#30HMBCM
Karya: Fitri Nur Laila
Bab 6 Langkah Baru
CemerlangMedia.Com — Hari ini Darwin mulai masuk sekolah. Dia mengulang lagi di kelas satu karena tahun ajaran kemarin dia berhenti di tengah jalan. Darwin memakai seragam merah putih dengan hati senang dan riang. Akhirnya setelah beberapa bulan tidak sekolah, kini ia bisa bersekolah lagi.
Bu Rani mengantar Darwin ke sekolah barunya dengan berjalan kaki, letaknya hanya beberapa meter dari rumah mereka. Sekitar 5 menit sudah sampai sekolah. Darwin masih canggung saat pertama kali masuk di kelas barunya. Semua terasa asing dan berbeda. Tak ada satu pun yang dikenalnya.
Sementara Riko kini sudah duduk di bangku kelas dua, ia kini menjadi kakak kelasnya Darwin. Bel tanda masuk sekolah berdering, semua siswa berbaris di depan kelasnya masing-masing. Darwin berbaris di barisan paling akhir di deretan baris kedua. Ia tersenyum ramah pada semua teman-teman barunya.
Ada yang membalas senyuman, namun ada pula yang hanya diam tak respons apa-apa. Mungkin karena masih malu atau enggan, karena belum kenal. Di dalam kelas yang terasa asing, namun penuh kehangatan oleh riuh anak-anak baru. Darwin menikmati setiap menit kebersamaan yang terasa menyenangkan.
Di setiap sudut ruang kelas seperti sapaan ramah yang mengawali hari yang baru untuk meniti harapan baru. Langkah kaki guru yang memasuki kelas, seperti musim hujan yang membawa kesegaran. Membawa semangat diawal pengajaran. Anak-anak kelas satu yang masih terlihat lucu dan menggemaskan. Selalu membuat kenangan yang mengesankan.
Sementara itu, di rumah, Bu Rani sudah mulai menjalankan usaha laundry-nya. Para penghuni kos juga merasa senang dengan adanya laundry di dalam kos-kosan. Mereka kini tak perlu lagi keluar jauh untuk me-laundry baju kotor mereka. Namun, ada juga beberapa anak kos yang memiliki kantong pas-pasan, mencuci pakaian mereka sendiri secara manual.
Senja kini telah berakhir, menjelma menjadi pagi yang cerah bersama sejuknya embun yang membawa butiran-butiran harapan. Bu Rani sudah tak lagi mengingat masa lalunya yang kelam. Di dalam hati dan fikirannya hanya ada semangat untuk menapaki jalan menuju masa depan anak-anaknya yang cerah.
“Bu Rani… maaf nih ya, sedikit kepo, setelah Bu Rani tinggal apa pernah Ayahnya anak-anak menanyakan kabar atau datang buat jemput gitu?” tanya Bu Tifa penasaran saat tengah berkunjung ke rumah Bu Rani.
Bu Rani termenung sejenak, lalu ekpresinya menjadi sendu. “Mana mungkin dia menjemputku, tanya kabar saja tidak pernah. Paling dia sekarang sedang sibuk dengan kesenangannya di luar sana,” tampak garis getir dalam raut wajah Bu Rani saat mengingat suaminya.
Bu Tifa menghela nafas perlahan, “Sabar ya, Bu Ran, aku yakin, jenengan pasti bisa melewati semuanya tanpa laki-laki resek itu,” Bu Tifa berbicara dengan nada serius dan penuh dukungan.
“Kamu benar, Tifa, aku juga sudah tak berharap apa-apa lagi padanya,” tegas Bu Rani dengan wajah datar.
“Sekarang yang penting, strong! The power of emak-emak,” ucap Bu Tifa dengan menggebu, tangannya menggenggam dan sorot matanya berapi-api memberi semangat pada Bu Rani.
Sementara itu, Bu Rani hanya tersenyum melihat tingkah tetangganya itu. Bu Tifa memang dikenal sebagai sosok yang perhatian dengan orang lain. Jiwa sosialnya juga tampak semenjak dia masih kecil. Saat berumah tangga, ia memiliki suami yang bersifat hampir sama dengannya. Maka tak heran jika sampai sekarang suaminya terpilih menjadi ketua RT di lingkungannya.
****
Di sebuah tempat hiburan malam yang berada di tengah Kota Surabaya, tampak Pak Rahman sedang menikmati segelas wiski. Sesekali kepalanya bergerak dan kakinya dihentakkan kecil mengikuti alunan musik disco. Setelah minuman di gelasnya habis, ia pun bergabung di lantai dansa, berkumpul bersama para penikmat dunia gemerlap.
Pak Rahman merasa berada di surga dunia, saat ada seorang wanita cantik berpakaian seksi mendekat dan merayunya dengan manja. Lalu keduanya berjoget bersama menikmati music disco yang semakin malam semakin mengasyikkan. Sampai setelah diskotik telah tutup, Pak Rahman dan wanita seksi itu masih terlena dan melanjutkan kesenangan mereka di tempat lain.
Keesokan harinya Pak Rahman bangun dengan kepala pusing, aroma alkohol tercium menyengat di pakaiannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, Pak Rahman mengeram dan memaksa tubuhnya yang terasa berat ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah rutinitas mandi selesai, tubuh Pak Rahman terasa segar, namun kepalanya masih pusing karena kebanyakan minum semalam.
Sebelum berangkat kerja, Pak Rahman mampir terlebih dulu di warung sebelah tempat kerjanya. Ia memesan sepiring lontong balap, dan segelas kopi hitam. Tak pernah ketinggalan sebungkus rokok kretek kesukaannya dan pasangannya korek gas, selalu berada di saku celananya.
Hari-hari dilalui Pak Rahman dengan bersantai dan menyenangkan dirinya sendiri. Ia lupa jika ada tanggung jawab besar yang telah dilalaikannya. Namun begitulah Pak Rahman, ia tak pernah merasa bersalah atas semua yang telah terjadi.
Waktu itu, saat dirinya pulang ke Desa Warujati dan tak mendapati anak istrinya di rumah, ia merasa marah dan tak terima. Bapak dan emaknya menasehati dan menyuruhnya untuk menjemput anak istrinya ke Surakarta dan meminta maaf pada ayah Bu Rani. Alih-alih menuruti perkataan orang tuanya, Pak Rahman justru menyalahkan Bu Rani yang pergi begitu saja tanpa pamit pada dirinya.
“Bapak dan emak masih saja membela Rani, coba lihat, apa benar pergi dari rumah tanpa izin dari suami?” dengkus Pak Rahman sambil menatap bapak dan emaknya.
“Coba kamu lebih peduli dengannya, mungkin Rani masih mau bertahan dengan segala kekuranganmu Man. Bapak tidak membela siapa pun, Bapak hanya ingin menasehati anakku yang salah,” tegas bapaknya dengan rahang mengeras dan nada yang berat. Sesekali terdengar napasnya tertahan seperti menahan sesuatu di tubuh rentanya.
Pak Rahman terdiam, matanya nanar menatap foto pernikahannya dengan Bu Rani yang tergantung di tembok tepat di hadapannya. Emosinya kian berkecamuk, rasa rindu pada anak istrinya yang membelenggu nyatanya tak mampu meruntuhkan egonya yang berdiri kokoh di dinding hatinya.
“Man, tolong kau bawa peralatan di tas ke lantai tiga, kita prepare di sana,” perintah mandor proyek pada Pak Rahman yang seketika membuat lamunannya buyar.
“Eh, siap, Pak,” jawabnya sedikit terkaget. Pak Rahman kemudian bergegas mengambil peralatan kerja yang ada di tas di gudang proyek yang ada tak jauh dari tempatnya berdiri. Sementara teman-temannya yang lain sudah berpencar ke titik kerja yang sudah ditentukan oleh mandor proyek.
Proyek besar yang dikerjakan oleh mandor Pak Rahman dan teman-temannya sudah memasuki bulan kedua. Pak Rahman dan beberapa temannya yang berasal dari desa Warujati merasa bersyukur bisa ikut bekerja di proyek besar itu. Gaji mereka juga lebih mahal dari proyek lainnya. Belum lagi di tambah lembur yang terjadwal tiga sekali dalam seminggu.
