CemerlangMedia.Com Beras merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia. Terlebih dengan kondisi Indonesia sebagai negara agraris yang sebagian besar masyarakatnya menggeluti bidang pertanian. Hal ini menjadikan stok beras dan hasil pertanian lainnya sangatlah melimpah. Secara otomatis kebutuhan pangan pun bisa terkendali dan aman, tanpa harus melakukan impor kepada negara lain.
Namun, Presiden Jokowi berencana akan melakukan impor beras kepada negara lain untuk menambah stok beras yang ada saat ini. Hal ini disebabkan karena stok beras dalam bulog makin menipis, lantaran dampak dari fenomena El Nino (8-10-2023).
Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan bahwa Cina siap membatu dalam memenuhi kebutuhan beras Indonesia. Tawaran bantuan tersebut memang sudah disampaikan oleh Presiden Cina, Xi Jinping kepada Pesiden Jokowi (12-10-2023).
Dilihat dari fakta yang ada, jelas Indonesia masih tergantung kepada negara lain. Seharusnya, seperti Indonesia yang memiliki sumber daya alam (SDA) melimpah, terlebih sebagai negara agraris, maka impor beras adalah hal yang harus dihindari sebagai wujud keberhasilan pemerintah dalam mengelola bidang pertanian. Dan seharusnya negara punya power atau kekuatan dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya, termasuk beras.
Hal ini seolah menunjukkan bahwa negara telah gagal dalam menjamin pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. Jelas ini bukti keniscayaan dari penerapan sistem kapitalisme. Sistem ini mengantarkan negara membangun ketergantungan kepada negara lain, bukan membangun kemandirian dan ketahanan pangan dalam negeri.
Sedangkan Islam mempunyai visi mewujudkan kemandirian pangan dan jaminan pasokan pangan. Dalam hal visi, Islam memandang pangan adalah kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi oleh negara. Maka negara berupaya melakukan sesuatu untuk merealisasikannya. Seperti peningkatan produktivitas lahan dan produk pertanian melalui ekstensifikasi pertanian, yaitu dengan menghidupkan tanah yang terbengkalai atau mati. Agar tanah tersebut bisa ditanami dan menghasilkan.
Dalam hal ekspor dan impor, Islam akan memandang dan memperhatikan sejauh mana kebutuhan pangan negara. Ekspor dilakukan jika pemasokan negara terpenuhi dan mengalami surplus. Sedangkan impor, yaitu melakukan perdagangan luar negeri apabila memang diperlukan dengan mengikuti aturan Islam. Maka jika aturan Islam diterapkan dalam kehidupan, pastinya segala permasalahan yang ada dalam kehidupan bisa terselesaikan. Wallahu a’lam bisshawwab
Wiji Umu Fayyadh
Kebumen [CM/NA]
Views: 31






















