Karya: Olivia Rifkina
Siswi SMAN 1 Mentaya Hilir Selatan
CemerlangMedia.Com — Senja selalu datang dengan warna yang sama—jingga yang perlahan melebur ke kelabu. Akan tetapi di ujung kota, tepat di gang kecil yang jarang dilalui orang, ada sebuah lorong yang tampak berbeda. Lorong itu seakan tak pernah benar-benar gelap karena di ujungnya selalu terpampang cahaya senja, meski malam sudah jatuh di luar.
Araya menemukannya pada suatu sore ketika hujan turun tanpa jeda. Payungnya patah, langkahnya terseret ke arah lorong itu. Makin jauh ia masuk, makin ia merasa seolah waktu melambat.
Di ujung lorong, ia menemukan sebuah gerbang besi berwarna perunggu, setengah berkarat, tetapi memancarkan cahaya hangat. Di atasnya tertera tulisan samar:
“Gerbang Senja.”
Gerbang itu terbuka, dan dari dalamnya ia melihat sesuatu yang mustahil, hamparan ruang luas, penuh bangunan tua yang diselimuti cahaya oranye. Awan menggantung rendah, burung-burung beterbangan dengan sayap berkilau, dan udara dipenuhi aroma hujan bercampur tanah basah.
Namun yang paling membuatnya terpana adalah kenyataan bahwa senja di balik gerbang itu tak pernah berakhir. Matahari menggantung rendah di horizon, seolah enggan tenggelam.
Di dalam “kota senja” itu, Araya menemukan banyak bangunan aneh. Sebuah rumah kaca berisi botol-botol suara, jam-jam tanpa jarum di menara tua, kursi-kursi kosong di lapangan yang menghadap langit jingga. Semuanya terasa seperti ingatan manusia yang tak pernah selesai.
Ketika ia mendekati rumah kaca, sebuah suara tua menyapanya. “Selamat datang, pengembara sunyi.” Seorang lelaki berambut putih panjang berdiri di dekat pintu. Pakaian hitam lusuh melekat di tubuhnya, tetapi matanya berkilat bagai cahaya senja itu sendiri.
“Siapa Anda?” tanya Araya.
“Penjaga gerbang,” jawabnya. “Tugas saya memastikan senja ini tak pernah ditutup. Karena di sinilah semua yang tak selesai, semua yang tak terucap, menemukan tempatnya.”
Hari-hari berikutnya, Araya kembali melewati gerbang itu. Ia menyadari, setiap kali masuk, ia melihat kenangan yang tak pernah ia sadari, seseorang yang tak sempat ia sapa, waktu yang berhenti di tengah kebisuan, tawa yang hanya tinggal gaung. Semua itu tersimpan di kota senja, seperti museum hidup yang mengabadikan sunyi.
“Kenapa saya bisa melihat semua ini?” tanya Araya pada sang penjaga.
“Karena kau membawa terlalu banyak senja di dalam dirimu,” jawab lelaki itu.
“Cahaya yang indah, tetapi juga sendu. Gerbang ini hanya terbuka bagi mereka yang menyimpan senja di hati.”
Araya menggigit bibirnya. Ia tahu maksud lelaki itu. Sejak kecil, ia lebih sering merasa asing di tengah keramaian. Dunia terlalu bising, sementara ia hanya ingin diam.
“Kalau saya masuk terus, apa yang akan terjadi pada saya?” tanyanya.
Penjaga tersenyum samar. “Ada yang memilih tinggal selamanya, menyatu dengan senja. Ada pula yang hanya datang sesekali, membawa pulang ketenangan. Namun hati-hati, terlalu lama di sini bisa membuatmu lupa bagaimana rasanya malam dan pagi.”
Malam itu, Araya bermimpi. Ia berdiri di depan gerbang yang perlahan menutup. Dari balik celah, ia melihat cahaya senja memudar. Ia berlari, mencoba menahannya, tetapi pintu itu makin berat. Dari dalam, suaranya sendiri bergema, “Jika gerbang ini tertutup, apakah aku masih bisa menemukan diriku lagi?”
Ia terbangun dengan keringat dingin, hatinya diliputi dilema. Ketika kembali ke gerbang, Araya berkata kepada penjaga, “Saya ingin tahu, apakah saya harus menyerahkan semua senja saya ke tempat ini agar lebih ringan?”
Penjaga menatapnya lama. “Kau bisa, tetapi ingat, senja bukan hanya beban. Senja juga yang membuatmu mengerti arti cahaya dan bayangan. Tanpa senja, mungkin hidupmu akan terang, tetapi datar.”
Araya menatap matahari jingga yang menggantung abadi di langit kota itu. Ia menyadari, senja bukan sesuatu yang harus dihindari. Senja adalah jeda, peralihan, pengingat bahwa segala sesuatu tak pernah benar-benar abadi, tetapi juga tak pernah benar-benar hilang.
Dengan napas panjang, ia memutuskan, “Saya akan tetap membawa senja saya sendiri. Kalau suatu hari saya terlalu lelah, mungkin saya akan menitipkannya di sini. Namun untuk sekarang, biarlah saya pulang bersama cahaya ini.”
Penjaga gerbang tersenyum, “Maka gerbang ini akan selalu terbuka untukmu.”
Araya keluar dari lorong itu. Di luar, hujan telah reda dan langit benar-benar gelap. Tetapi di hatinya, masih ada cahaya jingga yang hangat, cahaya senja yang tak pernah ditutup. [CM/Na]
Views: 15






















