Kursi Mimpi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Kartini

CemerlangMedia.Com, MEMOAR — Masa sekolah menengah pertama adalah awal saat aku mulai mengenal banyak hal tentang mimpi. Di sekolah itu, aku sering mendengar teman-teman bercerita tentang cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi dokter, guru, polisi, dan masih banyak lagi. Saat itu, aku juga memiliki sebuah impian yang ingin sekali kuraih.

Setiap kali duduk di kursi kelas, aku sering membayangkan masa depanku. Kursi yang sederhana itu seakan menjadi tempat aku menyimpan semua harapan. Aku membayangkan bagaimana suatu hari nanti aku bisa duduk di tempat yang kuimpikan setelah berhasil melewati semua perjuangan.

Namun, perjalanan ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Saat di masa itulah, ada keadaan yang membuatku harus mengubah beberapa rencana. Keinginan yang sudah lama kusimpan harus berhadapan dengan kenyataan. Aku mulai sadar bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginan dan kendali.

Ada saatnya aku merasa kecewa pada alurku sendiri. Teman-temanku mulai melangkah mengejar impian mereka, sementara aku merasa seperti masih duduk di tempat yang sama. Aku bahkan bertanya-tanya, apakah mimpiku masih bisa menjadi kenyataan?

Hari-hari di sekolah terus berjalan. Aku tetap belajar, bercanda bersama teman, mengikuti pelajaran, dan menjalani hari seperti biasa. Namun, di dalam hati, aku masih menyimpan satu harapan: suatu saat nanti aku bisa kembali mengejar mimpi yang pernah tertunda.

Sekarang, ketika mengingat masa sekolah menengah pertama, aku menyadari bahwa “kursi mimpi” itu bukan hanya tentang sebuah tempat yang ingin kucapai. Kursi itu adalah simbol dari impian yang pernah hampir kutinggalkan karena keadaan diri.

Aku mungkin belum mendapatkan apa yang dulu kuinginkan, tetapi aku belajar bahwa tertundanya sebuah mimpi bukan berarti mimpi itu telah berakhir begitu saja. Kubayangkan hidup itu masih memiliki episode yang harus dituntaskan.

Mungkin kursi itu masih menungguku.

Suatu hari nanti, aku ingin kembali datang kepadanya bukan sebagai seseorang yang menyerah, tetapi sebagai seseorang yang pernah jatuh, pernah terhalang keadaan, dan tetap memilih untuk bermimpi.

Setiap kali mengingat kursi itu, aku juga mengingat diriku yang dulu. Seorang anak sekolah menengah pertama yang duduk dengan banyak pertanyaan di kepalanya, tetapi masih memiliki keberanian untuk membayangkan masa depan. Mungkin saat itu aku belum memahami arti perjuangan yang sebenarnya. Aku hanya tahu bahwa aku memiliki sesuatu yang ingin dicapai.

Waktu terus berjalan dan aku pun perlahan tumbuh. Banyak hal berubah, termasuk cara pandangku terhadap kehidupan. Aku mulai memahami bahwa mimpi tidak selalu harus dicapai dengan jalan yang lurus. Terkadang, kita harus berputar, berhenti sebentar, bahkan kehilangan arah sebelum menemukan jalan kembali.

Oleh karena itu, kursi mimpi akan selalu menjadi bagian dari kisahku. Ia mengingatkanku bahwa pernah ada sebuah mimpi yang begitu berarti, sebuah mimpi yang sempat tertunda, tetapi tidak pernah benar-benar hilang. Selama aku masih memiliki kesempatan untuk melangkah, aku akan terus percaya bahwa cerita itu belum selesai dan akan berlanjut sebelum mendapatkan dua kata yang kusebut sebagai “kursi mimpi”.

Kejarlah impianmu, bukan keinginanmu yang semata-mata. Berbahagialah dengan yang sudah kau capai hingga kau tahu rasanya lelah terbayar oleh kerja keras otak dan organ-organmu yang tanpa pamrih telah membantu dirimu itu. [CM/Na]

Views: 5

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *