Ketika Masa Depan Terasa Kabur

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: Aksara Senja

CemerlangMedia.Com — Masa depan terasa kabur bukan karena generasi muda kehilangan kemampuan atau kemauan untuk berjuang, melainkan karena ruang untuk melangkah makin sempit. Kehidupan hari ini memperlihatkan kenyataan pahit: akses terhadap kekuasaan, sumber daya, dan peluang tidak terbuka secara adil. Masa depan yang seharusnya menjadi ruang harapan, berubah menjadi arena yang telah dikuasai sejak awal oleh segelintir orang.

Fenomena anak pejabat yang dengan mudah menempati posisi strategis, bahkan menguasai program-program publik yang menyentuh hajat hidup rakyat, bukan lagi isu tersembunyi. Kekuasaan berputar di lingkaran yang sama. Anak pejabat menjadi pejabat, keluarga elite mengisi ruang-ruang penting negara, sementara rakyat hanya menjadi penonton. Dalam kondisi seperti ini, keadilan berubah menjadi jargon, dan meritokrasi kehilangan maknanya. Padahal Allah ﷻ telah memperingatkan:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS An-Nisa: 58).

Ketika amanah kekuasaan tidak diberikan kepada yang berhak, maka kerusakan sistemik menjadi keniscayaan. Kekuasaan tidak lagi berfungsi melayani, melainkan melanggengkan kepentingan keluarga dan kelompok tertentu.

Ketimpangan juga tampak jelas dalam pengelolaan sumber daya alam. Kekayaan negeri yang seharusnya menjadi milik bersama justru diklaim dan dikuasai oleh segelintir pengusaha secara turun-temurun. Negara hadir bukan sebagai penjaga kepentingan rakyat, melainkan sebagai pemberi karpet merah bagi kepentingan modal. Allah ﷻ mengingatkan:

“Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS Al-Hasyr: 7).

Ayat ini menegaskan bahwa penumpukan kekayaan pada segelintir orang adalah bentuk penyimpangan dari prinsip keadilan sosial dalam Islam. Ketika distribusi kekayaan tidak adil, masa depan mayoritas manusia otomatis menjadi suram.

Dalam situasi seperti ini, generasi muda diarahkan untuk “berwirausaha” sebagai solusi tunggal. Namun, realita tidak seindah narasi. Mereka berlomba membuka usaha di tengah ekonomi yang rapuh, daya beli masyarakat yang melemah, serta persaingan yang timpang. Banyak usaha akhirnya gulung tikar, bukan karena kurang usaha, melainkan karena sistem ekonomi tidak memberi ruang yang sehat. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah mencintai apabila seseorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (sungguh-sungguh dan profesional).” (HR Al-Baihaqi).

Namun, kesungguhan saja tidak cukup jika sistem sejak awal tidak adil. Ketika kerja keras tidak dilindungi oleh aturan yang berpihak, maka kegagalan bukan kesalahan individu, melainkan akibat sistemik.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 10

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *