Oleh: Hessy Elviyah, S.S.
(Kontributor Tetap CemerlangMedia.Com)
Individu dalam Islam tidak hanya fokus untuk mencari harta kekayaan guna menopang hidup, tetapi juga mencari bekal untuk akhiratnya. Teknologi yang dikuasai oleh individu muslim senantiasa dicurahkan untuk kepentingan umat dan kemajuan Islam.
CemerlangMedia.Com — Alat tukar dalam bertransaksi atau uang marak dipalsukan. Hal ini sangat merugikan rakyat karena uang palsu tidak laku di pasaran. Ternyata, Bekasi menjadi tempat percetakan uang palsu.
Baru-baru ini, percetakan uang palsu ditemukan di Bekasi, Jawa Barat. Bertempat di Jalan Ir. H. Juanda, Margahayu, Bekasi Timur, polisi menggerebek percetakan uang palsu hingga milyaran rupiah pada Jumat (6-9-2024). Setidaknya, ada 10 orang yang ditangkap dalam penggerebekan ini, termasuk pemilik toko. Percetakan uang palsu ini bermodus tempat percetakan undangan atau digital printing (pmjnews.com, 13-09-2024).
Lebih jauh, pencetak uang palsu di Bekasi ini telah beroperasi selama satu tahun. Selama itu, para tersangka telah mencetak 6 kali uang palsu. Hal ini diungkapkan oleh Brigjen Helfi Assegaf selaku Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri. Dalam kesempatan yang berbeda, Kasubdit IV Dittipideksus Bareskrim Polri Kombes Andri S. menyampaikan bahwa dalam sekali cetak, para tersangka mampu mencetak sebanyak 12.000 lembar (detikNews.com, 13-09-2024).
Uang Palsu Tumbuh Subur
Tidak dapat dimungkiri, kebutuhan akan uang di sistem kapitalisme sekularisme liberalisme ini luar biasa. Hal-hal yang tidak semuanya dibebankan kepada rakyat, artinya menjadi tanggung jawab negara untuk memenuhinya. Namun pada sistem ini, rakyat harus membayar mahal, contohnya biaya pendidikan, kesehatan, dan lainnya.
Kondisi seperti ini menuntut seseorang untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. Mereka yang memang dalam sistem kapitalisme sekularisme liberalisme ini dituntun untuk menjauh dari agama, tidak lagi memedulikan dengan langkah halal atau haram dalam mengumpulkan uang. Mereka hanya berambisi mempunyai banyak uang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan gaya hidupnya.
Tak ayal, segalanya dilakukan walaupun melanggar hukum. Segala peluang dilakukan untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Mustahil para tersangka pencetak uang palsu tersebut tidak mengetahui ancaman hukumannya. Namun, mereka tidak dapat mengendalikan nafsu untuk melakukan tindakan kriminal yang dapat merugikan orang lain, bahkan negara. Adapun kerugian negara akibat beredarnya uang palsu ini, antara lain dapat menimbulkan inflasi sektoral, hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap rupiah, kerugian finansial, dan sebagainya.
Lebih jauh, beredarnya uang palsu didorong oleh beberapa faktor, di antaranya faktor ekonomi. Ekonomi kapitalistik yang menyebabkan pendistribusian kesejahteraan tidak merata ke setiap individu menyebabkan ketidakstabilan ekonomi di tengah masyarakat. Gap ekonomi antara si miskin dan si kaya terbuka lebar. Terlebih, fenomena flexing harta menjadi tradisi saat ini. Alhasil, mereka berpacu untuk bermegah-megahan dan mengunggahnya di akun media sosial miliknya.
Di samping itu, pengangguran dan kesempatan kerja yang sangat sulit menyebabkan daya beli (kepemilikan terhadap uang) menjadi rendah. Hal ini juga dapat memicu seseorang untuk mencetak uang palsu. Di tambah lagi, bahan baku pembuatan uang kertas, tanpa standarisasi emas sehingga bisa dengan mudah dipalsukan oleh oknum berotak kriminal.
Sebenarnya bukan kali ini saja penemuan uang palsu terjadi. Namun, sanksi yang diberlakukan oleh negara tidak membuat jera para pelaku kriminal sehingga kejadian ini terus terulang. Mirisnya, kejadian ini terjadi di tengah kondisi rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika.
Demikianlah, sistem buruk kapitalisme membuat manusia terjerumus untuk melakukan tindakan kejahatan. Setiap pilarnya rapuh, terdapat sela-sela kesempatan berbuat apa saja sesuai kehendak hati manusia serakah. Tidak ada yang mampu menghentikan, selain mengganti sistem kehidupan dengan sistem yang lebih baik.
Islam Sistem Terbaik
Ajaran Islam memang sempurna. Islam mewajibkan penggunaan mata uang yang berbasis emas dan perak. Terbukti, sistem moneter yang menggunakan emas dan perak stabil dan jarang krisis.
Ada beberapa sebab sistem moneter menggunakan emas dan perak stabil, di antaranya nilai instinsik dan nominal sama pada mata uang sehingga tidak menyebabkan manipulatif. Emas dan perak juga sulit dipalsukan. Demikian pula, pemerintah tidak akan mencetak uang seenaknya yang dapat menyebabkan terjadinya inflasi.
Di samping itu, penerapan sistem ekonomi Islam mampu menjangkau kesejahteraan per kepala. Hal ini mampu mengatasi ketidakstabilan ekonomi masyarakat. Pemberlakukan zakat, infak, dan sedekah mampu menghapus gap dalam masyarakat di negara Islam.
Di sisi lain, tanggung jawab negara dalam menjamin kebutuhan dasar warga merupakan periayahan mutlak dalam sistem Islam. Hal ini adalah konsekuensi dari diterapkannya syariat Islam secara menyeluruh. Tidak akan ditemukan warga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, sebab negara telah menyediakannya secara murah, bahkan gratis.
Dengan demikian, individu dalam Islam tidak hanya berfokus pada mencari harta kekayaan untuk menopang hidup, melainkan juga mencari bekal di dunia untuk akhiratnya. Teknologi yang dikuasai oleh individu muslim senantiasa dicurahkan untuk kepentingan umat dan kemajuan Islam. Sebab, dalam diri individu muslim terpatri bahwa apa pun yang dilakukan akan mendapatkan balasan di akhirat kelak. Alhsil, berlaku curang seperti mencetak uang palsu dapat diminimalkan atas dasar ketakwaan.
Demikian pula masyarakat yang membiasakan amar makruf nahi mungkar. Kontrol masyarakat sangat penting untuk menciptakan suasana aman dan sejahtera. Setiap muslim diajarkan peduli terhadap sesama sehingga kehidupan muslim terbiasa tolong-menolong. Insyaallah, tidak ada yang kekurangan secara materi ketika hidup dalam lingkungan masyarakat Islam.
Terpenting adalah peran negara yang mengontrol setiap aktivitas rakyatnya. Pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat tidak segan-segan diberi sanksi sesuai syariat, yakni sanksi tegas dan memberi efek jera sehingga kejadian yang sama tidak terjadi berulang. Insyaallah. Wallahu a’lam. [CM/NA]
Views: 41






















