Peta yang Tidak Pernah Selesai

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Karya. Fawatifu Syu’ara

CemerlangMedia.Com, CERPEN — “Tanda silang… cocok kuletakkan di sini,” ucapku dalam hati.

Jariku terus menari tanpa peduli pada apa yang terjadi di sekitarku.

Sampai tepat di atas gambar sebuah bangku, ujung pensilku berhenti. Aku mengamatinya beberapa detik, lalu membuat satu garis kecil di sebelahnya.

“Tempat menunggu jemputan.”

Aku Raka, anak kelas VIII di salah satu sekolah negeri di kecamatan. Kalau ditanya apa hobiku, dengan tegas akan kujawab: menggambar.

Bukan menggambar wajah atau pemandangan seperti kebanyakan anak. Aku lebih suka menggambar peta. Tapi peta yang kumaksud bukan peta kota atau peta pulau. Aku suka menggambar peta sekolah.

Bel pulang belum berbunyi, tetapi sebagian anak di kelas VIII-B sudah mulai memasukkan buku ke dalam tas. Ada yang menutup resleting pelan-pelan agar tidak ketahuan guru. Ada yang sudah berdiri sambil memasukkan penghapus ke saku. Dimas, teman sebangkuku, bahkan sudah menatap jam dinding setiap beberapa detik.

Aku tidak ikut sibuk.

Di halaman paling belakang buku matematika, pensil biru muda favoritku bergerak pelan, membuat garis dari perpustakaan menuju lapangan. Pensil itu sudah pendek, panjangnya tak lebih dari jariku, tetapi masih menjadi benda yang paling sering kugenggam.

Aku sedang menggambar sekolah.

Bukan sekolah yang bagus seperti gambar di brosur. Sekolah kami memiliki tembok yang catnya mulai pudar, selokan kecil di belakang kelas, dua pohon ketapang yang daunnya sering memenuhi halaman, dan atap kantin yang akan berbunyi keras setiap kali hujan.

Semua itu ada di petaku.

Bahkan, kuberi tanda kecil di dekat tangga.

“Licin kalau hujan.”

“Raka.”

Pensilku berhenti.

Aku mendongak. Bu Nara berdiri di samping meja. Tangannya masih memegang spidol hitam.

“Pelajaran sudah sampai mana?”

Aku melirik papan tulis.

“Persamaan, Bu.”

“Terus kamu menggambar apa?”

Beberapa anak di belakang langsung tertawa.

Aku menutup buku, tetapi Bu Nara sudah lebih dulu melihatnya.

“Boleh Ibu lihat?”

Aku menyerahkan buku dengan ragu. Bu Nara tidak langsung bicara. Matanya mengikuti garis-garis yang kubuat.

“Ini kantin?”

“Iya.”

“Kenapa ada tanda silang?”

“Kalau hujan, airnya menggenang di situ.”

Bu Nara mengangguk.

“Dan ini?”

“Pohon ketapang.”

“Kenapa diberi tanda?”

Aku mengangkat bahu.

“Tempat paling enak buat duduk kalau menunggu jemputan.”

Bu Nara tersenyum kecil.

“Jadi kamu bukan hanya menggambar tempat.”

Aku menatapnya.

“Kamu menggambar apa yang terjadi di tempat itu.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Hari itu, sepulang sekolah, kalimat tersebut terus teringat di kepalaku.

Aku suka peta sejak kecil.

Kalau pergi bersama Ayah, aku selalu memperhatikan jalan. Aku hafal toko dengan papan nama merah, jembatan kecil sebelum pasar, dan rumah bercat hijau yang punya pohon mangga paling besar di depan pagar.

Pernah suatu kali kami tersesat.

Ayah berhenti di pinggir jalan dan bertanya, “Kamu tahu kita di mana?”

Aku menunjuk sebuah gang.

“Kayaknya di sini.”

“Kayaknya?”

Aku mengangguk.

Beberapa menit kemudian, kami menemukan jalan pulang.

Sejak saat itu, Ayah sering berkata, “Kamu cocok jadi orang yang bikin peta.”

Aku percaya.

Bahkan, mungkin terlalu percaya.

