Oleh: Zafira Islam Farihaqi Ahd Ruhiyat
(Santriwati Ma’had Madrasah Ummat Boarding School dan Founder of @theboc.id)
CemerlangMedia.Com — Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza mengungkapkan jumlah korban meninggal akibat agresi Israel yang dimulai sejak 7 Oktober 2023 lalu telah mencapai 4.651 jiwa. Sekitar 1.756 di antaranya adalah anak-anak (republika.co, 23-10-2023).
Hingga saat ini peperangan masih terus berlanjut. Dengan bantuan para sekutunya, kini Zionis Israel masih menyerang secara membabi buta. Bahkan mereka menargetkan rumah sakit-rumah sakit agar pelayanan kesehatan terputus, mereka juga memutus jaringan listrik agar tidak masuk ke wilayah Palestina sehingga menyebabkan inkubator-inkubator tidak berfungsi dan tentunya dapat mengancam nyawa banyak anak dan bayi. Selain itu pula banyak kita jumpai di media sosial, anak kecil dan wanita yang terbunuh, anak-anak yang kehilangan kedua orang tua, bahkan kehilangan seluruh keluarganya.
Perang Fisik
Namun, ini semua tidak menyusutkan rasa semangatnya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Padahal konflik ini telah terjadi kurang lebih 75 tahun. Dalam kurun waktu yang tak sebentar itu, mereka harus menerima penderitaan yang begitu menyayatkan hati. Namun, rasa semangat para pemuda Palestina demi mempertahankan tanah yang suci agar bisa menjemput kematian dengan cara yang paling mulia yaitu syahid.
Mengapa Palestina harus mempertahankan tanahnya itu? Itu semua disebabkan karena tanah Al-Quds atau Palestina merupakan tanah yang suci bahkan bagi 3 agama, yaitu yahudi, nasrani, dan Islam. Palestina merupakan tempat Isra dan Mi’rajnya Nabi dan juga merupakan kiblat pertama bagi kaum muslimin.
Dengan itu, para mujahid di Palestina betul-betul sangat mempertahankan tanah yang suci bagi umat Islam itu. Mereka tidak pernah takut mati, dari anak kecil, pemuda, dewasa, bahkan hingga lanjut usia. Mengapa? Karena mereka yakin balasan dari itu semua adalah surga.
Peperangan yang mereka rasakan adalah peperangan yang terjadi secara jelas di hadapan mata. Serangan dari Israel yang membabi buta, bom, memutuskan seluruh pasokan, bahkan menggunakan senjata terlarang seperti posfor putih. Suasana malam yang sungguh membuat mata sulit untuk terpejam dengan kondisi langit yang gelap telah berubah menjadi pemandangan malam yang menyeramkan. Suara gemuruh bom yang tak pernah henti, jeritan anak-anak yang kehilangan orang tua, bahkan suara ambulan pergi mondar-mandir menyelamatkan banyak korban. Ini merupakan peperangan yang sungguh nyata terjadi dengan musuh yang nyata dan tampak.
Ghazwul Fikri
Berbeda dengan Indonesia yang tanpa disadari pun sedang mengalami peperangan dengan musuh yang jauh lebih berbahaya, berperang melawan musuh yang kasat mata. Bahkan perzinaan sudah dianggap biasa, korupsi dianggap sepele, kasus bullying yang menyebabkan banyak korban bunuh diri secara membabi buta menjeratkan Indonesia dengan banyak kisah pilu nan rampuh. Banyak yang tidak menyadari bahwa bukan hanya Palestina dengan Israel saja yang kini sedang berperang, Indonesia, negara yang sudah dinyatakan merdeka sejak 1945 itu pun kini sedang berperang, peperangan yang tak kalah berat dengan Palestina, yaitu perang pemikiran (ghazwul fikri).
Perang pemikiran ini terjadi sejak pemikiran masyarakat sudah terolesi pemikiran Barat sehingga menjadikan pemikiran-pemikiran Islam itu lumpuh. Semua dimodifikasi untuk mengarah Barat. Terlebih lagi para pemuda dan pemudi. Entah dari fashion, food, sing, fun, dan hal lainnya.
Setelah termodifikasi dan terjajahnya pemikiran yang berkiblat ke arah Barat, mulailah terlihat dampak yang sungguh sangat memprihatinkan. Mereka menjauhkan diri dari akhirat, tetapi mendekatkan diri kepada dunia. Banyak pemuda dan pemudi yang mulai ber-fashion ke arah Barat, tanpa melihat apa kewajiban sebenarnya dalam berpakaian dan tidak memedulikan halal dan haram dalam memakan apa pun. Dari segi fun, mulai dari menonton drakor dalam semalam sehingga menimbulkan perzinaan, pacaraan, bullying, dan mental Illness di sekitar pemuda.
Peperangan ini masih berlangsung hingga detik ini, bahkan banyak berita yang menyiarkan bahwa kasus remaja dan pemuda kini sudah dibilang di luar nalar. Peperangan yang terjadi di Palestina dan di Indonesia memang peperangan yang berbeda, tetapi memiliki satu solusi yang sama. Yaitu, tegaknya sistem Islam di seluruh dunia secara kafah dalam bingkai Daulah Khil4f4h.
Dalam kitab Nizhamul Islam karya Syekh Taqiyuddin an-Nabhani bahwa bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya. Sebab, pemikiranlah yang membentuk dan memperkuat mafahim (persepsi) terhadap segala sesuatu. Dan manusia selalu mengatur tingkah lakunya dalam kehidupan ini sesuai dengan mafahimnya terhadap kehidupan.
Jadi, bisa kita simpulkan bahwa pemikiran itu dapat membentuk bahkan memperkuat persepsi seseorang terhadap sesuatu. Dengan masyarakat yang telah memahami betul makna dari 3 simpul pertanyaan besar (uqdatul kubra), maka akan dengan mudah menegakkan sistem Islam di muka bumi. Untuk itu solusi yang dibutuhan seluruh umat Islam adalah sistem yang adil, sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal, dan memberikan ketenangan hati, yaitu sistem Islam yang diterapkan di dalam kehidupan secara kafah. Wallahu a’lam [CM/NA]
Views: 24






















