Oleh: Rizki Ika Sahana
Aktivis Muslimah
Dengan akidah Islam sebagai asas, negara memiliki seperangkat mekanisme yang mampu menciptakan rasa aman sekaligus melahirkan generasi bertakwa, sebagai SDM penjaga keamanan. Negara menegakkan sistem sanksi yang tegas dan adil, menerapkan sistem pendidikan yang berkualitas juga unggul, serta menerapkan sistem politik dan ekonomi Islam untuk mewujudkan kestabilan dan kepastian di tengah masyarakat.
CemerlangMedia.Com — Polri kembali mendapatkan sentimen negatif terkait kinerjanya yang lamban dalam menangani perkara. Banyak kasus telah dilaporkan, tetapi mengendap dalam waktu lama sebelum kemudian diangkat warganet dan diramaikan di lini masa.
Perkara-perkara yang baru di-follow up setelah viral di media sosial, di antaranya adalah kasus tewasnya MA, remaja 13 tahun, di Sumatra Barat, kasus pembunuhan VN Cirebon, kasus penganiayaan oleh anak pemilik toko roti, GSH terhadap karyawan, dan yang paling mutakhir adalah kasus penembakan bos rental yang melibatkan oknum TNI.
Kasus-kasus semacam ini sudah sering terjadi. Pihak kepolisian tidak segan menolak laporan warga dengan alasan yang tidak jelas seperti yang terjadi beberapa waktu lalu saat polisi ‘pingpong’ laporan pengendara mobil berinisial FA yang diserang tiga preman di Bekasi.
FA, pengemudi yang mengalami penyerangan menuturkan bahwa dirinya dioper beberapa kali saat melapor. Dari bagian kriminal, laporannya dilempar ke bagian SPKT Layanan. Di bagian SPKT, laporan FA dilempar lagi ke bagian Laka (tempo.co, 4-1-2025).
Wajar jika kemudian muncul slogan “No Viral No Justice” dan tagar percuma lapor polisi. Warganet yang kecewa dengan lambannya penanganan kasus oleh polisi lebih memilih melaporkannya kepada khalayak via media sosial. Cara ini dianggap lebih efektif dalam mendapatkan perhatian pihak berwenang sehingga segera mendapat pelayanan dibanding menggunakan cara konvensional, yakni langsung lapor kepada polisi.
Menanggapi slogan “No Viral No Justice” yang mengemuka itu, Jenderal Listyo Sigit Prabowo memerintahkan seluruh anggotanya agar responsif terhadap pengaduan masyarakat tanpa menunggu kasusnya viral. Dalam Rilis Akhir Tahun, Selasa (31-12-2024), Kapolri mengatakan, “Kami terus menekankan kepada seluruh personel Polri agar terus melakukan pembenahan, melakukan tindakan yang cepat, melakukan responsif yang cepat tanpa harus menunggu hal tersebut menjadi viral,” (tempo.co, 3-1-2025).
Penanganan Kejahatan ala Kapitalisme Sekuler
Dalam sistem kapitalisme sekuler, integritas pada diri individu, termasuk para penegak hukumnya sangat rendah, bahkan nyaris lenyap. Bekerja didorong oleh kepentingan manfaat atau materi.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika SDM semacam ini enggan berlelah-lelah melayani masyarakat dalam menangani berbagai kasus yang kian kompleks. Mereka bekerja setelah sebuah kasus menjadi viral. Tidak lain hanya demi mempertahankan citra diri dan lembaga tempatnya bekerja. Mereka pun tidak peduli hisab di hari akhir sehingga tidak merasa bersalah telah lalai dari tanggung jawab.
Inilah potret kehidupan ala kapitalisme sekuler. Kapitalisme sekuler telah menjauhkan agama dari keseharian, bahkan mencabutnya dari jiwa orang-orang yang mengaku Islam. Sungguh, kapitalisme sekuler telah melahirkan individu yang berwatak liberal, tidak takut sedikitpun pada ancaman azab Sang Pencipta.
Ditambah lagi, sistem kapitalisme sekuler yang tegak hari ini menjadikan keamanan sebagai perkara masing-masing warga. Polisi sebagai representasi negara dalam menjaga serta menjamin keamanan seolah lepas tangan. Ini terbukti dengan banyaknya kasus tertunda, bahkan terhempas tanpa kepastian. Sungguh kondisi yang sangat memprihatinkan.
Islam Menciptakan Rasa Aman
Hal ini sangat berbeda dengan kehidupan yang diatur oleh sistem Islam. Dengan akidah Islam sebagai asas, negara memiliki seperangkat mekanisme yang mampu menciptakan rasa aman sekaligus melahirkan generasi bertakwa, sebagai SDM penjaga keamanan. Negara menegakkan sistem sanksi yang tegas dan adil, menerapkan sistem pendidikan yang berkualitas juga unggul, serta menerapkan sistem politik dan ekonomi Islam untuk mewujudkan kestabilan dan kepastian di tengah masyarakat.
Sistem pendidikan Islam akan melahirkan generasi yang beramal bukan karena materi atau harga diri, melainkan hanya atas dorongan akidah. Pola pikir dan pola sikapnya dibimbing oleh syariat Islam yang mulia serta memberi solusi hingga tuntas.
Terlebih jika yang bersangkutan adalah orang-orang yang akan bekerja melayani umat, termasuk polisi atau syurthah di dalamnya. Mereka dididik dan dilatih dengan saksama agar memiliki kapabilitas dalam melakukan tugasnya sehingga mampu melayani dengan sebaiknya. Mereka memahami betul konsekuensi dari setiap amanah yang diemban. Bukan pertimbangan untung rugi secara materi yang dikejar, tetapi untung rugi dunia dan akhirat.
Mekanisme pelaporan pun dibuat mudah, cepat, dan ditangani secara profesional. Kasus-kasus kegawatdaruratan akan diprioritaskan, apalagi jika menyangkut kehormatan dan darah. Ditambah lagi, dalam Islam, keamanan menjadi hak masyarakat dan kewajiban bagi negara untuk memenuhinya tanpa pandang bulu ataupun menunggu viral terlebih dahulu.
Salah satu kisah yang sangat populer yang menunjukkan bagaimana responsifnya Islam terhadap kejahatan maupun kemaksiatan adalah penaklukan kota Ammuriah pada 223 Hijriah oleh Khalifah Mu’tashim Billah. Sesaat setelah mendengar teriakan seorang budak muslimah yang dilecehkan oleh orang Romawi, beliau segera menerjunkan pasukannya. Tidak tanggung-tanggung, ia menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu Ammuriah (yang berada di wilayah Turki saat ini) demi kehormatan seorang perempuan.
Oleh karena itu, slogan “No Viral No Justice” hanya akan musnah saat sistem Islam yang kafah diterapkan secara menyeluruh di negeri ini. Bahkan, sistem Islam akan memberikan rasa aman yang sempurna, mengayomi, dan melindungi dengan sepenuhnya, baik kepada muslim maupun nonmuslim. Wallahualam. [CM/NA]
Views: 52






