Sampai suatu malam, aku membawa pulang brosur sekolah lanjutan.

“Ayah.”

Ayah sedang menghitung uang di meja.

“Hmm?”

“Aku mau masuk sekolah yang ada pelajaran pemetaan.”

Tangannya berhenti.

“Jauh?”

“Lumayan.”

“Biayanya?”

Aku menyerahkan brosur.

Ayah membacanya. Tidak lama. Tetapi cukup lama untuk membuatku tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

“Cari yang dekat saja, Rak.”

Aku mengira Ayah bercanda.

“Yang ini bagus, Yah.”

“Ayah tahu.”

“Terus?”

Ayah meletakkan brosur itu.

“Keadaan kita belum memungkinkan.”

Aku diam.

“Ayah bukan melarang kamu punya cita-cita.”

“Terus kenapa?”

Ayah menghela napas.

“Karena terkadang, orang harus memilih jalan yang bisa dilewati dulu.”

Aku mengambil brosur itu.

Sejak malam itu, kalimat tersebut terus menempel di kepalaku.

“Jalan yang bisa dilewati dulu.”

Kalau begitu, bagaimana dengan jalan yang benar-benar ingin kutuju?

Aku pernah berkata ingin menjadi ahli pemetaan. Dimas adalah satu-satunya orang yang tidak pernah menertawakanku.

“Berarti nanti kamu kerja sambil jalan-jalan?”

“Bukan begitu.”

“Terus?”

“Ya… bikin peta.”

Dimas mengangguk, seolah benar-benar mengerti.

“Lumayan. Daripada cita-citamu jadi tukang tidur.”

Aku menyikut lengannya.

Kami tertawa.

Saat itu aku belum tahu bahwa beberapa minggu kemudian, aku akan benar-benar mempertanyakan cita-cita itu.

Sekolah mengadakan tugas kelompok.

Temanya: Sekolah Impian Sepuluh Tahun Mendatang.

Kelompok kami mendapat satu lembar karton besar.

Sinta langsung menggambar gedung tiga lantai.

“Bagaimana kalau lantai satu buat kelas, lantai dua laboratorium, lantai tiga perpustakaan?”

“Tambah kolam renang,” kata Dimas.

“Memangnya kita sekolah atau hotel?” tanyaku.

Dimas tertawa.

Aku mengambil pensil dan membuka petaku.

“Bagaimana kalau kita gambar yang benar-benar dibutuhkan?”

Sinta menoleh.

“Maksudmu?”

Aku menunjukkan bagian belakang kelas.

“Lihat ini.”

Aku menunjuk bagian yang sering tergenang.

“Kalau hujan deras, air selalu menggenang di sini.”

Dimas mengangguk.

“Benar. Sepatuku pernah sampai basah semua.”

“Terus belakang perpustakaan kosong. Bisa jadi taman baca.”

Sinta melihat karton, lalu melihatku.

“Jadi sekolah impian kita isinya selokan?”

Aku tertawa.

“Bukan. Maksudku, jangan cuma menggambar sekolah yang bagus. Kita gambar sekolah yang lebih baik.”

“Sorry, Rak. Aku nggak setuju,” protes Sinta.

“Kan kita mau bikin sekolah impian. Kok malah bikin sekolah yang banyak kekurangannya?”

Aku menatapnya.

“Sekolah impian nggak harus sempurna. Tapi bagaimana sekolah yang ada sekarang bisa kita jadikan lebih baik. Ini lebih nyata, kan?”

“Masuk akal sih!” seru Dimas.

Sinta menghela napas.

“Hmm… baiklah. Meski aku masih sedikit ragu, kita coba.”

Akhirnya mereka setuju.

Kami mulai bekerja.

Untuk pertama kalinya setelah percakapan dengan Ayah, aku merasa mungkin aku belum harus menyerah.

Mungkin cita-cita tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

Mungkin cukup dari satu garis kecil di atas kertas.

Dua hari sebelum presentasi, hujan turun sejak sore.

Malam itu aku menyimpan peta kelompok di dalam map. Aku memastikan map itu tertutup rapat sebelum memasukkannya ke dalam tas.

