Penulis: Annisa Lailia
Dengan stabilitas ekonomi yang dijamin negara serta karakter yang dibentuk oleh akidah yang sempurna, pernikahan tidak lagi dilihat sebagai beban yang harus dihindari, melainkan sebagai jalan mulia yang dimudahkan dan diberkahi. Dengan ini, “luka” yang sering muncul di sistem kapitalisme pun teratasi. Beban ekonomi akan hilang. Generasi muda berani melangkah menuju ikatan suci dan siap menjadi penyelamat umat.
CemerlangMedia.Comā Pernikahan adalah sebuah ikatan suci yang jauh melampai sekadar urusan biologis atau kontrak sipil. Pernikahan adalah akad (perjanjian) yang sangat kuat. Satu-satunya yang bisa mengikat hubungan antara laki-laki dan perempuan āyang tadinya haram (asing) menjadi halal, terhormat, dan diberkahi.
Namun sayangnya, ikatan suci dalam pernikahan tidak lagi dianggap mulia, bahkan cenderung kehilangan nilainya. Ini terjadi karena sistem kapitalisme. Melalui pengaruh materialisme dan tingginya biaya hidup, telah memaksa masyarakat untuk mengukur kesucian pernikahan dari tebalnya isi dompet, bukan dari ketakwaan.
Menurut data BPS, jumlah pernikahan terus menurun sejak 2013 dan diperkirakan masih berlanjut hingga 2025. Kepala Kantor Wilayah Kemenag Adib menyatakan, faktor penyebab turunnya angka pernikahan adalah karena generasi muda memilih untuk menunda pernikahan, sebab ekonomi atau karir yang belum matang (kemenag.go.id, 30-9-2025).
Generasi muda kian enggan untuk menikah seiring dengan angka pengangguran yang tinggi. Hal ini terjadi karena sulitnya mencari pekerjaan. Terlebih lagi pada 2026 mendatang, diprediksi akan menjadi tahun yang sulit untuk mencari pekerjaan (viva.co.id, 01-12-2025).
Dampak Ekonomi Kapitalisme
Adanya fenomena “mariage is scary“, juga merupakan bukti bahwa ketakutan ini bukanlah masalah mental individu, melainkan “luka” yang ditimbulkan oleh sistem ekonomi kapitalisme yang gagal menjamin kesejahteraan rakyatnya. Ketakutan generasi muda untuk menikah bukanlah fobia, melainkan respons rasional terhadap buruknya sistem ekonomi di negara ini.
Sebagai contoh nyata, inflasi November 2025 berada di angka 0,17%. Menurut Ekonom Bank Danamon Hossiana S, pola musiman menjelang akhir tahun mulai terlihat, terutama pada komoditas pangan. Permintaan terus meningkat, sementara pasokan terus menurun karena faktor musim (cnbc.com, 01-12-2025).
Kapitalisme menciptakan jurang lebar antara upah yang minim dan biaya hidup yang melambung tinggi. Sistem ini membiarkan kebutuhan dasar, seperti pangan dijadikan sebagai objek mencari keuntungan bagi pihak tertentu.
Akibatnya, setiap kendala pasokan, misalnya karena faktor musim, alih-alih negara yang bertanggung jawab, tetapi justru langsung berubah menjadi kenaikan harga yang membebani. Kodisi ini secara langsung memiskinkan generasi muda yang ingin menikah, membuat ikatan suci pernikahan sebagai proyek finansial yang berisiko.
Tekanan ekonomi melengkapi kerusakannya dengan memicu perubahan nilai pernikahan dari ibadah menjadi transaksi. Di bawah pengaruh pendidikan sekuler dan budaya materialis yang didorong oleh kapitalisme, standar keberhasilan rumah tangga bukan lagi sakinah, mawaddah, wa rahmah, melainkan kemampuan finansial.
Pernikahan dilihat sebagai risiko investasi yang harus memiliki modal besar (mahar, venue mewah, aset). Ini menghilangkan nilai mulia dan kesucian pernikahan karena fokusnya bukan lagi pada ketaatan kepada Allah, melainkan pada pemenuhan gengsi dan ketakutan akan kegagalan materi. Ketakutan akan kemiskinan menjadi lebih nyata daripada janji keberkahan. Ini membuktikan kapitalisme telah merusak jiwa dan sistem sosial.
Ini adalah buah pahit dari rusaknya sistem ekonomi kapitalisme yang mengutamakan keuntungan korporasi dibanding kesejahteraan rakyatnya sehingga menyebabkan beban hidup dipikul sepenuhnya oleh setiap individu. Sementara negara berlepas tangan dalam kewajibannya mengurusi rakyat.
Pernikahan yang seharusnya menjadi salah satu cara meraih rida Allah Swt., kini menjadi beban bagi generasi muda. Mereka lupa betapa tingginya kedudukan pernikahan dalam agama.
Menikah Menyempurnakan Separuh Agama
Sejatinya, pernikahan adalah penyempurna separuh agama dan ibadah terpanjang bagi seorang muslim. Dengan menikah, seorang muslim menjaga diri dari maksiat sehingga mempermudah fokus pada ibadah lainnya, sebagaimana sabda Rasul saw., “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR Al-Baihaqi).
Dalam Islam, negara adalah penjamin utama yang memastikan setiap individu terpenuhi kebutuhan dasarnya (sandang, pangan, papan). Jaminan ini bukanlah janji semata, ini akan diwujudkan melalui kepemilikan umum.
Sumber daya umum milik publik, seperti air, tambang, energi, tanah dan laut, tidak akan diserahkan kepada swasta atau asing, melainkan akan dikelola oleh negara. Negara akan memaksimalkan pengelolaan sumber daya dan memberikan manfaatnya kepada rakyat.
Setiap warga negara berhak untuk menerima manfaat atas kepemilikan umum dan negara wajib menjamin hal tersebut. Masyarakat pun berhak untuk memanfaatkan fasilitas publik yang dibutuhkan serta jaminan pemenuhan kebutuhan pokok dan kebutuhan dasar.
Ini yang secara fundamental akan menghilangkan beban biaya yang mencekik. Ketika harga energi yang berasal dari sumber daya alam dan kebutuhan lainnya stabil serta terangkatnya beban biaya kebutuhan primer, maka ketakutan akan kemiskinan menjadi sirna. Negara akan menanggung semua beban ekonomi dasar pasangan muda atau individu lainnya.
Begitupun pendidikan, memiliki peran penting dalam kasus ini. Pendidikan yang berbasis akidah yang diajarkan oleh Islam akan membentuk generasi yang memahami tujuan hidup, yakni semata-mata hanya untuk meraih rida Allah Swt., bukan mengejar kemewahan dunia. Mereka pun memahami betul arti penting bingkai pernikahan yang bertujuan membangun peradaban Islam yang agung.
Generasi Islam akan memandang pernikahan sebagai separuh agama dan ladang untuk beribadah, bukan sebagai transaksi ekonomi yang penuh risiko. Menjadikan sakinah, mawaddah, wa rahmah sebagai tolok ukur rumah tangga, maka pernikahan akan kembali pada kesederhanaannya, kemudahannya, serta keberkahannya.
Dengan stabilitas ekonomi yang dijamin negara, juga karakter yang dibentuk oleh akidah yang sempurna, pernikahan tidak lagi dilihat sebagai beban yang harus dihindari, melainkan sebagai jalan mulia yang dimudahkan dan diberkahi. Dengan ini, luka kapitalisme pun teratasi. Beban ekonomi akan hilang. Generasi muda berani melangkah menuju ikatan suci dan siap menjadi penyelamat umat. [CM/Na]
Views: 26






















