Mental Baja Generasi Muda, Tidak Lahir dari Pemuda Cinta Maksiat

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Irsad Syamsul Ainun
(Tim Redaksi CemerlangMedia.Com, Muslimah Pegiat Literasi)

Cemerlangmedia.Com — Darah muda adalah darah para pejuang. Masa ini menjadi masa yang sangat dinantikan oleh setiap orang tua. Karena bisa melihat anak-anaknya be-regenerasi dan juga menjadi masa yang paling produktif. Tak heran banyak orang tua menaruh harapan di masa ini. Masa ini menjadi masa yang paling hangat diperbincangkan di kalangan orang tua. Ada yang berbangga jika anaknya sudah menghasilkan rupiah, menghafal Qur’an, menjadi pembicara kondang, bahkan sampai jadi interpreneur.

Namun, ada juga orang tua yang berbelasungkawa dengan air mata tak terhitung akibat kemaksiatan yang dilakukan anak-anaknya. Menyaksikan betapa anak muda saat ini jauh dari kata taat, jauh dari kata qana’ah, jauh dari akidah. Pun dengan ibadah-ibadah yang terangkai indah dalam susunan rukun Islam, tak menjadi pengokoh jiwa dan raganya.

Miris bukan! Akibat-akibat yang ditimbulkan dari ketidakseimbangan akidah dan akhlak ini lahirlah generasi yang cinta dengan perilaku main hakim sendiri. Kemudian lahir pula generasi senggol dikit, nyawa jadi taruhan. Bocah berdarah panas. Bukannya berkarya malah berdarah.

Beberapa problematika yang dapat terlihat seperti pembacokan seorang pelajar yang terjadi di Jalan Dukuh Barat Raya, Kelurahan Lagoa, Kecamatan Koja, Jakarta Utara (CNN Indonesia, 14-5-2023). Pemicunya hanya soal peminjaman helm dan berujung pada duel berdarah.

Bukan hanya itu, mayat pun bisa dijadikan pelampiasan hawa nafsu, seperti yang terjadi di Mojokerto seorang siswa berinisial AE (15) yang merupakan siswa kelas 3 SMP Kemlagi, Mojokerto, Jawa Timur, diperkosa oleh M. Adi, setelah nyawanya dihabisi teman satu kelasnya berinisial AB (15) (CNNIndonesia, 14-6-2023).

Betapa kehancuran generasi hari ini sangat tersistemik. Dorongan hawa nafsu manusia mampu mengubah karakter manusia menjadi seburuk-buruk karakter melebihi hewan. Dan semua ini telah digambarkan dalam Al-Qur’an bahwa kelak ada manusia yang kedudukannya tinggi, akan tetapi ketika terjerembab dalam kemaksiatan maka ia akan hina melebihi hewan. Allah Swt. berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.(QS Al-A’raf[7]: 179)

Setiap manusia yang diciptakan pasti memiliki hati, telinga, dan juga mata. Akan tetapi semua itu dipergunakan bukan pada tempatnya. Jika pun berfungsi, kebanyakan akan dialihfungsikan kepada hal-hal negatif.

Pemuda hari ini banyak dituntut oleh kesenangan semu dan menjenuhkan. Oleh karenanya, berulang juga beralih dari maksiat yang satu ke kemaksiatan yang lain. Mencari dan terus mencari hal-hal yang sangat membahagiakan bagi dirinya meskipun itu sangat bertentangan dengan akal dan jiwanya sebagai makhluk berakal.

Namanya sebuah kebahagiaan semu, ya diibaratkan seperti air laut. Makin diminum makin haus pula. Dahaga itu akan terpuaskan hanya dengan sesuatu yang benar-benar sesuai kebutuhan dan porsinya. Selain itu, ia juga akan terpuaskan dengan sesuatu yang memang memuaskan akal dan pikiran. Jika hal ini bertentangan maka pasti ada yang tidak beres.

Pun soal pendidikan, begitu banyak lembaga pendidikan yang terbangun mulai dari minim fasilitas sampai pada kemewahan fasilitas. Lagi-lagi out putnya hanya sekadar memenuhi lapangan kerja, bukan lapangan takwa. Setiap generasi selalu dituntut untuk cerdas secara intelektual tetapi tidak cerdas akalnya.

Alhasil, lahirlah generasi yang rapuh alias generasi stroberi. Kelihatan ranumnya, tetapi rapuh. Selain itu, jiwa konsumtifnya pun selangit. Tak memiliki jiwa kepedulian sosial. Pikirannya hanya sekadar untuk diri sendiri.

Pertanyaannya, siapakah yang berperan penting di balik candu kehancuran generasi hari ini? Apakah ini salah Pencipta? Atau salah orang tua melahirkan anak di zaman ini? Tidaklah semua itu lahir dari akidah yang benar.

Sesungguhnya apa yang sedang melanda anak muda saat ini adalah buah dari sistem kapitalis-sekularisme. Di mana kekayaan materi menjadi patokan bahagia dan kebebasan yang tidak terikat pada din (agama) menjadi pionir dalam jiwa setiap individu hari ini.

Semua yang ada dalam diri dan di luar dirinya diatur berdasarkan hukum yang disahkan oleh tangan-tangan Barat yang katanya mampu membangun insan cerdas, juga kokohnya bangunan yang menjulang tinggi. Padahal peradaban sesungguhnya tidak berdasarkan pada bangunan megah, apalagi berlandaskan pada aturan yang membuang jauh-jauh agama dari kehidupan.

Jelaslah hal tersebut tidak akan mampu menciptakan keseimbangan yang hakiki. Lihatlah, bagaimana dulu kehidupan sebelum adanya peradaban Islam yang gemilang. Jangankan makhluk hidup, yang baru memulai hidup dari kelahiran saja akan dibunuh karena merasa hal ini sebagai aib. Pembunuhan perempuan contohnya.

Dan kini terulang lagi, manusia membuat aturan sendiri. Merasa bahwa aturannya yang gampang diotak-atik tangan manusia tadi adalah yang terbaik. Padahal aturan Allah jauh lebih baik dan pada akhirnya kembali pada sistem Islam adalah kunci utama untuk hidup dalam keseimbangan yang hakiki.

Saatnya anak muda kembali berkarya, berjuang dan berkontribusi dalam memperjuangkan nafas kehidupan Islam. Berjuang untuk mengembalikan kehormatan dan jiwanya baik itu anak-anak, orang tua, dan seluruh kalangan umat.

Mengembalikan nafas Islam adalah satu-satunya kunci agar generasi muda tidak lagi terjerumus pada kemaksiatan. Nafas Islam ini akan menjadikan generasi muda untuk tumbuh dan berani mengambil peran sebagai agen of change.

Generasi dengan peran agen of change tidak akan lahir dari mereka yang mencintai kemaksiatan sebagai titik sentral kehidupannya. Generasi agen of change hanya akan terlahir dari individu yang berkostum ketakwaan kepada Allah Azza wa Jalla. Wallahu a’lam. [CM/NA]

Views: 63

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *