Di Balik Angka

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Gusti Nabilla Fiqriah
(Siswi SMAN 1 Mentaya Hilir Selatan)

CemerlangMedia.Com — Di sebuah kota kecil di pinggiran kota, hiduplah seorang anak bernama Arka. Arka merupakan anak yang baik, saleh, dan selalu berbakti kepada orang tuanya. Ia baru berusia sebelas tahun.

Arka juga merupakan anak yang memiliki semangat tidak tergoyahkan dan minat yang mendalam terhadap angka dan matematika. Semangatnya terhadap matematika begitu luar biasa.

Di mata teman-temannya, Arka tampak berbeda. Teman-teman Arka lebih senang bermain bola, video game, serta menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang membuat mereka senang saja.

Berbeda dengan Arka, Arka lebih suka menghabiskan waktu di depan buku-buku matematika. Arka tidak lupa juga untuk beribadah.

Saat luang, Arka membaca dan memahami buku-buku matematika. Selain itu, ia juga menulis rumus-rumus di papan tulis kecilnya agar dapat terus mengingatnya. Alhasil, di kamarnya banyak sekali tempelan-tempelan rumus matematika.

Arka mempunyai seorang teman yang selalu ada untuknya, yaitu Bayu. Ayah Arka, Pak Lion adalah seorang petani. Sedangkan ibu Arka, Bu Eru adalah seorang ibu rumah tangga yang mengurus segala keperluan rumah.

Keluarga mereka hidup sederhana, tetapi mereka selalu mendukung apa pun impian Arka. Meski tidak punya banyak uang, orang tuanya akan terus berusaha keras untuk memberikan Arka buku-buku yang dibutuhkannya.

Arka memiliki sebuah buku matematika yang sangat lama dan dicintainya. Buku itu adalah warisan dari kakek tersayangnya.

Kakeknya adalah seorang guru matematika yang sangat dihormati seluruh penduduk desa. Kakeknya merupakan orang yang baik, ramah, rendah hati, dalam membagikan ilmu yang dimilikinya. Tidak heran jika semua warga di kampung sangat mengingat dan menghormati kakeknya.

Setiap malam, Arka akan duduk di sudut kamarnya dengan buku itu, mengerjakan soal-soal matematika yang menantang dan memecahkan teka-teki logika. Ia seolah-olah merasa bahwa angka-angka dan rumus-rumus adalah teman baiknya.

Suatu hari, saat Arka sedang sakit, kepala sekolahnya, Pak Sardi mengumumkan bahwa akan ada lomba matematika antar sekolah di kota. Mendengar hal itu, Bayu berencana memberitahu Arka saat pulang sekolah.

Bayu bergegas berjalan menuju rumah Arka. Setibanya di rumah Arka, Bayu pun mengetuk pintunya.

“Halo, Bu, ini Bayu. Arka ada?” ucap Bayu.

“Sebentar, Nak Bayu.” jawab Bu Eru. Bu Eru lalu membukakan pintu.

“Iya, Nak Bayu. Arka ada di kamar, masuk aja!” ucap Bu Eru.

Bayu menuju ke kamar Arka.

Woi, Arka, tau gak, tadi ada pengumuman lomba matematika antar sekolah,” ucap Bayu memberitahu Arka yang sedang tiduran.

Seketika Arka pun langsung bangun dari tidurnya mendengar hal tersebut. Ucapan bayu membuatnya tampak lebih bersemangat. Ia berpikir, ini adalah kesempatan untuk membuktikan kemampuannya dan juga membanggakan orang tuanya atas dukungan yang diberikan selama ini.

“Wah, makasih ya, Bayu, informasinya,” ucap Arka.

Yoi, Bro. Semangat!” jawab Bayu. Arka tersenyum tipis.

Mereka berbincang-bincang hingga sore. Ketika hari sudah mulai gelap, Bayu pun izin pamit pulang ke rumah.

Dia berpamitan ke Arka dan ibunya. Arka mengantar Bayu hingga ke depan rumah. “Sampai jumpa besok, Bayu,” ucap Arka. Arka pun berniat untuk mendaftarkan dirinya pada besok hari.

Besoknya saat di sekolah, Arka bergegas menuju ruang guru. Ia ingin mendaftarkan namanya untuk mengikuti lomba tersebut. Saat Arka sedang berjalan, tiba tiba dari belakang.

Woi, Arka! Gak usah sok deh, lu, ikut lomba matematika segala. Matematika itu bosenin, gak ada manfaatnya juga,” ucap beberapa teman sekelas Arka. Mereka mengejek Arka dan menganggapnya aneh karena lebih suka mengikuti lomba matematika dibandingkan bermain.

Arka terdiam sejenak dan berkata, “Gak ada sesuatu yang gak berguna di dunia ini!” jawab Arka. Mereka mengabaikan Arka dan memasang wajah tak peduli.

Arka tidak menghiraukannya. Ia tetap ingin mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba tersebut. Arka tidak membiarkan komentar negatif tersebut memengaruhinya.

Setelah kejadian itu, Arka terus berlatih. Ia belajar dengan tekun dan tak lupa juga untuk berdoa. Arka ingin membuktikan kepada teman yang menghinanya bahwa ia pasti bisa.

