Lintang di Langit Mahameru

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: D’Ikhty
Bab 6 Rumah Tua Digusur

CemerlangMedia.Com, NOVEL — Udara dingin merayap halus di permukaan kulit Lintang hingga menembus tulang. Hujan semalaman membuat hawa malam terasa lebih dingin dari biasanya. Kain jarik peninggalan nenek menyelimuti tubuh Lintang. Meski kain itu tipis, tetapi sangat membatu menghangatkan tubuh gadis itu saat kesepian.

“Nek, peluk Lintang kuat, ya?” Sejak meninggalnya sang nenek, Lintang kerap mengigau. Dengan memeluk kain jarik, ia merasa seolah nenek sedang memeluknya.

Embusan angin yang menyusup sela-sela jendela serasa mulai mencubit kulit. Bersamaan kumandang azan Subuh, Lintang terbangun. Keheningan di waktu Subuh memang berbeda dengan waktu-waktu lain. Terasa dingin, tetapi menciptakan ketenangan.

Lintang duduk di pinggir ranjang, menutup mata dan terdiam sesaat. Tarikan napas panjang mengingatkannya akan memori di masa lalu. Setiap pagi, ia sengaja bermalas-malasan untuk bangun pagi, menunggu nenek membangunkannya. Usai bangun, digelayutinya lengan nenek dan bermanja-manja sampai puas. Kini, sosok penyabar dan penyayang itu telah pergi.

Lintang mengembuskan napas perlahan hingga sadar bahwa ia tidak sendiri. “Bukankah Allah selalu membersamai hamba-Nya yang senantiasa bersabar dan taat?” gumam Lintang lemah.

Air mata yang merembes pelan di pipi, kini mulai terhapus air wudu. Tidak ada tempat yang lebih baik bagi Lintang, kecuali menangis di atas sajadah, mengadu kepada Sang Pencipta manusia. Hiruk pikuk dan segala masalah di dunia terasa senyap sejenak saat bersujud.

Hari sebelumnya, Lintang disambut dengan sarapan pagi saat menuruni anak tangga. Pagi ini, meja makan panjang yang terletak di bawah tangga itu kosong. Hanya tisu dan rangkaian bunga hidup yang masih setia di dalam vasnya. Lintang berinisiatif mendatangi kamar Lastri untuk mengetahui kondisi wanita itu.

“Bi.… Bi Lastri.…” Tidak ada sahutan saat Lintang mengetuk pintu kamar Lastri.

Bunyi gemericik air di dapur bak magnet bagi Lintang untuk mendekati sumber suara. Lastri sementara membersihkan dapur hingga kitchen set dan lantai marmer hitam terlihat lebih kinclong.

“Bi, Bibi masak apa hari ini?” Sebuah senyum, Lintang berikan semanis mungkin.

Lastri tampak ragu-ragu untuk menjawab. “Bi-bibi belum masak, Neng.” Diambilnya kain pel basah yang bersandar di tembok untuk dijemur ke teras belakang.

Lintang membuka magic com, tetapi hanya berisi angin. Saat membuka kulkas, rak-rak dari kaca itu juga kosong, tidak ada bahan makanan apa pun. Lintang memerhatikan Lastri yang bersikap aneh pagi ini. Asisten rumah tangga itu lebih pendiam dari tadi malam.

“Bi…, ternyata tidak ada bahan makanan, ya? Tante Lana dan Paman Danu belum kasih uang belanja, atau…?” tanya Lintang pelan. Namun, Lastri enggan menjawab.

Lintang meraih telapak tangan Lastri untuk berpamitan dengan menyelipkan dua lembar uang bergambar proklamator Soekarno-Hatta. “Bi, pakai uang ini untuk belanja, ya….”

Lastri terkejut. “Jangan, Neng! A-anu… sebenernya masih ada bahan makanan banyak. Tapi… Bibi taruh di rumah belakang.” Di belakang rumah mewah itu memang ada sebuah rumah kecil yang khusus ditempati Dadang. Lastri terlihat gugup saat berkata, “Tadi malam Nyonya berpesan, katanya jangan dulu memasak di rumah.”

Lintang makin penasaran dengan pengakuan Lastri. “Memangnya, kenapa, Bi?”

“A-anu… kata Nyonya, Neng Lintang abis buat kesalahan tadi malam. Jadi, Nyonya minta Bibi untuk tidak usah memasak sebagai hukuman buat Neng Lintang. Katanya, biar Neng Lintang sadar.”

“Hah?” Lintang membuka mulut lebar, tidak menyangka dengan pengakuan Lastri.

“Neng simpan aja uangnya. Nanti bisa dipakai untuk makan di luar.” Lastri kembali menyibukkan diri dengan merapikan isi dalam kabinet dan laci kitchen set.

“Huft. Kenapa jadi gini? Bukannya tadi malam belum jelas pelakunya? Hmm, kalau kondisinya kayak gini, aku gak bisa berlama-lama di rumah ini. Tapi… mesti tinggal di mana?” pikir Lintang ruwet.

“Bi, Lintang pamitan, ya.”

“Oh, iya. Neng. Hati-hati, ya.”

Keluar dari dapur, Lintang melihat sebuah tang yang tergeletak di atas buffet televisi.

“Ah, aku dan kamu sepertinya berjodoh pagi ini,” gumam Lintang sambil tersenyum.

Diambilnya tang itu kemudian disembunyikannya di balik kerudung. “Hmm, hal pertama yang harus aku lakukan….” Lintang menempelkan jari telunjuk di bibir lanjut menaiki anak tangga hingga terhenti di pintu kamar.

Dengan langkah cepat, Lintang menuruni anak tangga, mengembalikan tang di tempat semula lanjut menuju teras rumah. “Mang Dadang, Lintang minta tolong gantiin kunci kamar, boleh?”

Dadang yang tengah sibuk menyapu dedaunan di halaman menghentikan aktivitasnya. “Loh, emang kuncinya kenapa, Neng?”

“Hmm, kuncinya patah, Mang.” Lintang duduk menunduk di kursi teras sambil mengikat tali sepatu.

“Saya lihat dulu, ya, Neng?” Dadang menyandarkan sapu lidi di tembok kemudian berlalu untuk mengecek pintu kamar Lintang.

Aroma tanah basah menjadi saksi bisu bahwa hujan tadi malam turun cukup deras. Air hujan masih menempel di pepohonan, bunga, dan rerumputan. Lintang mengedarkan mata di setiap sudut taman kecil keluarga Danu. Aneka bunga dalam pot berjejer di rak-rak kayu. Pot bunga lebih banyak berisi mawar dan aglonema. Ada pula pot bunga mini yang berputar-putar menggantung di langit-langit teras rumah.

“Halaman rumah Paman Danu sangat indah dan penuh warna. Tapi sayang, kondisi di dalam rumah tak seceria bunga-bunga di taman. Pepohonan di sudut sana bisa menaungi ikan hias dalam kolam mini di bawahnya. Tapi sayang, orang-orang di dalam rumah ini tidak bisa saling melindungi dan memberi rasa damai,” ujar Lintang memainkan nalarnya.

“Neng….” sapa Dadang membangunkan lamunan Lintang. “Sebenanya, pintu kamar itu masih ada kunci cadangan. Neng Addara yang simpan. Tapi, anak kunci yang patah terjebak di dalam dan susah diambil. Nanti Mamang coba ganti anak kuncinya saja.”

“Kalau kunci cadangan itu dipegang Addara, berarti ada kemungkinan memang Addara yang menyelipkan gelang itu di laci nakas,” pikir Lintang berspekulasi. “Hmm, sesuai yang kuharapkan, ganti anak kunci lebih aman.”

“Biayanya kira-kira berapa, ya, Mang?”

“Palingan lima puluh ribu, Neng. Nanti biar saya yang pasang sendiri biar gak perlu ongkos tukang,” ungkap sang sopir yang terkadang merangkap tukang kebun.

“Mang, ini, ya. Kalau kurang, nanti Mang Dadang bilang, ya.” Sang gadis menyodorkan selembar uang dengan nominal seratus ribu kemudian menarik tali ransel agar lebih kuat.

“Baik, Neng. Oh, ya, Neng. A-anu, Nyonya bilang, katanya saya gak boleh antar jemput Neng Lintang ke sekolah.” Dadang menggaruk-garuk kepala, merasa serba salah.

Lintang mematung sejenak. “Owh, iya, gak apa apa, Mang. Nanti Lintang bisa pesan taksi online.”

Lintang mempercepat langkah seolah ingin segera kabur dari rumah itu. “Ternyata… hidup bersama orang kaya tidak seindah dan sedamai hidup dengan orang desa.”

Ditariknya ponsel dari dalam saku saat berada di luar gerbang untuk memesan taksi online. Hanya butuh waktu lima menit, taksi itu sampai di hadapan Lintang. “Bang, sesuai titik, ya, SMA Budi Mulia.”

Roda taksi itu melaju saat sopir memastikan Lintang sudah duduk manis di belakangnya. Tiba-tiba, Lintang teringat akan sahabatnya di desa. Ia mulai mencari nama kontak sahabatnya, Darti, di WhatsApp.

[Assalamu’alaikum … gimana kabarmu cinta …?] 06.37

[Wa’alaikumsalam. Hai umur panjang, aku baru aja mau chat kamu] 06.47

[Lama bingit kamu balas] 06.48

[Lah, kamu chat baru 10 menit lalu, tuh. Eh, kamu dah dapat kabar belum? Rumah nenek kamu dah digusur] 06.49

[Apa? Kok bisa?] 06.49
[Aku kirim fotonya, ya] 06.51

Hening. Suara bising kendaraan, cuitan burung, hingga asap knalpot semuanya terasa lenyap seketika. Gadis itu mematung lama saat melihat foto yang dikirim oleh sahabatnya. Rumah tua tempat ia dibesarkan sekarang rata dengan tanah. Ada gemuruh dalam dada yang enggan untuk pergi. Tenggorokannya tiba-tiba kering, seolah seluruh cairan di tubuh menguap terbakar amarah.

Beban emosi yang ditahan membuat Lintang lemas. Ia berupaya melepas beban dengan duduk bersandar hingga ponsel di genggaman meluncur perlahan di jok mobil. Tatapan yang kosong itu disembunyikan oleh sepasang kelopak mata. Ketegaran yang beberapa hari ini dibangun, luruh seketika. Optimisme bahwa dunia akan baik-baik saja, kini menjadi sulit dipahami.

“Siapa yang tega melakukan semua ini? Kenapa jadi begini?” pikirnya.

Gadis itu tak kuasa lagi menahan air mata yang mulai membanjir. Diremasnya rok abu-abu yang membelit tubuh bagian bawah untuk mengontrol emosi.
***

[CM/Na]

Views: 15

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *