Oleh: Tatiana Riardiyati Sophia
Aktivis Muslimah
Akidah Islam adalah landasan yang pertama kali diinstal dalam diri seorang muslim, bahkan sejak masih di dalam kandungan. Mengenal sifat-sifat Allah Swt. serta kemahakuasaan-Nya merupakan benteng bagi jiwa agar tidak mudah rapuh.
CemerlangMedia.Com — RR (19), seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya melakukan percobaan bvnvh diri di lingkungan kampusnya pada Kamis (10-9-2026). Aksi nekatnya dipicu luapan emosi setelah cekcok dengan teman laki-lakinya (detikjatim.com, 11-9-2026).
Sementara di tempat berbeda, jasad pria berinisial FS (30) ditemukan tidak bernyawa di area Gelora Bung Karno pada Ahad (6-9-2026) dini hari. Sebelum kejadian, korban sempat mengirim unggahan di Instagram pribadinya bahwa dia berniat mengakhiri hidup, kemudian mengirim sinyal SOS kepada temannya (detiknews.com, 14-9-2026).
Dua kejadian di atas membuat publik makin terhenyak atas fenomena mengakhiri hidup yang terus terjadi. Mirisnya, sebagian besar mereka adalah generasi muda. Data dari layanan Healing 119.id mencatat, sebanyak 3.036 orang memiliki keinginan bvnvh diri. Dari angka tersebut, 54,08 persen dari kelompok usia 21—30 tahun, menyusul 33,04 persen pada kelompok usia 11—20 tahun.
Saat ini makin banyak anak muda yang mengalami krisis mental sehingga berniat mengakhiri hidup. Penyebabnya adalah kombinasi dari beberapa faktor, di antaranya tekanan hidup yang berat, masalah mental yang tidak tertangani, dan rasa kesepian mendalam.
Anak-anak muda terutama generasi Z, saat ini menjalani hidup yang jauh dari ideal bagi perkembangan mentalnya. Mereka tumbuh dewasa di tengah tekanan ekonomi yang parah. Sulit mendapatkan pekerjaan, biaya hidup tinggi, gaji kecil, burnout akibat beban kerja/kuliah/sekolah adalah sedikit dari sekian banyak masalah hidup yang dihadapi sehari-hari. Belum lagi konten-konten flexing di media sosial yang membuat mereka sering membanding-bandingkan kehidupannya dengan orang lain.
Di tengah kondisi demikian, kehadiran keluarga terasa sangat penting sebagai tempat untuk mendapatkan perhatian dan dukungan. Sayangnya, tuntutan kehidupan juga membuat banyak orang tua harus lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya yang makin meningkat. Hal ini membuat anak-anak mereka kurang mendapatkan perhatian yang berujung kesepian.
Pada saat yang bersamaan, ketidakluwesan komunikasi antara orang tua dan anak menyebabkan support system di dalam rumah tidak berjalan dengan baik. Akibatnya, banyak di antaranya yang memendam masalah seorang diri karena tidak punya tempat bercerita atau sekadar melepaskan beban pikirannya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi generasi tidak hanya terletak pada sulitnya menemukan tempat untuk berbagi, tetapi juga pada lemahnya kemampuan menghadapi tekanan hidup. Ketika seseorang tidak memiliki pegangan yang kuat dalam menghadapi masalah, maka dia akan lebih mudah merasa sendirian dan tidak berdaya.
Sekuler Kapitalisme Lahirkan Individualisme
Pada titik inilah sekularisme turut memperparah keadaan. Pemisahan agama dari kehidupan membuat penyelesaian persoalan lebih banyak bertumpu pada kemampuan individu, sementara dimensi keimanan yang seharusnya menjadi sumber kekuatan, justru makin terpinggirkan.
Di samping itu, kapitalisme yang lahir dari sekularisme menciptakan masyarakat yang individualisme. Ikatan yang rapuh antara individu dan lingkungannya menjadikan setiap orang berjuang seorang diri dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Masing-masing fokus pada pencapaian materi dan tujuan hidupnya sendiri sehingga kepedulian terhadap sekitarnya sangat kecil. Alhasil, tercipta kehidupan anti sosial yang berakhir kesepian.
Bahkan, di negara-negara maju seperti Jepang dan Korea, banyak kasus bundir yang terjadi, padahal kehidupan mereka terlihat baik-baik saja, pun secara materi berkecukupan. Ternyata jiwa mereka kosong dan kesepian walau berada di tengah keramaian. Akhirnya memutuskan mengakhiri hidup agar masalahnya segera selesai.
Demikianlah jika sekularisme kapitalisme dijadikan landasan dalam menjalani kehidupan bernegara. Terlebih lagi apabila sistem batil ini dijadikan pedoman dalam pengelolaan pendidikan dan pengaturan ekonomi, maka outputnya adalah individu-individu yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak peduli terhadap kebutuhan orang lain.
Sistem pendidikan yang dibangun atas asas sekuler kapitalisme hanya akan melahirkan generasi yang tidak menjadikan agama sebagai way of life. Akan tetapi, menerapkannya sebatas ritual belaka. Alhasil, imannya rapuh, pola pikir, serta kepribadiannya pun tidak mencerminkan seorang muslim sejati. Demikian pula penerapan sistem ekonomi kapitalisme, niscaya menelurkan generasi yang meletakkan materi, penilaian, serta validasi sebagai standar kebahagiaannya, bukan rida Allah Swt..
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 72, yang artinya,
“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di Surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.”
Akidah Islam Pengokoh Jiwa
Berbeda jika Islam diterapkan dalam mengatur urusan kehidupan umat. Akidah Islam adalah landasan yang pertama kali diinstal dalam diri seorang muslim, bahkan sejak masih di dalam kandungan. Mengenal sifat-sifat Allah Swt. serta kemahakuasaan-Nya merupakan benteng bagi jiwa agar tidak mudah rapuh.
Menerima ujian dengan sabar dan menyandarkan segala urusan serta meminta pertolongan kepada Allah Swt. semata juga merupakan keyakinan yang perlu ditanamkan. Dengan demikian, seorang muslim akan memiliki kepribadian yang kukuh, tidak mudah putus asa, serta memahami bahwa bvnvh diri adalah perbuatan haram yang dihukumi dosa besar.
Selain itu, umat Islam hidup dalam sebuah ikatan persaudaraan, yaitu akidah islamiyah. Ikatan seperti ini lebih kokoh di antara pertalian manapun, misal kesukuan. Masyarakat yang terdiri dari individu dan keluarga akan saling peduli satu sama lain. Mereka tidak membiarkan saudaranya menanggung beban seorang diri. Dengan begitu, mereka akan saling menolong dengan mengharapkan rida Allah Swt..
Di samping itu, negara Islam (Khil4f4h) akan menerapkan sistem pendidikan dan ekonomi dengan aturan Islam yang menyeluruh. Pendidikan berbasis akidah akan melahirkan generasi yang berkepribadian Islam. Mereka adalah orang-orang yang tangguh dan mampu membangun peradaban Islam kembali. Bukan pemuda-pemuda lembek yang mudah putus asa. Penerapan sistem ekonomi Islam juga akan mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi umat.
Dengan demikian, individu maupun masyarakat memiliki pegangan yang kuat dalam menjalani kehidupan sehingga tidak mudah terjebak dalam kebingungan dan keputusasaan. Dari sinilah akan terbentuk umat yang kokoh jiwanya, saling menguatkan, membantu, dan peduli terhadap sesama.
Wallahu a’lam bisshawab. [CM/Na]
Views: 1






















