#30HMBCM
Penulis: Adine Azaria
Bab 5 Kelahiran Istimewa 2
CemerlangMedia.Com — Sepulang dari perayaan kelahiran Pangeran Wang Won di Istana Manwoldae, Kim Yeongmyeong turun dari kudanya dan tiba di pintu gerbang rumahnya. Dua orang budak laki-laki yang sedang berjaga dengan sigap menyambut kepulangan tuan mereka, membuka pintu gerbang, mengambil alih kuda majikannya, membawanya ke bagian belakang rumah tempat kandang kuda, serta kembali menutup dan mengunci pintu gerbang.
Suasana suka cita bukan hanya di Manwoldae, tetapi juga di rumah keluarga wakil menteri keuangan. Itu semua karena anaknya juga lahir di hari yang sama dengan kelahiran Pangeran Wang Won. Saat di istana tadi, ucapan selamat tidak hanya membanjiri Ratu Jeguk, terapi juga membanjiri dirinya. Kelahiran yang berbarengan ini sungguh unik menurut banyak orang.
Tuan Yeongmyeong masuk ke kamar istrinya, Nyonya Gayeon. Terlihat istrinya sedang menyusui bayi cantik di dekapannya. Para pelayan wanita yang membantu dan menemani Nyonya Gayeon langsung berpamitan keluar satu per satu dan berjaga di luar, memberikan ruang privasi bagi majikannya. Tuan Yeongmyeong dan Nyonya Gayeon kemarin telah sepakat menamai putri cantik mereka dengan nama Kim Myeonghwa. Nama indah yang artinya, bunga yang bersinar membawa kedamaian.
Nyonya Gayeon dengan bersemangat menyambut kedatangan suaminya, lalu ia berucap,
“Daegam! Tahu tidak, tadi pagi saya baru menyadari sesuatu? Putri kita memiliki tanda lahir yang cukup kecil di belakang telinga kanannya. Bentuknya seperti bulan sabit! Bayi kita lahir dengan rambut yang cukup banyak, sehingga menutupi tanda lahir tersebut. Saya baru menyadarinya tadi pagi saat memandikan Myeonghwa.”
“Betulkah itu, Buin? Coba saya lihat!” Tuan Yeongmyeong bereaksi dengan bersemangat.
Tuan Yeongmyeong dengan pelan dan hati-hati membalik daun telinga kanan bayi cantiknya yang sedang menyusui. Berjaga agar Myeonghwa tidak merasa terusik dan menangis. Letak tanda lahir itu memang terpencil dan kecil, serta bentuk bulan sabitnya sangat rapi berwarna hitam. Wakil menteri keuangan yang baru saja menjadi ayah itu merasa takjub. Mereka tidak mengerti ini pertanda apa. Hanya saja memang terasa misterius dan mengagumkan, sekaligus istimewa.
“Wah, luar biasa, Buin! Putri kita bertambah cantik dengan tanda lahir identik seperti ini.” Tuan Yeongmyeong menatap dengan antusias.
Nyonya Gayeon merasa senang dengan ekspresi suaminya. Tak lama kemudian Myeonghwa mungil selesai menyusu dan tertidur lelap di dekapan Nyonya Gayeon.
Tuan Yeongmyeong membantu anak dan istrinya tidur beristirahat dengan posisi yang nyaman. Mereka berbincang ringan, sambil Tuan Yeongmyeong menepuk pelan samping kepala istrinya hingga ia tertidur lelap.
Setelah itu, Tuan Yeongmyeong keluar dan menyuruh salah satu budak pelayan wanita untuk menemani tidur Nyonya Gayeon bersama bayi mereka agar istrinya mudah mendapatkan pertolongan dan bantuan jika terbangun tengah malam nanti. Sedangkan dia sendiri menuju ke kamarnya dan beristirahat.
Jauh di belahan dunia yang lain, seorang putra kaum muslimin di Baghdad juga lahir di hari yang sama dan memiliki letak dan bentuk tanda lahir yang sama persis dengan bayi Myeonghwa. Bayi laki-laki itu lahir dengan sehat dan sempurna, suara tangisan yang keras yang membawa kebahagiaan bagi keluarga besarnya.
Kakek Ahmad, orang yang paling dituakan dan dihormati di keluarga itu menjadi orang yang paling bahagia dengan kelahiran cucu pertamanya. Keluarga besarnya berkumpul di rumah suka cita Tuan Hasan dan Nyonya Yasmin, anak lelaki dan menantu perempuan Kakek Ahmad.