Tetapi pagi harinya, sudut kertas sudah basah. Aku tidak tahu bagaimana air bisa masuk. Aku mencoba mengeringkannya.

Tisu. Kipas angin. Bahkan, kuselipkan di antara dua buku. Tidak berhasil. Ketika kutarik pelan bagian yang kukira sudah kering, kertas itu robek.

Aku membeku. Lubang kecil muncul tepat di tengah peta, di tempat yang sudah kuberi banyak tanda.

Aku menatapnya lama. Entah kenapa, yang membuatku sedih bukan hanya karena petanya rusak.

Rasanya seperti melihat sesuatu yang selama ini kuusahakan tiba-tiba memberitahuku bahwa semuanya memang bisa hilang kapan saja.

“Percuma.”

Dimas yang sedang memakan roti menoleh.

“Apa?”

Aku menunjukkan peta.

“Rusak.”

“Ya sudah, bikin lagi.”

“Gampang ngomong.”

“Rak, cuma peta!”

Aku menatapnya.

“Buatmu mungkin cuma peta.”

Dimas terdiam.

Aku memasukkan kertas itu ke dalam map.

Hari itu aku tidak banyak bicara.

Sepulang sekolah, aku tidak langsung pulang.

Aku duduk sendirian di bawah pohon ketapang. Angin menggerakkan daun-daunnya, tetapi pikiranku justru kembali pada brosur sekolah lanjutan.

Tentang biaya. Tentang Ayah. Tentang peta yang sekarang robek.

Mungkin Ayah benar. Mungkin ada jalan yang memang tidak bisa kulewati.

“Raka?”

Aku menoleh.

Bu Nara berdiri di dekat tangga.

“Kamu belum pulang?”

Aku menggeleng.

Beliau berjalan mendekat, lalu duduk di sebelahku. Beberapa saat kami hanya mendengar suara daun yang bergesekan.

“Apa yang terjadi?”

Aku menunjukkan petaku.

“Rusak.”

Bu Nara melihatnya.

“Bisa dibuat lagi.”

Aku menunduk.

“Bukan itu.”

Aku akhirnya menceritakan semuanya.

Tentang cita-cita. Tentang sekolah lanjutan. Tentang keadaan Ayah. Tentang rasa takut kalau semua yang kuinginkan ternyata terlalu jauh.

Bu Nara tidak langsung menjawab. Ia hanya mendengarkan.

Setelah beberapa saat, beliau menunjuk peta yang robek di tanganku.

“Kalau sebuah jalan berubah, apa yang dilakukan orang yang punya peta?”

Aku mengerutkan kening.

“Gambar ulang?”

Bu Nara tersenyum.

“Mungkin.”

Aku melihat kertas itu lagi.

“Jadi kalau petamu berubah, apakah berarti petamu gagal?”

Aku menggeleng pelan.

“Tidak.”

Bu Nara mengangguk.

“Kamu juga tidak harus tahu seluruh jalan menuju cita-citamu sekarang.”

Aku terdiam.

“Yang penting, kamu tahu kenapa kamu ingin sampai ke sana.”

Beliau mengembalikan peta itu.

Aku menggenggamnya. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sedang diminta memilih antara cita-cita dan keadaan.

Aku hanya merasa sedang diminta mencari jalan lain.

Malam itu aku menggambar ulang. Kali ini tanpa penggaris. Garisnya tidak semuanya lurus. Beberapa bahkan terlalu panjang.

Aku mempertahankan bagian peta lama yang terkena air. Tidak kututupi. Tidak kubuang.

Di sampingnya kutulis:

“Tempat yang pernah rusak.”

Aku menatap tulisan itu cukup lama. Lalu kutambahkan satu garis baru. Bukan menuju sekolah impian. Bukan juga menuju cita-citaku. Hanya menuju sebuah jalan kecil yang belum pernah kutandai.

Hari presentasi tiba.

Kelompok kami maju setelah kelompok lain menunjukkan sekolah impian dengan gedung tinggi, taman luas, dan lapangan mengilap.

Aku berdiri di depan kelas.

Tanganku dingin. Kertas di tanganku bergetar.

Aku menarik napas.