Setiap malam sebelum tidur, Arka akan memecahkan soal matematika yang lebih sulit dan mempelajari teori-teori baru. Dukungan dari keluarganya dan Bayu membuatnya makin bersemangat. Ibu dan ayahnya selalu mendengarkan cerita dan rencana Arka dengan penuh perhatian.

Setelah sekian lama Arka berlatih, hari yang dinanti-nanti pun tiba. Sebelum menaiki bus yang akan membawanya menuju kota, Arka berpamitan kepada kedua orang tuanya. Arka bersalaman dan meminta doa kepada kedua orang tuanya.

“Semoga dipermudah menjawab soalnya ya, Nak, Ibu dan Bapak percaya pada Arka,” ucap kedua orang tuanya.

“Semangat Arka, kamu pasti bisa,” ucap Bayu.

“Makasih, Ibu, Bapak, Bayu. Arka janji, bakalan berusaha sebaik mungkin.” Jawab Arka dengan tersenyum lebar sambil menaiki bus.

Arka pun sampai di lokasi lomba, perasaannya campur aduk, antara kegembiraan dan kecemasan. Tempat itu sangat besar dan ramai, penuh dengan peserta dari berbagai sekolah.

Di ruang ujian, Arka duduk di bangku dan melihat soal-soal yang disediakan. Soal-soal tersebut bervariasi, mulai dari yang sederhana hingga yang sangat kompleks.

Dengan hati-hati, Arka mulai mengerjakan soal-soal tersebut. Ia merasa nyaman dan percaya diri berkat semua latihan yang telah dilakukannya di rumah.

Beberapa jam kemudian, pengumuman hasil lomba diumumkan. Suasana di ruangan menjadi tegang.

Arka berdiri di samping teman-temannya. Semua mata tertuju ke panggung tempat para juri berdiri. Nama-nama pemenang dipanggil satu per satu.

Ketika nama Arka disebut sebagai juara pertama, ruangan meledak dalam sorakan. Arka merasa seperti melayang. Ia begitu senang dan sangat bersyukur karena Allah telah mengabulkan doanya. Arka juga bersyukur memiliki orang tua yang selalu mendukungnya.

Saat Arka melangkah ke panggung untuk menerima hadiah dan sertifikatnya, ia melihat orang tuanya berdiri di sudut ruangan dengan mata yang bersinar bangga. Ia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.

Kemenangan ini bukan hanya tentang hadiah atau penghargaan. Bagi Arka, ini adalah bukti bahwa usaha dan ketekunannya telah membuahkan hasil. Ia merasa bahwa semua malam tanpa tidur serta latihan yang keras, tidak sia-sia.

Setelah acara itu selesai, Arka menuju sekolahnya. Dengan bangganya, ia membawa berita tentang kemenangannya itu.

Arka mendapatkan banyak dukungan dari para guru. Anak-anak yang merundungnya dahulu akhirnya meminta maaf kepada Arka. Arka pun memaafkannya.

Beberapa bulan setelah lomba, Arka mulai mendapatkan perhatian lebih di desanya. Anak-anak lain mulai melihat matematika dengan cara yang berbeda. Mereka pun menjadi lebih tertarik untuk belajar, dan beberapa di antaranya bahkan mulai meminta bantuan Arka dalam pelajaran matematika.

Arka merasa sangat senang bisa membantu teman-temannya. Ia menyadari bahwa matematika tidak hanya tentang angka dan rumus, tetapi juga tentang berbagi pengetahuan dan membantu orang lain.

Ia mulai mengadakan kelas matematika kecil di rumahnya. Ia mengajarkan anak-anak desa tentang matematika dengan cara yang menyenangkan.

Keluarga Arka sangat bangga dengan pencapaiannya. Meskipun tidak kaya, mereka merasa bahwa Arka telah mencapai sesuatu yang lebih berharga daripada harta benda. Mereka melihat betapa besar dampak positif yang dapat diberikan oleh seorang anak dengan tekad dan passion.

Ketika Arka tumbuh dewasa, impiannya untuk menjadi matematikawan makin kuat. Ia melanjutkan studinya di universitas dan berhasil mendapatkan gelar di bidang matematika.

Arka dikenal sebagai seorang matematikawan yang inovatif dan kontribusinya dalam dunia matematika sangat dihargai. Ia tidak pernah melupakan desa kecilnya dan semua orang yang telah mendukungnya sejak awal.

Arka sering kembali ke desanya untuk mengajar dan berbagi pengetahuan dengan generasi muda. Ia ingin memastikan bahwa anak-anak desa lainnya juga memiliki kesempatan untuk mengejar impian mereka, seperti yang telah ia lakukan.

Arka membuktikan bahwa dengan tekad, dedikasi, dan dukungan yang tepat, seseorang dapat mengatasi segala rintangan dalam mencapai impian mereka. Arka menunjukkan bahwa angka-angka dan rumus-rumus bukan hanya sesuatu yang membosankan, tetapi bisa menjadi kunci untuk membuka pintu kesuksesan dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Arka sangat bersyukur memiliki orang tua dan teman yang selalu mendukungnya.

Dan di desa kecil itu, Arka tetap dikenal sebagai anak yang membuktikan bahwa dengan semangat dan kerja keras, mimpi-mimpi bisa menjadi kenyataan. Bahkan, bagi seorang anak dari desa kecil yang hanya memiliki sebatang pensil dan segudang mimpi. [CM/NA]

Views: 30

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *