Penulis: Jesi Nadhilah
Pengajar dan Aktivis Muslimah
Kebangkitan umat tidak akan terwujud hanya dengan perbaikan parsial atau kompromi dengan sistem yang rusak. Umat membutuhkan tegaknya kepemimpinan Islam yang berdaulat dan independen, yang mampu melawan dominasi dan arogansi kekuatan global.
CemerlangMedia.Com — Dominasi Amerika Serikat (AS) dalam tatanan geopolitik dan ekonomi dunia terus menjadi perhatian banyak pengamat internasional. Konstelasi global pada awal tahun 2026 mencuat setelah serangan militer yang dilakukan AS terhadap Venezuela, termasuk penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan AS. Peristiwa ini memicu kecaman dari berbagai negara seperti Rusia dan China, yang menilai tindakan tersebut sebagai agresi yang tidak dapat dibenarkan dan pelanggaran terhadap prinsip kedaulatan negara berdaulat. Kritik ini menunjukkan arogansi kebijakan luar negeri AS yang dipandang melampaui norma-norma hukum internasional (detiknews, 05-01-2026).
Dalam kajian geopolitik, tindakan AS terhadap Venezuela mencerminkan bagaimana kekuatan besar masih sering menggunakan instrumen politik dan militer untuk mencapai tujuan strategis mereka. Penangkapan Maduro bukan hanya peristiwa sporadis, tetapi bagian dari narasi kekuasaan yang lebih luas, yaitu negara kuat berupaya mengukuhkan pengaruh di wilayah yang kaya sumber daya, sekaligus menciptakan preseden yang kontroversial dalam hubungan internasional (Kumparan.com, 06-01-2026).
Sementara itu, di ranah sosial-ekonomi, kapitalisme global dan sistem digitalnya juga diduga berkontribusi terhadap masalah yang makin kompleks, seperti munculnya child grooming di dunia digital. Analisis dalam kumparan menunjukkan bahwa struktur kapitalisme digital yang didorong oleh logika pasar dan algoritma keterlibatan pengguna, menciptakan ruang subur bagi eksploitasi interaksi anak-anak secara psikologis, sebuah bentuk kekerasan yang sering tersembunyi, tetapi berdampak besar (Kumparan.com, 30-01-2026).
Dampak Ideologi Kapitalisme
Ideologi kapitalisme sekuler telah menjadi arus utama dalam tata kehidupan global, termasuk di negeri-negeri kaum muslim. Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan, sementara kapitalisme menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan utama. Kombinasi keduanya terbukti merusak sendi-sendi kehidupan umat Islam secara menyeluruh. Dalam aspek akidah, umat perlahan dijauhkan dari keyakinan bahwa Islam adalah sistem hidup yang paripurna. Agama direduksi menjadi urusan ritual pribadi, tidak lagi dijadikan landasan berpikir dan bertindak dalam mengatur masyarakat dan negara.
Kerusakan juga tampak pada aspek muamalah dan akhlak. Nilai halal-haram, kejujuran, amanah, dan tanggung jawab sosial tergeser oleh logika untung-rugi. Akibatnya, praktik curang, eksploitasi, dan individualisme dianggap wajar selama menguntungkan secara ekonomi. Dalam pendidikan, tujuan pembelajaran direorientasi untuk mencetak tenaga kerja bagi pasar, bukan membentuk kepribadian Islam yang beradab dan bertakwa. Sementara dalam sosial budaya, liberalisme yang lahir dari sekularisme mendorong kebebasan tanpa batas, merusak tatanan keluarga, adab pergaulan, dan identitas umat.
Di ranah ekonomi dan politik, kapitalisme menciptakan ketimpangan struktural. Kekayaan terkonsentrasi pada segelintir elite dan korporasi besar, sementara mayoritas umat Islam hidup dalam kemiskinan dan ketergantungan. Negara-negara muslim sering kali terjebak dalam sistem utang, liberalisasi pasar, dan privatisasi sumber daya alam yang seharusnya dikelola untuk kemaslahatan rakyat.
Amerika Serikat sebagai motor utama kapitalisme global memanfaatkan kondisi ini untuk mempertahankan hegemoninya. AS menggunakan berbagai cara, mulai dari tekanan politik, sanksi ekonomi, intervensi militer, hingga aneksasi terselubung demi menguasai sumber daya alam negara lain. Tindakan ini sering kali mengabaikan tatanan hukum internasional serta kecaman masyarakat dunia. Negara-negara yang menolak tunduk pada kepentingan AS kerap dilabeli sebagai ancaman, lalu dilemahkan melalui konflik berkepanjangan atau destabilisasi politik.
Praktik ini menunjukkan bahwa kapitalisme sekuler bukan sistem yang menjunjung keadilan global, melainkan alat penjajahan gaya baru. Umat Islam bukan hanya menjadi korban secara ekonomi dan politik, tetapi juga secara ideologis dan peradaban. Selama umat masih berada dalam cengkeraman sistem ini, kerusakan akan terus meluas. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk kembali menjadikan Islam sebagai landasan berpikir dan sistem kehidupan agar umat mampu bangkit, mandiri, dan terbebas dari dominasi ideologi yang merusak.
Butuh Ideologi Islam
Umat Islam sejatinya memiliki modal besar untuk bangkit dari keterpurukan global, yakni mabda Islam, sebuah ideologi yang bersumber dari akidah Islam dan melahirkan sistem kehidupan yang menyeluruh. Mabda ini bukan sekadar ajaran spiritual, tetapi pedoman praktis dalam mengatur politik, ekonomi, sosial, pendidikan, hingga hubungan internasional. Sayangnya, umat hari ini banyak yang tercerabut dari kesadaran tersebut sehingga mudah didominasi oleh hegemoni Amerika Serikat dan ideologi kapitalisme sekulernya.
Kebangkitan umat tidak akan terwujud hanya dengan perbaikan parsial atau kompromi dengan sistem yang rusak. Umat membutuhkan tegaknya kepemimpinan Islam yang berdaulat dan independen, yang mampu melawan dominasi dan arogansi kekuatan global. Kepemimpinan ini bertumpu pada syariat Islam, bukan kepentingan korporasi atau tekanan geopolitik. Dengan kepemimpinan Islam, umat tidak lagi menjadi objek penjajahan ekonomi, politik, maupun budaya, melainkan kembali menjadi subjek peradaban yang memimpin dunia dengan nilai kebenaran dan keadilan.
Lebih dari itu, kepemimpinan Islam adalah satu-satunya harapan untuk mengembalikan tatanan kehidupan dunia yang penuh rahmat. Islam tidak memandang kepemimpinan sebagai alat eksploitasi, melainkan amanah untuk mengurusi urusan manusia dengan adil. Inilah makna Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, yang menghadirkan keamanan, kesejahteraan, dan ketenteraman bagi seluruh makhluk.
Khatimah
Dalam sejarahnya, negara Islam tidak hanya melindungi umat Islam, tetapi juga menjamin keselamatan seluruh manusia tanpa diskriminasi. Negara Islam, yakni Khil4f4h menutup pintu kezaliman, mencegah kemungkaran dan kemaksiatan, serta mengelola sumber daya alam dengan prinsip amanah, bukan keserakahan. Sebab, banyaknya kerusakan dan bencana yang hari ini terjadi merupakan buah dari pengelolaan alam yang eksploitatif ala kapitalisme. Oleh karena itu, mengingatkan umat akan kewajiban menegakkan kepemimpinan Islam bukanlah utopia, melainkan kebutuhan mendesak demi keselamatan manusia dan dunia. [CM/Na]
Views: 16






