Di tengah kegembiraan keluarganya, kakek Ahmad masih bertanya-tanya tentang mimpinya, sehari sebelum cucunya lahir. Ia diperlihatkan dengan dua bulan sabit yang bersinar keemasan, satu di timur, dan satunya lagi di Timur Tengah, di Baghdad, kota tempatnya tinggal.
Kedua bulan sabit emas itu kemudian saling terhubung dengan garis merah. Lalu bulan sabit yang di timur ditarik oleh bulan sabit yang di Baghdad, kemudian menyatu dan menjadi hiasan indah yang dikagumi semua orang. Ia sungguh tidak memahami apa maksud dari mimpi tersebut. Apakah hanya bunga tidur semata atau justru ada makna tertentu di baliknya?
Di tengah lamunannya, kakek Ahmad tersentak ketika Hasan dan Yasmin berseru kaget sekaligus senang. Mereka berkata,
“MaasyaAllah, suamiku, lihatlah, bayi shalih kita memiliki tanda lahir berbentuk bulan sabit berwarna hitam di belakang daun telinganya!”
“Benarkah itu? Coba kulihat juga,” ujar Hasan kepada Yasmin dengan rasa penasaran sekaligus takjub.
Keluarga mereka yang hadir di sana juga merasa kagum dengan hal itu. Mereka tak lupa menyebut nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mengucap syukur agar rasa takjub mereka tidak mendatangkan ‘ain bagi si bayi.
Keluarga yang hadir bergantian ingin melihat tanda lahir yang unik itu, sementara kakek Ahmad tetap diam di kursinya. Sayang sekali beliau menderita kebutaan sejak lahir. Dirinya juga penasaran dengan tanda lahir cucunya, namun apa daya tidak bisa melihatnya.
Hasan dan Yasmin mendiskusikan nama apa yang akan diberikan untuk putra mereka dan akhirnya memilih nama Mush’ab. Mush’ab bin Hasan bin Ahmad. Harapannya adalah agar kelak bayi laki-laki mereka yang tampan ini menjadi anak shalih seperti sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Mush’ab bin Umair, yang terkenal karena beliau pemuda tampan dan berasal dari keluarga kaya, namun lebih memilih kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya daripada kemewahan dunia, dan berakhir dalam mati syahid yang husnul khotimah.
Sebuah nama istimewa yang mengandung doa serta harapan terbaik bagi bayi mungil tampan yang baru saja lahir. Selain itu mereka juga mendiskusikan acara aqiqah untuk Mush’ab, serta hal lainnya.
Setelah tamu-tamu serta keluarga pergi satu per satu dan rumah menjadi sunyi, kakek Ahmad menghampiri Hasan, anaknya. Ia menceritakan mimpinya yang aneh kepada putranya. Hasan merasa takjub serta penasaran juga terhadap mimpi ayahnya. Kakek Ahmad kemudian memberikan saran kepada putranya sambil merangkul pundaknya,
“Ajaklah putramu kelak ikut berdagang denganmu dan rombongan pedagang lainnya ke negeri-negeri di timur sana. Kaisar Mongol meski pernah menghancurkan kita, tetapi mereka juga terbuka dengan hubungan dagang dan memberikan kesempatan yang baik bagi kita. Ayah tidak tahu apa makna mimpi ayah ini. Hanya saja, ayah merasa kita bisa menemukan jawabannya jika kau dan anakmu nanti pergi ke sana. Ajarlah dia ilmu agama dan ilmu dunia, serta perdagangan. Lalu berdakwahlah kalian di timur jauh sana. Semoga Allah memberikan petunjuk dan jawaban yang baik bagi keluarga kita, atas hadirnya mimpi ayah ini.”
Hasan memandangi ayahnya dengan takzim seraya berucap, “baik, ayah. Akan kami laksanakan apa yang menjadi nasehat ayah. InsyaAllah.”
Kakek Ahmad lalu menepuk-nepuk pundak Hasan, kemudian berpamitan untuk tidur di kamarnya. Meski beliau buta, tetapi kakek Ahmad sudah sangat terbiasa. Ia dengan insting tajam dan tongkat andalannya, bisa berjalan perlahan ke kamarnya tanpa dibantu. Ketiadaan satu panca indera seringkali menimbulkan kepekaan terhadap panca indera yang lain. Sehingga itu sangat membantu orang-orang seperti kakek Ahmad.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 1






