Saat hari libur, biasanya Pak Rahman dan teman-temannya pergi ke tempat hiburan yang ada di sekitar lokasi kerja mereka. Terkadang saat pulang kerja tidak lembur, mereka nongkrong di warung-warung sekedar untuk bersantai. Jika tidak begitu, mereka menonton pertandingan sepak bola yang sedang tayang live. Kebetulan ada salah satu warung lesehan di dekat tempat tinggal mereka yang menyediakan televisi.
“Mbak, saya pesan lalapan ayam pake terong goreng, sama tahu tempenya satu ya!” ucap seorang wanita muda yang baru saja masuk ke warung lesehan “Yu Ida” dengan sedikit tergopoh.
“Siap Mbak Tina, ditunggu, ya.. ” sahut mbak Ida yang terlihat masih sibuk menghaluskan sambal di cobek batunya yang berukuran sedang.
Wanita itupun menunggu pesanannya sambil duduk di kursi kayu panjang yang ada di depannya. Sekilas ia melirik pada Pak Rahman dan teman-temannya yang sedang asyik nonton pertandingan bola. Pak Rahman yang menyadari kehadiran wanita itu merasa tertarik dan mulai mendekatinya dengan berpura-pura mengambil kerupuk yang ada di dekatnya.
“Maaf, permisi, Mbak, saya mau mengambil kerupuk,” celetuk Pak Rahman sekedar basa basi seraya mengulurkan tangannya ke dalam kantong plastik kerupuk.
“Oh iya, silakan, Mas!” wanita berkaos merah itu terlihat cuek dengan kehadiran Pak Rahman, setelah berkata pada Pak Rahman, ia kembali asyik dengan gawainya.
Merasa tidak dipedulikan, Pak Rahman pun memulai pembicaraan. “Mbaknya asli orang sini, ya! ” ucapnya basa basi.
Mbak itu menoleh sejenak menatap wajah Pak Rahman, “Bukan, aku aslinya orang Blitar. Masnya kerja di proyek pembangunan mall itu, ya?”
“Iya, loh! Kok tau Mbaknya? ”
“Taulah, aku sering lihat Mas lewat depan salonku saat pulang kerja bareng teman-temannya itu,” jelas wanita itu seraya meletakkan gawainya di ke dalam saku celana jeansnya yang terlihat ketat dan membentuk lekuk kaki dan pinggulnya.
“Boleh kenalan?” tanya Pak Rahman sambil tersenyum tipis dan mata bersinar.
“Aku, Tina,” wanita itu mengulurkan tangannya dengan wajah sumringah.
“Aku, Rahman,” seperti angin segar, Pak Rahman menyambut uluran tangan Tina.
“Kalau Mas Rahman, aslinya orang mana?” tanya Tina seraya memperhatikan gerak Pak Rahman yang mulai menyulut rokok kreteknya.
“Aku orang Madiun,” ucapnya singkat dengan tersenyum hangat. Perlahan ia menyesap rokoknya, kemudian menghembuskan asapnya ke udara dengan santai.
Detik selanjutnya mereka berdua asyik bercerita ke sana ke mari sampai tanpa Tina sadari pesanannya sudah selesai dibuatkan.
“Mbak Tin…” Ida mengulurkan bungkusan yang sudah di masukkan dalam kantong plastik pada Tina yang seolah lupa dengan tujuannya ke warung saking asyiknya ngobrol.
“Eh, iya Mbak, ini.” Tina mengulurkan selembar uang 50 ribuan kepada Ida dari balik saku celana jeansnya pada bagian belakang.
“Kalau potong rambut laki-laki boleh tidak di salonmu?” tanya Pak Rahman dengan tatapan penuh harap.
Tina yang sudah menangkap sinyal suka sejak awal Pak Rahman mendekatinya tadi hanya tersenyum. “Maen-maen aja ke tempatku kalau ada waktu senggang,” ucap Tina sambil berlalu.
“Ok,” jawab Pak Rahman tersenyum penuh kemenangan.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 30






















