Karya: Novita Sabrina
Siswi SMAN 1 Mentaya Hilir Selatan
CemerlangMedia.Com — Matahari pagi menembus tirai jendela kamar kecil itu, menandai awal hari baru. Di rumah sederhana yang berdiri di pinggir desa, seorang anak bernama Arka terbangun perlahan. Usianya baru sembilan tahun, penuh rasa ingin tahu, dan masih sering melihat dunia dengan mata polos.
Di ruang depan, sang ayah, Pak Jaya, sudah bangun sejak subuh. Pagi itu ia sedang menyiapkan sarapan sederhana, nasi hangat, telur dadar, dan sayur bening. Bukan menu mewah, tetapi dibuat dengan penuh cinta. Setiap kali mengaduk sayur di panci, ia teringat wajah anaknya yang sebentar lagi akan masuk sekolah dasar kelas empat.
“Bangun, Ka,” suara lembut Pak Jaya memanggil. Arka berjalan sambil mengucek mata. “Sarapan dahulu sebelum berangkat.”
Arka duduk di kursi kayu yang agak goyah. Ia menatap ayahnya, lalu bertanya polos, “Ayah nggak capek kerja setiap hari?”
Pak Jaya tersenyum kecil. “Capek itu biasa, Nak. Tetapi capek ayah hilang kalau melihat kamu bisa sekolah dan sehat.”
Di mata Arka, ayahnya adalah sosok sederhana —tidak bergelar tinggi, tidak memakai pakaian mahal, tetapi selalu ada. Pak Jaya bekerja sebagai tukang kayu. Tangan kasarnya sering penuh serpihan. Namun, setiap goresan kayu yang ia bentuk terasa sebagai bukti nyata cintanya. Ia pernah membuatkan meja belajar kecil untuk Arka, walaupun tidak sempurna, meja itu menjadi benda paling berharga di kamar anaknya.
Setelah sarapan, Pak Jaya mengantar Arka dengan sepeda tuanya. Jalan menuju sekolah cukup jauh, melewati sawah, jalan berbatu, dan jembatan kecil di atas sungai. Sepanjang perjalanan, Pak Jaya bercerita tentang pepohonan, tentang cara petani menanam padi, dan tentang pentingnya merawat alam. Ia tahu bahwa meskipun pendidikan formal penting, pelajaran kehidupan juga tidak kalah berharga.
Arka sering bertanya hal-hal sepele —mengapa langit biru, kenapa burung bisa terbang, kenapa ayah tidak pernah naik mobil. Pak Jaya tidak selalu punya jawaban ilmiah, tetapi ia selalu menjawab dengan penuh kesabaran.
“Langit biru itu tanda indahnya ciptaan Tuhan. Burung bisa terbang karena sayapnya kuat dan ia berani. Mobil? Suatu saat, kalau kamu rajin belajar, mungkin kamu bisa naik lebih sering daripada ayah.”
Di sekolah, Arka mulai belajar menulis cerita. Ia menulis tentang ayahnya yang setiap pagi bangun lebih awal, tentang sepeda tua yang setia mengantarkan, tentang senyum sederhana yang tak pernah hilang.
Gurunya memuji tulisan Arka dan berkata, “Kamu beruntung punya ayah yang penuh perhatian.” Arka hanya mengangguk, merasa hatinya hangat.
Hari-hari berjalan. Terkadang Pak Jaya pulang larut malam karena ada pesanan lemari dari tetangga. Meski lelah, ia tetap menyempatkan diri mengecek PR anaknya. Jika Arka kesulitan berhitung, ia akan mendekat, mencoba menjelaskan dengan cara sederhana —membagi buah mangga, menggambar garis di kertas, atau menggunakan potongan kayu kecil.
“Belajar itu memang susah di awal, Ka, tetapi kalau kamu sabar, lama-lama bisa,” katanya.
Suatu sore, ketika hujan deras mengguyur desa, listrik padam. Rumah menjadi gelap. Arka merasa takut mendengar suara petir. Pak Jaya mengambil lilin, menyalakannya, dan duduk dekat anaknya. “Tak perlu takut. Listrik bisa padam, tetapi cahaya di hati kita tidak boleh padam.”
Ia lalu bercerita tentang masa kecilnya yang lebih sulit, ketika harus belajar hanya dengan lampu minyak. Arka mendengarkan penuh takjub. Saat itu ia sadar, betapa besar perjuangan ayahnya agar ia bisa hidup lebih baik.
Kasih sayang ayah sering terlihat dalam hal-hal kecil. Ia menyiapkan jas hujan plastik agar Arka tidak basah saat pulang sekolah. Ia rela menahan lapar ketika uang di dompet hanya cukup untuk membeli buku baru anaknya. Ia menahan rasa sakit di punggung ketika harus mengangkat papan kayu berat, demi memastikan ada biaya untuk seragam sekolah. Semua itu dilakukan tanpa keluhan, seolah pengorbanan adalah bagian alami dari cintanya.
Namun, kasih sayang ayah tidak selalu berupa perlindungan. Terkadang juga berupa ketegasan. Ketika Arka mencoba berbohong tentang nilai ulangannya, Pak Jaya menatapnya lekat. “Ayah tidak marah karena nilaimu jelek. Ayah marah karena kamu tidak jujur. Lebih baik gagal dengan jujur daripada berhasil dengan kebohongan.” Kalimat itu tertanam kuat di benak Arka. Ia belajar bahwa cinta bukan hanya kelembutan, tetapi juga kejujuran dan kedisiplinan.
Waktu berlalu. Arka tumbuh makin tinggi. Di suatu pagi ujian, ia merasa gugup. Tangannya gemetar, wajahnya pucat. Melihat itu, Pak Jaya meraih bahu anaknya. “Kamu sudah belajar. Percayalah pada dirimu. Ayah tidak meminta nilai seratus, ayah hanya ingin kamu berusaha dengan sungguh-sungguh.” Kata-kata sederhana itu menenangkan hati Arka lebih dari apa pun. Arka lulus dengan nilai baik.
Malam itu, Pak Jaya duduk di teras, menatap langit penuh bintang. Arka datang mendekat dan bertanya, “Ayah, kenapa sering lihat bintang?” Pak Jaya menjawab, “Karena setiap bintang mengingatkan ayah pada mimpi. Dahulu, ayah punya mimpi sekolah tinggi, tetapi keadaan tidak memungkinkan. Sekarang, ayah ingin kamu yang melanjutkan mimpi itu. Jangan takut bermimpi setinggi langit.”
Cerita tentang kasih sayang ayah bukan hanya rangkaian peristiwa besar, tetapi justru terkumpul dari momen kecil sehari-hari —senyuman di pagi buta, pelukan saat anak sakit, teguran ketika salah, dan doa yang terucap lirih setiap malam. Semua itu menyatu menjadi kisah panjang yang membentuk siapa Arka hari ini.
Di kemudian hari, Arka menuliskan cerita ini dalam buku catatannya. Ia menamai tulisan itu “SharePen: Kasih Sayang Ayah.” Dalam setiap kalimatnya, ia berusaha menggambarkan betapa besar cinta yang mungkin tidak selalu diucapkan dengan kata-kata manis, tetapi tampak jelas dalam tindakan nyata. [CM/Na]
Views: 20






