“Sekolah impian kami tidak harus menjadi sekolah yang sempurna.”

Aku menunjuk gambar.

“Menurut kami, sekolah yang baik adalah sekolah yang tahu apa yang dibutuhkan siswanya.”

Aku menjelaskan tentang genangan air, taman baca, pohon ketapang, tempat duduk, dan jalur menuju kantin.

Guru pembimbing mengajukan pertanyaan demi pertanyaan.

“Bagaimana kalau hujan lebih deras?”

“Bagaimana jika taman baca tidak terawat?”

“Bagaimana jika saluran air baru justru membuat masalah?”

Dulu mungkin aku akan takut menjawab. Sekarang aku melihat petaku.

Ada garis yang miring. Ada kertas yang robek. Ada bagian yang terkena air. Tetapi semuanya masih menunjukkan sesuatu.

Aku menjawab satu per satu. Tidak semuanya sempurna. Namun aku tidak lagi takut pada kesalahan.

Beruntung Sinta dan Dimas ikut memperkuat jawaban-jawabanku.

Kami memang bukan kelompok yang paling hebat. Tetapi ketika aku melihat guru pembimbing mengangguk-angguk, ada rasa lega yang perlahan memenuhi dadaku.

Aku juga melihat beberapa teman sekelas memandangi peta kami lebih lama dari sebelumnya.

Mungkin aku tidak salah memilih.

Seminggu kemudian, sekolah memasang papan informasi baru di dekat gerbang.

Aku berhenti ketika melihatnya.

Di sana ada sebuah peta lingkungan sekolah.

“Petaku.”

Garisnya masih agak miring.

Bekas air masih terlihat di sudut.

Tulisan tanganku di bagian legenda terlalu kecil.

Tetapi peta itu ada di sana.

Aku berdiri di samping Dimas.

“Jadi,” katanya, “sekarang kamu sudah jadi ahli pemetaan?”

Aku tertawa.

“Belum.”

“Terus kapan?”

Aku menggeleng.

“Entahlah.”

Dimas menunjuk sudut peta.

“Ini kenapa nggak diperbaiki?”

Aku tersenyum.

“Biarin.”

“Kenapa?”

Aku memandang bekas air itu.

“Supaya aku ingat.”

“Ingat apa?”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku teringat pada malam ketika Ayah berkata bahwa aku harus memilih jalan yang bisa kulewati.

Dulu aku mengira kalimat itu berarti aku harus meninggalkan cita-cita.

Sekarang aku mulai mengerti.

Mungkin bukan cita-citanya yang harus kutinggalkan.

Mungkin aku hanya perlu mencari jalan yang berbeda untuk sampai ke sana.

Aku melihat halaman sekolah.

Ada sebuah bangku tua di samping perpustakaan.

Kemarin bangku itu belum ada.

Aku mengeluarkan pensil dari saku.

Dimas mengangkat alis.

“Mau gambar lagi?”

Aku mengangguk.

Kutarik satu garis.

Pelan.

Tidak lurus.

Tidak tahu akan berakhir di mana.

Tetapi kali ini aku tidak takut.

“Dulu aku mengira peta dibuat untuk menunjukkan ke mana aku harus pergi.”

Aku berhenti menggambar.

“Sekarang aku tahu, peta juga bisa mengingatkan bahwa selalu ada jalan yang belum pernah kucoba.”

Dimas melihat garis itu.

“Kalau nanti jalannya salah?”

Aku tersenyum.

“Ya, bikin peta lagi.”

Bel sekolah berbunyi.

Anak-anak mulai keluar dari kelas.

Aku memasukkan pensil ke saku.

Peta itu masih belum selesai.

Mungkin besok akan ada jalan baru.

Mungkin lusa ada tempat yang harus kutandai.

Dan mungkin, suatu hari nanti, aku akan sampai pada tempat yang selama ini ingin kutuju.

Tapi untuk sekarang, tidak apa-apa.

Sebab aku akhirnya mengerti—tidak semua peta dibuat untuk menunjukkan tujuan.

Beberapa dibuat agar kita berani melanjutkan jalan.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak keberatan kalau peta itu tidak pernah selesai. [CM/Na]

Views: 3

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *