Penulis: Rahmah Saparina
Siswa SMA Negeri 1 Nentaya Hilir Selatan
CemerlangMedia.Com — Angin sore berhembus pelan lewat jendela kamar. Cahaya matahari menembus tirai tipis, membuat ruangan agak temaram. Di meja belajar, ponselku bergetar. Sebuah nama yang lama tidak muncul tiba-tiba ada di layar: Farah.
Aku senyum kecil. Nama itu bukan sembarang nama. Ia sahabatku sejak SMP. Dahulu, kami selalu bersama, kerja kelompok sampai malam, ikut lomba bareng, bahkan sering tertawa tidak jelas di kantin sampai dimarahi guru piket. Bedanya, Farah selalu punya cara agar semua terasa ringan.
“Santai aja, hidup tuh, kayak ujian. Kalau nggak bisa jawab, ya doa. Siapa tahu, Allah kasih ilham,” begitu dia sering bercanda.
Sekarang dia kuliah di luar kota. Aku di sini terjebak rutinitas sekolah yang rasanya berputar di tempat. Kami jarang sekali bertemu. Berkirim pesan juga makin jarang, tetapi setiap kali aku lagi down, tiba-tiba saja muncul pesan darinya.
“Hei, jangan lupa salat. Allah dulu, baru yang lain.” Atau, “Lo, tuh kuat, jangan kebanyakan drama. Nanti Allah marah, masa kalah sama cobaan kecil.” Aku hanya bisa tertawa membaca pesan itu, walau dalam hati selalu merasa diingatkan.
Beberapa bulan lalu, aku dapat kabar dia pulang. Kami janjian bertemu di alun-alun kota. Waktu aku lihat dia datang, rasanya aneh. Badannya keliatan lebih kurusan, tetapi senyumnya masih sama tulus, tidak dibuat-buat.
“Farah! Astaga, akhirnya kita ketemu lagi,” kataku sambil melambaikan tangan.
Dia nyengir, “Iya, lama banget ya. Lo nggak berubah, masih suka telat juga datengnya.” Aku pura-pura manyun.
“Yaelah, gue kan biar dramatis masuknya.” Farah ketawa kecil.
“Dramatis apaan, yang ada bikin orang nunggu.”
Kami pun duduk di bangku dekat pedagang balon. Dari obrolan ringan tentang jajanan sampai cerita serius tentang kuliahnya, semuanya mengalir begitu aja.
“Lo, inget nggak, waktu kita kabur dari ekskul pramuka gara-gara hujan?” tanyanya tiba-tiba.
Aku ngakak, “Lah, jelas inget. Lo, kan yang ngajak! Terus kita malah ketahuan lagi jajan bakso.” Farah makin tertawa.
“Terus disuruh push up depan kakak pembina. Malu banget, sumpah.” Obrolan makin seru.
Dia cerita soal kuliahnya, teman-teman barunya, sampai kesibukan organisasi. Namun di balik tawa itu, aku sempat melihat dia sering narik napas panjang.
Aku tanya, “Lo, baik-baik aja, Rah? Kok keliatan capek banget.”
Farah cuma senyum samar, “Namanya juga hidup, tetapi gue seneng bisa balik sebentar. Bisa ketemu lo, lagi.”
Pertemuan itu terasa singkat sekali. Sore itu juga dia pamit. Aku sempat protes. “Baru juga nongol, kok buru-buru balik, sih?”
Farah menatapku sebentar, matanya teduh. Lalu dia menyampaikan sepenggal kalimat yang membuat aku bingung. “Nggak semua janji bisa ditunda, ngerti, kan?”
Saat itu aku cuma melongo, tidak paham maksudnya. Aku pikir cuma gaya sok puitisnya saja.
Beberapa minggu setelahnya, malam-malam aku scroll medsos tanpa arah sambil rebahan. Tiba-tiba ada notifikasi grup alumni SMP. Pesannya pendek, tetapi membuat jantungku serasa jatuh.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Farah dipanggil Allah sore tadi. Aku bengong. Tanganku gemetar, ponsel hampir jatuh. Rasanya tidak percaya. Baru aja bertemu, baru aja tertawa bareng. Air mataku langsung jatuh tanpa bisa ditahan.
Malam itu juga aku mencari tiket. Besoknya, aku sudah duduk di bis menuju kampungnya. Sepanjang jalan, kenangan-kenangan masa SMP berputar kayak film lama yang diputar ulang. Tertawa di kelas, belajar bareng pas ulangan, doa-doa kecil yang sering dia bisikan kalau lagi panik.
Pemakaman itu sederhana. Tanah masih basah, aroma bunga bercampur bau tanah yang lembab. Suara takbir dan doa bergaung pelan. Orang-orang berdiri berbaris, wajah mereka muram. Aku melangkah pelan mendekat ke pusara. Rasanya berat sekali. Di sana, aku lihat sahabatku sudah tidur untuk selamanya, dibungkus kain kafan putih, dimakamkan dengan doa.
Aku berjongkok, menatap tanah yang baru ditimbun. “Rah… gue telat lagi, ya,” bisikku. Suaraku serak, air mata tidak berhenti mengalir.
Di sekelilingku, orang-orang mulai bubar, tetapi aku masih duduk di sana, membaca doa dengan suara pelan. Dalam hati, ada penyesalan yang tidak bisa dilukiskan. Kenangan terakhir bersamanya muncul lagi. Senyumnya, candaannya, dan kalimat terakhir yang dia sampaikan. Baru sekarang aku mengerti, ternyata itu semacam pesan pamit.
Sejak hari itu, hidupku berubah. Aku sadar, ajal tidak pernah menunggu siapa pun. Bisa datang kapan saja, ke siapa saja, tanpa kode terlebih dahulu.
Aku mulai memperbaiki salatku. Kalau azan berkumandang, aku buru-buru wudu. Tidak mau lagi menunda. Aku juga mulai lebih sering membantu orang tua, menyisihkan uang jajan untuk sedekah, dan berusaha menjaga pertemanan dengan baik. Pesan Farah terus terngiang, “Jangan menunda kebaikan, karena bisa jadi, besok kita udah nggak ada kesempatan.”
Kini aku sadar, persahabatan sejati itu bukan hanya soal berapa lama kita bersama, tetapi seberapa dalam kita bisa saling menuntun ke jalan yang benar. Meski Farah sudah tidak ada, nasihatnya jadi amal jariyah yang terus hidup dalam diriku.
Aku berdiri, menatap langit sore yang mendung. Dalam hati aku berdoa, semoga Allah ampuni dosa-dosanya, diterima semua amalnya, dan kelak mempertemukan kami lagi di tempat yang lebih indah, tanpa perpisahan. [CM/Na]
Views: 20






















