CemerlangMedia.Com — Aksi eksibisionis kini viral di media sosial. Peristiwa tersebut terjadi di sekitar Stasiun Bekasi, Bekasi Utara, Kota Bekasi pada (27/05/2023).
Eksibisionis ini lahir dari pemikiran sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Pelaku hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa mempedulikan halal atau haram dan tidak memperhatikan lagi baik atau buruknya sebuah perbuatan, karena yang menjadi pokok utamanya hanyalah dorongan hawa nafsunya. Pelakunya tidak merasa malu ketika melakukan aksinya tersebut di tempat umum.
Wajar, karena sistem kapitalisme tidak menjadikan agama sebagai standar untuk mengatur suatu perbuatan. Oleh karenanya, banyak individu bertindak sesukanya atas dasar kebebasan. Pemenuhan naluri seksual tidak lagi berpijak pada syariat dan pada akhirnya mereka bertindak layaknya hewan tanpa ada aturan dan tanpa ada batasan.
Eksibisionis tidak terjadi hanya pada laki-laki saja, tetapi bisa terjadi pada perempuan. Penyakit sosial akut seperti ini dapat dihindari dan juga bisa diatasi dengan bertobat kepada Allah, yakni menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, serta memahami bahwa tindakan membuka aurat di depan umum adalah salah satu perbuatan yang dilarang oleh Allah Swt..
“Katakanlah kepadaku laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS An-Nur: 30)
Ironisnya, negara belum mampu menyelesaikan persoalan ini secara tuntas karena undang-undang yang berlaku tidak mampu mencegah dan memberantas perilaku menyimpang ini.
Banyaknya referensi yang sesat, kurangnya pemahaman agama, ditambah lagi pemikiran kapitalisme yang sudah mengakar, membuat idividu tidak peduli dengan dosa dan hisab. Kapitalisme membuat negara abai sehingga pada akhirnya masyarakat juga menganggap bahwa dosa adalah urusan masing-masing.
Kesalahan dalam memahami konsep beragama menjadikan masyarakat tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah berdasarkan standar syariat.
Oleh karena itu, masyarakat butuh pelindung yang mampu menjadi tameng, dan ini merupakan tugas seorang pemimpin. Seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah saw., “Sesungguhnya seorang pemimpin (Imam) itu laksana perisai, rakyat berada di belakangnya dan dia menjadi pelindung bagi rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, sudah sepatutnya pula negara menerapkan syariat Islam untuk mengatur seluruh kehidupan dan menyelesaikan seluruh problematika kehidupan dengan aturan yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah. Allah juga telah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk menentukan hukum berdasarkan apa yang telah diturunkan Allah Swt. dan Rasulullah saw..
Muriatun
Bekasi, Jawa Barat [CM/NA]
Views: 41























2 komentar pada “Penyakit Kronis ala Sekularisme”
Sekularisme biang kerok rusaknya akhlak muslim. Bukan hanya tak peduli halal haram, namun urat malu pun sudah putus. Maka sudah saatnya menerapkan sistem Islam agar tindakan serupa mampu di cegah.
Ironisnya, negara belum mampu menyelesaikan persoalan ini secara tuntas karena undang-undang yang berlaku tidak mampu mencegah dan memberantas perilaku menyimpang ini.
Banyaknya referensi yang sesat, kurangnya pemahaman agama, ditambah lagi pemikiran kapitalisme yang sudah mengakar, membuat idividu tidak peduli dengan dosa dan hisab. Kapitalisme membuat negara abai sehingga pada akhirnya masyarakat juga menganggap bahwa dosa adalah urusan masing-masing.
sudah sepatutnya pula negara menerapkan syariat Islam untuk mengatur seluruh kehidupan dan menyelesaikan seluruh problematika kehidupan dengan aturan yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah. Allah juga telah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk menentukan hukum berdasarkan apa yang telah diturunkan Allah Swt. dan Rasulullah saw.