Omong Kosong Solusi Dua Negara

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Mia Agustiani, A.Md.
Pegiat Literasi Majalengka

CemerlangMedia.Com — Sebuah kerugian besar jika solusi dua negara menjadi jalan pengakuan kemerdekaan bagi Palestina. Ini adalah kebohongan publik yang diciptakan oleh akal bulus Zi*nis Israel agar dapat merebut tanah Palestina. Palestina tidak butuh solusi yang licik.

Israel adalah penjajah yang tidak bisa dipegang janjinya. Meskipun memberikan kemerdekaan, Israel tidak pernah menghentikan kekejaman terhadap Palestina. Peristiwa yang terjadi bukanlah konflik, melainkan genosida dan penjajahan yang harus segera dihentikan.

Betapa miris, ada pernyataan dari Presiden RI Prabowo Subianto yang sudah tiga kali secara eksplisit membahas solusi dua negara (two-state solution) terkait konflik Israel vs. Palestina. Prabowo menegaskan, hal ini bertujuan untuk membentuk dua negara merdeka (Tribunnews.com, 23-09-2025).

Dukungan Prabowo justru sangat mencederai bangsa Indonesia yang mayoritas muslim. Menurutnya, mengakui kemerdekaan Palestina adalah solusi agar tercipta kedamaian. Namun, kini keadaan Palestina—terutama Gaza—makin memburuk. Ini adalah omong kosong perdamaian. Israel hanya mencari banyak dukungan untuk melegitimasi keinginannya merebut tanah Palestina.

Semua yang terjadi bertentangan dengan UUD 1945 yang menegaskan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Apakah ia memahami betul kondisi yang menimpa saudara-saudara di Palestina? Palestina sangat membutuhkan penghentian kekejaman saat ini juga.

Faktanya, tidak ada satu pun negara yang berani membela. Semua mengambil posisi aman. Bahkan, beberapa negara setuju atas pengakuan Palestina menjadi 156 negara. Hal ini dikemukakan dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, -Prancis, Belgia, Luksemburg, Malta, dan Andorra mendeklarasikan pengakuan mereka terhadap Palestina (Tribunnews.com, 23-09-2025).

Keinginan Israel untuk merebut tanah Palestina belum juga terwujud. Berdalih akan “membebaskan” Palestina, Israel justru berusaha mendapatkan pengakuan dari berbagai negara. Namun, meskipun terjadi kemerdekaan, faktanya kondisi Gaza makin memburuk. Zi*nis Amerika Serikat terus meningkatkan serangan untuk mengosongkan Palestina.

Win-win solution dijadikan langkah pasti karena Israel tidak mau kalah telak atas usahanya selama ini. Mereka seolah memberikan angin segar kebebasan dengan mengakui kemerdekaan bagi Palestina. Hal ini menegaskan bahwa entitas Yahudi sudah mencaplok 70–80 persen wilayah Palestina.

Pemimpin negeri-negeri muslim pun ikut terdistraksi dalam omong kosong solusi dua negara yang makin menjauhkan Gaza dari pembebasan. Dukungan mereka hanya di tempat terang. Namun sebaliknya, mereka melindungi pembantaian, pengiriman senjata, serta menjalin kerja sama dengan penjajah Zi*nis.

Solusi dua negara yang digaungkan adalah bentuk keputusasaan Amerika atas keteguhan rakyat Gaza dan para mujahidin. Rakyat Gaza masih berdiri tegap mempertahankan wilayahnya. Meskipun Israel menghujani wilayah Gaza dengan bom dan pembantaian, tidak ada kata menyerah bagi rakyat Gaza.

Lagu lama ini telah diputar sejak 1937, saat munculnya laporan Komisi Peel. Komisi tersebut dikirim Inggris ke Palestina untuk menyelidiki motif meningkatnya ketegangan antara Yahudi dan Arab Palestina. Ketika itu, Palestina berada di bawah kekuasaan Inggris.

Sejak saat itu, banyak solusi ilusi ditawarkan: mulai dari pendirian dua negara berdampingan hingga pembagian lahan subur dan tandus kepada kedua pihak. Bahkan, pada Perjanjian Oslo 1993, mereka tetap menyebutnya sebagai “konflik.” Berbagai forum internasional pun menemui jalan buntu dalam mendamaikan keduanya. Mengapa demikian? Karena sejatinya, mereka bukan sedang berperang, melainkan Israel sedang melakukan kejahatan kemanusiaan.

Sudah dipastikan tidak akan pernah terjadi kesepakatan seperti yang mereka inginkan. Mereka adalah penjajah yang harus diusir dari tanah Palestina. Hanya dengan demikian, Palestina akan mendapatkan kedamaian hakiki.

Islam sudah memiliki solusi untuk mencapai kedamaian hakiki bagi Palestina. Haram hukumnya mengakui keberadaan penjajah. Zi*nis harus diusir, sebagaimana kita tidak boleh bermanis muka kepada kafir harbi yang jelas telah memerangi kaum muslim.

Dunia sudah mengetahui kebiadaban yang mereka lakukan selama bertahun-tahun, maka tidak ada solusi dua negara dalam hal ini. Seharusnya para pemimpin negeri-negeri muslim memahami bahwa kaum muslim tidak boleh berkompromi dengan penjajah dalam bentuk apa pun, baik penjajahan militer, politik, maupun ekonomi.

Kekejaman yang terjadi hanya bisa dihentikan dengan jihad fi sabilillah dan kepemimpinan Islam. Islam akan menjadi pelindung bagi kaum muslim di seluruh dunia. Satu nyawa sangat berharga dalam pandangan Islam. Ketika Islam dijadikan aturan dalam negara, maka akan tercipta persatuan umat yang mampu melawan penjajah dalam hitungan waktu singkat. Kepemimpinan Islam akan menggerakkan kekuatan militer untuk membela Palestina serta mengusir segala bentuk penjajahan di muka bumi. Wallahu a‘lam bisshawab. [CM/Na]

Views: 64

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *