang meyakinkan.

“Iya dah. Aku berangkat dulu,” ujar Agung cuek.

Sementara yang lainnya pada merapat mendekati Pak Komang, penasaran dengan bahan gosip baru yang dibawa.

“Eh, bubar… bubar. Jam kerja ini, dilarang gosip!” seru Agung mengingatkan, setelah melihat gelagat teman-temannya.

Akhirnya mereka terpaksa pada bubar kembali ke meja masing-masing.

“Pak Komang, segera berangkat ke proyek Seminyak. Cek pemasangan pipa hari ini. Nanti habis meeting, aku nyusul ke proyek,” instruksi Agung pada Pak Komang.

“Ok, siap boss. Aku order bahan dulu,” jawab Pak Komang cepat. Agung mengangguk paham, sebelum menghilang di balik pintu ruangan.

Agung memang bos kecil mereka. Posisi Agung di kantor sebagai atasan mereka dan sekaligus menjadi salah satu tangan kanan Pak Zen, di bagian konstruksi dan konsultan.

Agung adalah seorang sarjana Teknik Sipil. Kemampuannya meng-handle proyek sudah teruji. Kejujuran dan loyalitas terhadap perusahaan juga sudah terbukti. Makanya, Agung bisa menjadi tangan kanan Pak Zen.

Agung melangkah cepat menuju parkiran motor. Motor matik-nya siap meluncur menemani perjalanannya menuju Legian.
Suasana pagi seputaran Batu Belig masih terasa segar, memberi energi positif tersendiri bagi yang menikmatinya, mengiringi perjalanan Agung untuk memulai aktivitasnya dengan bertemu klien.

Semilir angin Pantai Legian mulai terasa. Agung memarkirkan motornya di depan restoran La Boheme. Pemandangan indah Pantai Legian tidak membuatnya goyah untuk beralih arah. Sementara di dalam restoran yang masih sepi pengunjung, sudah duduk dua orang bule beserta tangan kanannya yang merupakan orang lokal. Mereka adalah klien perusahaan, pemilik villa di Seminyak yang sedang ditangani. Ada Pak Zen, dan juga pemilik perusahaan konstruksi lokal yang bekerja sama dengan perusahaan bossnya, bernama Pak Erick.

“Ah, here is Agung!” seru Pak Zen ketika melihat Agung datang.

Mereka semua tampak berdiri dan saling berjabat tangan.

“Nice to meet you,” ucap si bule itu pada ramah. Bule itu bernama Mr. Dan dan rekannya bernama Mr. Cyril.

Nice to meet you, too,” sambut Agung.

Tidak berapa lama, tampak seorang pemuda tinggi tegap datang mendekat.

“Ah, please introduce Bryan. He is our new site manager, who is in charge of our project,” ucap Pak Zen mengenalkan pemuda itu. Semuanya pun berjabat tangan termasuk Agung.

Agung tersenyum manis, tetapi Bryan tersenyum dingin. Membuat hati Agung terasa meleleh pada pandangan pertama.

“Benar kata Pak Komang. Ini sih, ganteng maksimal,” ucap Agung dalam hati.

Setelah perkenalan tersebut, meeting pun langsung dimulai. Selama meeting berlangsung, hanya ada presentasi proyek dan beberapa revisi dari klien. Agung mencatat semua hal-hal penting yang nantinya akan dijadikan dasar untuk evaluasi tahap pengerjaan proyek dan kemungkinan ada amanden dari penambahan biaya proyek yang sedang dikerjakan. Tidak terasa tiga jam lebih meeting itu berlangsung.

Hari telah menjelang siang, mereka pun melanjutkannya dengan makan siang di restoran tersebut. Tampak restoran sudah mulai ramai didatangi pengunjung. Selesai makan, Bryan langsung berdiri.

“I am sorry. I have to go now. I have to sholat,” ucap Bryan.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Pak Zen dan Pak Erick, Bryan pun meninggalkan restoran.

“Ternyata dia muslim,” ucap Agung dalam hati. Ada perasaan senang meliputinya. Diam-diam Agung memperhatikan kepergian Bryan.

“Hey… hey, what are you looking at, Agung?” tegur Pak Zen pada Agung, sembari tertawa. Rupanya Pak Zen melihat gelagat Agung yang memperhatikan Bryan sejak meeting berlangsung. Agung tersipu malu sembari tersenyum.

“I am sorry, I have to go too, boss,” ucap Agung kemudian mengalihkan rasa malunya dan berpamitan pada semuanya. Pak Zen mengangguk setuju.

“See you all!” pamit Agung.

“See you around!” jawab semuanya kompak.

Agung berjalan menuju motornya diparkir. Cuaca Legian mulai terasa terik. Agung melajukan motornya menuju kawasan Seminyak.

Terselip harapan dalam hati Agung untuk bisa berjumpa lagi dengan Bryan di proyek. Agung penasaran dengan sikap cuek yang Bryan tunjukkan, seperti kurang bersahabat. Dan Agung merasa tertantang akan hal itu, tepatnya penasaran.

“Sok cool. Sok boss,” gumam Agung.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 1

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *