Angka Kemiskinan Turun, Betulkah?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

“Dalam Islam, negara sebagai raa’in yaitu pengurus rakyat. Negara berkewajiban menjamin kesejahteraan rakyat melalui kebijakan yang dibuat. Negara akan memenuhi kebutuhan rakyat secara langsung atau tidak langsung.”


CemerlangMedia.Com — Hidup yang layak dan mudah adalah dambaan setiap manusia, terlebih bagi masyarakat kecil hari ini. Namun, akankah hal itu bisa terwujud?

Pemerintah menilai, angka kemiskinan kian menurun. Hal ini dikarenakan adanya berbagai program domestik yang dijalankan pemerintah, seperti bansos, pembangunan rusun, pelatihan usaha UMKM, dan lain sebagainya.

Badan Pusat Statistik (BPS) menilai, angka penduduk miskin pada Maret 2024 mengalami penurunan dari sebelumnya 9,36 persen menjadi 9,03 persen. Hal ini berarti, nilainya turun 0,33 persen (04-7-2024).

Namun, apabila dilihat secara kasat mata, masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan masih sangat banyak. Mereka yang tinggal di bawah kolong jembatan, masyarakat pedalaman yang hanya bisa makan beberapa hari sekali, juga orang yang meminta-minta belas kasih orang lain, masih banyak dijumpai.

Hal ini disebabkan karena pemerintah tidak sungguh-sungguh dalam mengentaskan kemiskinan. Banyak kebijakan yang seolah berpihak kepada rakyat, tetapi nyatanya tidak sama sekali.

Mereka mencanangkan berbagai program seperti bansos. Namun di sisi lain, juga meningkatkan harga berbagai bahan pokok, menaikkan harga BBM, biaya kesehatan mahal, biaya pendidikan yang makin tidak terjangkau, dll., padahal semua itu adalah kebutuhan wajib yang harus dipenuhi.

Tidak dapat dimungkiri, hal ini terjadi karena pemerintah salah mengadopsi sistem kehidupan. Sistem sekuler kapitalisme yang dipilih meniscayakan pemerintah hanya sebagai regulator, yaitu membuat regulasi sesuai kebutuhan pihak yang berkepentingan. Pihak yang menguntungkan akan didahulukan, seperti para pengusaha dan oligarki. Akhirnya, kebutuhan rakyat pun menjadi nomor sekian.

Hal ini berbeda jauh dari sistem Islam. Dalam Islam, negara sebagai raa’in yaitu pengurus rakyat. Negara berkewajiban menjamin kesejahteraan rakyat melalui kebijakan yang dibuat. Negara akan memenuhi kebutuhan rakyat secara langsung atau tidak langsung.

Secara langsung, Islam mempunyai sistem ekonomi yang kompatibel, yaitu melalui kas negara atau baitulmal yang diperoleh dari SDA yang dikelola secara mandiri, harta kharaj, jizyah, dan sumber lainnya. Negara akan sangat mampu untuk mewujudkannya. Sementara pemenuhan kebutuhan secara tidak langsung adalah menyediakan lapangan kerja yang luas.

Oleh karena itu, apabila ingin angka kemiskinan menurun dan kesejahteraan terwujud, maka sangatlah urgen untuk berpindah dari sistem kapitalisme menuju sistem Islam. Wallahu a’lam bisshawwab

Mariyani Dwi
(Komunitas Setajam Pena) [CM/NA]

Views: 59

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *