#30HMBCM
Oleh: Hessy Elviyah, S.S.
CemerlangMedia.Com — Salah satu kerusakan terbesar pada saat ini adalah hilangnya keberanian umat untuk berpikir kritis. Kebanyakan orang saat ini menerima adanya sistem hidup dan beranggapan bahwa sistem hidup yang carut marut ini “memang dari sononya”, padahal nyatanya sistem ini adalah hasil ciptaan atau ulah manusia.
Maka ketika seseorang pemikirannya sudah stuck/berhenti, ia tidak akan melihat pilihan-pilihan lain dalam hidupnya, selain mengikuti dan menikmati hidup dalam sistem rusak ini. Jika hal demikian terjadi, maka ia akan rusak seiring rusaknya sistem yang tidak sesuai dengan fitrah manusia ini.
Lebih jauh, dakwah Islam mengembalikan fungsi akal kepada kedudukannya yang mulia, yakni alat untuk memahami ayat-ayat Allah Swt.. Dakwah tidak anti kepada akal, justru menempatkan akal sesuai dengan rel nya. Akal menimbang fakta yang terindra, sementara syariat memberi standar benar-salah.
Jika akal dibiarkan tanpa standar wahyu Ilahiyah,maka ia akan tersesat. Begitu pula, jika wahyu dibiarkan tanpa analisa dari akal, maka ia tidak akan hidup. Dalam hal ini, dakwah membongkar asumsi-asumsi liar yang berkembang di masyarakat.
Misalnya, pernyataan tentang ” politik memang kotor, jadi manipulasi adalah hal wajar”. Pernyataan ini bisa diluruskan melalui dakwah Islam yaitu dengan cara menjelaskan bahwa politik itu adalah mengurus umat. Jadi politik merupakan amanah bukan alat transaksi. Lebih jauh, kerusakan saat ini bukan sekedar takdir, melainkan dampak dari diterapkannya sistem kapitalisme-sekularisme yang memisahkan antara kekuasaan dari akidah Islam dan akhlak.
Contoh lagi, “agama cukup di mesjid”. Dakwah mengoreksi pemikiran tersebut, bahwa sejatinya Islam adalah ideologi, bukan ritual terbatas. Islam menata ekonomi, sosial,hukum hingga hubungan antarnegara.
“Kemajuan harus mengorbankan halal-haram”. Dakwah Islam menentang logika semacam ini sekaligus menegaskan bahwa kemajuan hakiki justru lahir ketika manusia mengikuti hukum Pencipta-nya.
Dengan cara semacam ini, dakwah mengajak manusia berpikir ulang tentang dunia dan seisinya. Dakwah mengumpulkan kembali keberanian untuk menimbang,mempertanyakan dan mencari kebenaran. Kesadaran seperti ini membuat umat tidak terjebak arus sistem rusak, kapitalisme. Tidak akan mudah kagum pada sistem selain sistem hidup Islam dan tidak mudah tergoda oleh solusi-solusi pragmatis yang jauh dari ajaran Islam.
Dakwah Membentuk Manusia Pembawa Misi
Misi Hidup seorang muslim adalah menyebarkan kebaikan kepada orang lain, tidak untuk baik sendirian. Dakwah menjadikan seorang individu muslim tidak puas berhenti pada perubahan diri sendiri. Ia akan merasa bahwa perubahan dirinya hanyalah awalan, bukan merupakan tujuan akhir.
Islam tidak menginginkan kesalehan terkukung di kamar. Islam ingin kesalihan itu bergerak, mengalir, kemudian membentuk masyarakat. Contohnya seorang yang sadar pentingnya aturan halal-haram tidak hanya menjaga dirinya sendiri dari riba, tetapi ia akan mengajak teman-teman sekitarnya keluar dari jeratan pinjol. Ia akan menjelaskan akar permasalahan riba, bukan sekedar koar-koar mengharamkan.
Orang tua yang memahami akan keadilan sistem islam tidak hanya akan mendidik akhlak anak-anaknya. Akan tetapi menyebarkan kesadaran bahwa ketidakadilan dan kerusakan di masyarakat tidak akan selesai tanpa adanya perubahan sistem hidup.
Begitu pula, seorang pekerja yang memegang prinsip islam di tangannya dalam bekerja, ia tidak hanya jujur dan amanah pada diri sendiri. Akan tetapi ia akan juga mengingatkan teman-teman di lingkungannya terkait standar kerja dalam syari’at.
Dari sini terlihat bahwa dakwah mengubah manusia dari penerima kebaikan menjadi pembawa kebaikan. Dari objek perubahan ke subjek perubahan. Ketika kesadaran ini tumbuh, maka akan lahir kekuatan besar dalam masyarakat. Kekuatan yang tidak bisa dihentikan oleh ancaman, hinaan atau tekanan sosial.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 45






















