Langkah dan Harapan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Syifa Merliana

CemerlangMedia.Com, MEMOAR — Waktu aku kecil, hidupku sangat menyenangkan karena ada keluarga yang selalu menemani dan menuruti apa pun yang aku mau. Apalagi dalam hal pertemanan, aku memiliki banyak teman yang memberikan begitu banyak kenangan dalam hidupku.

Saat aku SD, hidupku terasa makin menyenangkan. Menurutku, hidup itu dinikmati dengan cara bergaul dan bersenang-senang bersama teman-teman. Namun, ternyata aku salah. Saat SD, aku mulai terbiasa bermain setelah pulang sekolah dan sering pulang ke rumah ketika hari sudah sore. Hal itu tentunya membuat orang tuaku marah.

Orang tuaku kemudian memintaku untuk menjauhi beberapa teman di sekolah agar aku tidak mengikuti perilaku mereka. Namun, sebenarnya aku juga menyadari bahwa aku yang salah karena seharusnya aku tidak perlu ikut-ikutan hanya karena takut tidak memiliki teman.

Setelah lulus SD, orang tuaku memutuskan untuk mendaftarkanku ke pondok pesantren. Kata mereka, aku perlu belajar mandiri dan menjauh dari pergaulan yang kurang baik. Tidak pernah terlintas di pikiranku bahwa aku akan bersekolah di pesantren. Menurutku, pesantren itu melelahkan dan terlalu banyak hafalan yang harus dilakukan.

Aku sempat memprotes keputusan itu, tetapi keputusan orang tuaku sudah bulat dan tidak bisa dibantah. Aku pun mengambil ponsel dan memberi tahu teman-teman SD-ku bahwa aku akan mondok. Mereka terkejut karena sebelumnya kami berencana melanjutkan sekolah bersama di satu sekolah umum. Jujur saja, saat itu aku merasa sangat sedih.

Hingga tiba saatnya hari ketika aku diantar menuju asrama pondok.

Saat pertama kali memasuki asrama, aku disambut dengan senyum ramah dari ustazah dan kakak-kakak pengurus. Aku melihat ibuku mengisi beberapa data tentang diriku dan menyelesaikan pembayaran asrama. Aku hanya menatapnya sambil menahan air mata. Rasanya berat sekali harus masuk ke sekolah yang sama sekali tidak pernah aku rencanakan.

Setelah selesai melakukan pembayaran, ibu berbicara sebentar dengan ustazah. Aku menunggu sambil menunduk. Beberapa menit kemudian, ustazah memanggilku dan menyuruhku mengikutinya menuju kamar di lantai atas.

Setelah mengantarkanku ke kamar, ustazah berpamitan karena ada murid lain yang sudah menunggu untuk mengisi data. Di dalam kamar, hanya ada aku dan ibu. Ibu membantuku merapikan pakaian dan memasukkan barang-barangku ke dalam lemari.

Aku menatap ibu dan berkata,

“Bu, aku nggak bisa di sini. Aku takut sendirian, takut nggak punya teman, dan takut nggak bisa menghafal.”

Ibu menatapku dengan senyum lembut.

“Pondok ini tempat kita belajar mandiri dan mengejar cinta Allah, Nak. Kalau kamu takut nggak punya teman, takut dimusuhi, atau takut nggak bisa menghafal, semuanya bisa dilakukan pelan-pelan. Semua itu adalah proses yang harus kamu jalani dengan percaya diri. Ibu percaya kamu bisa, Nak.”

Aku menatap ibu. Dari perkataannya, aku bisa merasakan begitu banyak harapan yang ia titipkan kepadaku.

“Baiklah, Bu. Aku usahakan. Tapi doain aku, ya, Bu,” kataku.

Setelah selesai membereskan pakaian dan menata barang-barangku di lemari, ibu pun berpamitan. Ibu memelukku erat dan berkata, “Kamu baik-baik, ya, di sini. Jangan bikin ulah. Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, apa pun itu.”

Aku membalas pelukannya sambil tersenyum.

“Iya, Bu. Sering-sering jenguk aku, ya, nanti.”

Saat ibu pulang, aku menangis karena rasanya sangat berat harus tinggal di pondok tanpa keluarga. Aku merasa kehilangan sosok yang setiap hari selalu ada di sampingku.

Saat aku sedang menangis, salah satu ustazah menghampiriku. Ia mengelus kepalaku dengan lembut dan bertanya mengapa aku menangis.

Aku menjawab, “Aku nggak mau jauh-jauh dari ibu, Ustazah. Rasanya hampa sekali tanpa ibu di sisiku setiap hari.”

Ustazah tersenyum dan berkata, “Kalau kamu merindukan ibumu, tatap saja bulan, Nak. Bulan itu jauh, tetapi sinarnya tetap menerangi sekitar kita setiap malam. Begitu juga dengan ibumu. Walaupun jauh, kasih sayang dan doanya akan selalu menyertaimu. Jadi, belajarlah dengan sungguh-sungguh di sini supaya ibumu bangga dan percaya bahwa kamu bisa mandiri melewati banyak hal.”

Perkataan ustazah itu membuatku sedikit lebih tenang. Sejak saat itu, aku mulai mencoba menjalani hari-hariku di pondok dengan lebih ikhlas.

Selama tiga tahun mondok, aku sangat bersyukur karena banyak hal yang aku pelajari. Aku belajar mengatur waktu, hidup mandiri, bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan menghadapi berbagai hal yang sebelumnya belum pernah aku ketahui.

Awalnya, aku mengira pondok adalah tempat yang tidak akan pernah bisa aku jalani. Namun ternyata, dari tempat itulah aku belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri dan berani menghadapi kehidupan.

Dari semua perjalanan yang aku lalui, ada satu pelajaran yang paling aku ingat: kita harus terus berusaha dan jangan menyerah. Ketika dunia memberimu seribu alasan untuk berhenti, temukan satu alasan untuk terus melangkah. Jangan takut mencoba hal-hal baru, karena jika ingin berkembang, kita harus berani keluar dari rasa takut dan mencoba sesuatu yang belum pernah kita lakukan.

Pada akhirnya, setiap langkah memiliki cerita dan setiap harapan memiliki tujuan. Jadi, teruslah melangkah ke depan dengan caramu sendiri karena mungkin saja langkah yang awalnya tidak kita inginkan, justru membawa kita menuju sesuatu yang jauh lebih berarti. [CM/Na]

Views: 3

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *