Penulis: Nilma Fitri, S.Si.
Kontributor Tetap CemerlangMedia.Com
Dalam sistem Islam, peran ibu sangat krusial bagi keberlangsungan masa depan bangsa sehingga kebahagiaannya dijamin. Kebahagiaan ibu akan menciptakan atmosfer positif dalam keluarga. Bahkan dalam kondisi ibu yang teramat payah, seperti hamil dan menyusui, Islam memberikan keringanan baginya tidak berpuasa demi kesehatan bayi dan dirinya.
CemerlangMedia.Com — Ini Fakta dunia. Kata pepatah, “Sejahat-jahatnya orang tua, tidak ada yang tega menzalimi anaknya sendiri,” tidak berlaku dengan kondisi sekarang. Entah sudah ke berapa kali kasus seorang ibu tega membvnvh anaknya sendiri karena berbagai alasan.
Di Bandung, Jawa Barat, seorang ibu berusia 34 tahun ditemukan tewas di rumahnya. Tidak jauh dari posisinya, dua orang anaknya berusia 9 tahun dan 11 bulan juga ditemukan tak bernyawa. Disebabkan impitan ekonomi yang dialami, ibu tersebut tega menghabisi nyawa kedua anaknya. Surat wasiat yang ditinggalkan berisi permohonan maaf kepada keluarga, termasuk kepada kedua anaknya (bbc.com, 10-9-2025).
Lenyapnya Naluri Ibu
Tidak mampu berkata jika fakta sudah berbicara. Belaian kasih yang seharusnya terpancar dari seorang ibu, kini tercabik, meregang nyawa sang anak. Dilatarbelakangi kondisi ekonomi, tidak kuat mengalami kesusahan hidup yang terus-menerus, naluriah ibu pun lenyap.
Kasus filisida maternal bukan hanya kali ini saja. Berdasarkan laporan KPAI, sepanjang tahun 2024, telah terjadi 60 kasus filisida dengan pelaku terbanyak adalah ibunya.
Melihat kondisi ibu sebagai pelaku terbanyak, sungguh sangat memprihatinkan. Ibu adalah tiang rumah tangga, penyangga kebahagiaan anak-anak dan seluruh anggota keluarga. Apalah jadinya jika kondisi ibu sudah begitu terpuruk, nasib yang menimpa anak menjadi sangat buruk.
Tekanan ekonomi adalah faktor terbesar kedua penyebab filisida setelah motif depresi atau psikologis yang membuat kondisi ibu terpuruk. Kedua faktor ini sangat berkaitan erat dengan pola berpikir ibu terhadap keadaan yang mereka alami.
Seperti kasus EN di Bandung, kemiskinan, impitan ekonomi yang tidak mampu ditanggungnya kemudian memunculkan jalan pintas bagi mental ibu untuk mengakhiri hidup anak-anaknya. Sebuah kenyataan pahit yang jauh dari klaim kesejahteraan yang digaungkan pemerintah selama ini.
Penyebab Lenyapnya Naluri
Kasus filisida tidak hanya berbicara tentang mental ibu, tetapi tentang sebuah sistem kompleks yang bermuara dan berpengaruh pada kesehatan mentalnya. Apabila sistem tersebut bobrok, maka kesehatan mental ibu akan penuh dengan borok.
Sistem kehidupan yang penuh dengan tuntutan materi tanpa memperhatikan peran dan fungsi ibu, menuntut ibu harus serba bisa, jauh dari batas kemampuannya. Sistem kapitalisme saat ini menuntut ibu bekerja dan bertanggung jawab terhadap nafkah keluarga, bertolak belakang dengan fitrahnya sebagai pengasuh dan pendidik bagi anak-anaknya.
Tidak heran jika mental ibu menjadi sakit karena sistem kehidupannya yang memang sakit. Tuntutan ekonomi yang semestinya tidak ia tanggung, justru menjadi momok besar demi menghidupi anak-anaknya, terlebih apabila suaminya pengangguran, derita ibu akan makin bertambah.
Belum lagi dangkalnya pemahaman agama seorang ibu sebagai dampak sistem sekularisme yang diadopsi negara, telah menggerogoti keimanan ibu dari kehidupannya. Rasa depresi dan emosi yang mendalam terhadap keadaan telah menjadikan jiwa-jiwa para ibu rapuh. Kasih sayang ibu pun akhirnya tersalurkan di jalan yang salah.
Kasih sayang yang kemudian memunculkan ketakutan akan masa depan sang anak dari kesulitan ekonomi, berujung pada penghilangan nyawa buah hatinya. Sungguh, sebuah sistem gagal telah melahirkan filisida maternal.
Solusi Islam
Lain halnya dalam sistem Islam. Peran ibu yang sangat krusial bagi keberlangsungan masa depan bangsa, dijamin kebahagiaannya dalam Islam. Kebahagiaan ibu akan menciptakan atmosfer positif dalam keluarga. Bahkan dalam kondisi ibu yang teramat payah seperti hamil dan menyusui, Islam memberikan keringanan baginya tidak berpuasa demi kesehatan bayi dan dirinya.
Begitu juga dengan fitrah pengasuhan dan pendidikan anak yang berada di tangan ibu, maka nafkah dan pemenuhan ekonomi berada di tangan ayah. Islam telah menjamin nafkah seorang wanita melalui jalur laki-laki sebagai walinya. Apabila ia belum menikah, maka ayahnya wajib menanggung nafkahnya. Akan tetapi jika ia telah menikah, maka kewajiban nafkah berada di tangan suaminya.
Jalur nafkah seorang wanita tidak hanya terputus pada ayah atau suaminya, tetapi juga dari saudara laki-laki dan pamannya dari jalur ayah. Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 233,
… وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“… Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada mereka (para ibu) dengan cara yang baik.“
Di sinilah fungsinya negara dalam Islam. Negara wajib menjamin lapangan pekerjaan bagi para ayah dan suami sebagai pencari nafkah. Negara juga akan menjamin kebutuhan dasar hidup, seperti kesehatan dan pendidikan bebas biaya bagi rakyatnya agar beban kehidupan ibu menjadi ringan.
Beban kehidupan yang ringan akan membuat pikiran ibu tenang sehingga naluri keibuan pun akan bertumbuh ideal, kasih sayangnya akan tercurah sempurna, dan didikannya akan melahirkan tunas-tunas generasi unggul. Betapa indah kehidupan ibu dalam sistem Islam, tidak ada lagi filisida maternal oleh ibu karena penderitaan impitan ekonomi.
Wallāhu a’lam bisshawab. [CM/Na]
Views: 10






















