Penulis: Riska Purmawati
Siswi SMAN 1 Mentaya Hilir Selatan
CemerlangMedia.Com, MEMOAR — Di hari pertama sekolah, aku memilih bangku di samping jendela dan di atas kipas. Bukan karena pemandangannya yang indah. Aku memilih tempat itu agar terkena angin dan bisa melihat lapangan sekolah, beberapa pohon yang daunnya mulai menguning dan berguguran. Pemandangan itu sering aku lihat ketika sedang bosan dengan mata pelajaran. Aku juga bisa melihat anak-anak yang berlalu-lalang menuju kamar mandi.
Aku memilih duduk di pinggir meja itu karena aku ingin melihat seseorang laki-laki yang kelasnya berada di hadapanku. Aku tidak pernah benar-benar berbicara dengannya. Kami hanya sering bertatapan tanpa berani berbicara sama sekali. Lebih tepatnya, diriku yang tidak berani berbicara dengannya karena melihatnya saja membuatku salting, apalagi harus berbicara dengannya.
Cara dirinya tersenyum dan berbicara dengan orang lain membuat hatiku bergetar. Entah kenapa. Aku tahu, semua itu seharusnya tidak penting. Namun, bagi seseorang yang diam-diam memperhatikan, hal kecil itu bisa mengubah sesuatu menjadi besar.
Suatu hari, saat upacara pagi, aku dipanggil untuk menjadi paduan suara. Semua OSIS juga ikut dalam paduan suara itu. Jantungku berdetak keras saat dia mendekat dan berdiri di sampingku. Aku merasa senang, gugup, dan panik menjadi satu saat dia berada di sampingku.
Saat itu kami sedang menyanyikan lagu Mengheningkan Cipta. Ketika sampai di bagian “memuji”, aku dan dia tidak sengaja salah lirik menjadi “memuja”. Kami lalu melirik satu sama lain sambil tersenyum malu-malu. Setelah kejadian itu, aku makin sering membuat cerita tentang dirinya di buku harian, serta membuat coretan-coretan tangan yang tertulis dengan nama Raka.
Hari-hari berlalu. Aku makin sering duduk di bangkuku yang menghadap jendela sambil melirik-lirik sosok laki-laki di ujung sana. Terkadang kami tidak sengaja bertatapan satu sama lain. Terkadang, aku juga hanya berpapasan dengannya tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutku.
Setiap kali ada upacara, aku selalu teringat kejadian kecil itu. Rasanya lucu jika mengingat bagaimana kami bisa salah menyanyikan satu kata yang sama, lalu hanya saling melirik dan tersenyum. Mungkin bagi orang lain kejadian itu tidak berarti apa-apa, tetapi bagiku, kejadian sederhana itu justru menjadi salah satu kenangan yang paling kuingat.
Aku tetap menyimpan semua perasaan itu sendiri, seolah-olah tempat itu menjadi saksi bahwa aku memiliki perasaan kepadanya tanpa pernah mengungkapkannya. Seperti pepohonan yang selalu ada di dekat jendela dan seakan-akan memahami perasaanku kepadanya.
Rasa ini selalu kupendam. Entah sampai kapan. Bisakah aku mengatakannya jika aku menyukai dirinya seperti itu?
Satu tahun kemudian, setelah kejadian itu, ketika aku mengingatnya kembali, aku merasa malu. Namun, itulah perasaan yang tidak pernah kuungkapkan hingga saat ini. Mungkin aku terdengar pengecut karena menyukai seseorang, tetapi tidak pernah mengungkapkannya.
Aku tidak menyesal menyukai dirinya atau bisa dibilang mengaguminya. Setidaknya aku tahu bagaimana perasaanku kepadanya, walaupun dia sendiri tidak pernah sadar bahwa aku memiliki perasaan kepadanya.
Mungkin, pada akhirnya, tidak semua perasaan harus disampaikan. Ada beberapa rasa yang cukup disimpan sebagai kenangan, seperti pemandangan dari balik jendela sekolah yang pernah menjadi saksi bisu dari perasaan kecilku. [CM/Na]
Views: 3






















