Prahara di Selat Malaka

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Yulweri Vovi Safitria
Bab 5 Sandi Terakhir Sang Nahkoda

CemerlangMedia.Com, NOVEL — Malam itu, Selat Malaka tidak lagi menampakkan pesonanya. Laut yang biasanya berkilau perak terpapar cahaya bulan, kini tampak seperti cairan tinta pekat yang menyimpan marabahaya. Di tengah kepungan kapal-kapal abu-abu milik konsorsium Blue Horizon, sebuah kapal kayu tua bernama Lancang Kuning tampak terombang-ambing di batas garis terlarang.

Itu adalah kapal milik Kakek Usman, nahkoda paling sepuh di kampung Mala. Semua orang tahu, Kakek Usman adalah perpustakaan hidup tentang arus, karang, dan rahasia selat ini. Namun, sejak kedatangan Miller dan pasukannya, Kakek Usman lebih banyak diam, menatap laut dari berandanya dengan tatapan kosong yang dalam.

Hingga tengah malam ini, Mala menerima sebuah pesan singkat di radio panggil tua milik ayahnya yang sudah lama tak digunakan. Suara statis mendesis sebelum sebuah suara serak yang sangat ia kenali memecah keheningan.

“Bunga pesisir… Bunga pesisir… Ini Camar Tua. Arus balik akan segera tiba. Jangan biarkan mercusuar memadamkan jiwanya. Ingat koordinat 04-12. Sandi terakhir adalah kejujuran ombak.”

Mala terlonjak. “Kakek Usman?” bisiknya ke arah radio, tetapi hanya desis angin yang menyahut.

Mala segera menghubungi Maria. Mereka tahu, ini bukan sekadar igauan orang tua. Kakek Usman sedang mengirimkan sesuatu—sebuah pesan sandi yang hanya dimengerti oleh mereka yang tumbuh besar dengan dongeng-dongeng pelaut.

“04-12? Itu bukan koordinat peta biasa, Maria,” Mala berpikir keras sambil menatap peta navigasi tua yang terpajang di dinding ruang tamu.
“Di Selat Malaka, 04-12 adalah titik di mana arus dari utara bertemu dengan pusaran karang Tanjung Duri. Itu tempat yang paling dihindari oleh kapal-kapal besar, tetapi menjadi tempat persembunyian terbaik bagi nelayan kecil.”

Tanpa membuang waktu, Mala dan Maria menyelinap menuju dermaga darurat di balik hutan bakau. Mereka menggunakan perahu sampan kecil agar tidak terdeteksi oleh radar canggih kapal-kapal Miller. Mala mendayung dengan ritme yang teratur, menyatu dengan suara kecipak air, sementara Maria menjaga kamera dan peralatan komunikasinya agar tetap kering.

Saat mereka mendekati titik yang dimaksud, mereka melihat Lancang Kuning lego jangkar di balik bayang-bayang tebing karang. Kapal itu tidak menyalakan lampu sama sekali. Mala merapat ke lambung kapal kayu tersebut dan naik ke geladak dengan cekatan.

Di sana, di balik kemudi, Kakek Usman duduk dengan tenang. Namun, saat cahaya senter kecil Mala mengenai wajahnya, gadis itu terkesiap. Kakek Usman tampak sangat pucat, tangannya memegang erat sebuah kotak besi tua yang berkarat.

“Kek, apa yang terjadi? Kenapa Kakek di sini? Miller mencari siapa pun yang berada di laut malam ini!” bisik Mala penuh kekhawatiran.

Kakek Usman tersenyum tipis, sebuah senyum yang getir. “Mala, mereka pikir, mereka bisa membeli selat ini dengan uang dan menakut-nakuti kita dengan besi. Namun mereka lupa, nahkoda sejati tidak tunduk pada pemilik kapal, tetapi pada Pemilik laut.”

Ia menyodorkan kotak besi itu kepada Mala.
“Ini adalah catatan log dari ayahku dan kakek buyutku. Di dalamnya ada peta bawah laut yang tidak dimiliki satelit manapun. Ada jalur pipa kuno dan patahan karang yang kini mereka gunakan untuk menanam racun-racun itu. Mereka menggunakan ruang hampa di bawah mercusuar sebagai pintu masuknya.”

Mala membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat tumpukan kertas kusam dan sebuah buku saku kulit yang masih wangi minyak cengkih. Di halaman terakhir, tertulis sebuah rangkaian angka dan kata-kata yang tampak seperti sandi: 7-M-K-3-V-O.

“Itu adalah frekuensi dan sandi akses untuk sistem komunikasi satelit ilegal yang mereka pasang di mercusuar,” Kakek Usman terbatuk, suaranya makin lemah.

“Mereka tidak hanya membuang limbah, Mala. Mereka sedang membangun pusat transmisi data gelap untuk memonitor lalu lintas kapal perang asing tanpa izin negara kita. Ini pengkhianatan kedaulatan.”

Tiba-tiba, sebuah lampu sorot raksasa membelah kegelapan dari arah laut lepas. Kapal patroli Blue Horizon telah menemukan mereka. Suara sirine yang memekakkan telinga merobek kesunyian malam.

“Pergi, Mala! Bawa kotak itu! Maria, pastikan dunia tahu!” perintah Kakek Usman dengan nada yang tak terbantahkan.

“Tapi Kakek bagaimana?” air mata Mala mulai mengalir.

“Aku akan memberikan mereka ‘sandi terakhir’. Aku akan memancing mereka ke arah pusaran 04-12. Kapal mereka terlalu berat untuk arus bawah yang akan bangkit sebentar lagi. Pergi!”

Mala ditarik oleh Maria kembali ke sampan. Dengan berat hati, Mala melihat Kakek Usman menyalakan mesin Lancang Kuning. Suara mesin tua itu meraung, menantang kapal-kapal modern yang mulai mendekat. Kakek Usman memutar kemudinya dengan gagah, memancing kapal patroli Miller untuk mengejarnya menuju labirin karang yang mematikan.

Dari kejauhan, Mala menyaksikan pengejaran yang tidak seimbang itu. Namun, Kakek Usman benar. Kapal-kapal patroli Miller yang canggih itu mulai oleng saat memasuki wilayah arus pusaran. Mereka tidak memahami karakter air di titik tersebut.

Lancang Kuning meliuk-liuk di antara karang seperti lumba-lumba yang lincah, sementara kapal pengejarnya mulai melambat, takut menabrak dinding batu yang tersembunyi di bawah permukaan.

“Lihat!” Maria menunjuk ke arah mercusuar.

Lampu mercusuar yang tadinya berputar dengan tenang, tiba-tiba berkedip dengan pola yang aneh—pola yang ada dalam catatan log Kakek Usman. Itu adalah sinyal darurat yang dikirimkan secara manual oleh seseorang di dalam mercusuar—mungkin Pak Said atau rekan setia Kakek Usman yang masih bertahan di sana.

Mala mendekap kotak besi itu di dadanya. Ia menyadari bahwa sandi terakhir nahkoda bukan hanya soal angka dan huruf, tetapi soal pengorbanan. Kakek Usman telah memberikan waktu bagi mereka.

“Kita tidak boleh menyia-nyiakan ini, Maria,” ucap Mala dengan suara yang kini mantap.

“Kita ke tempat persembunyian Pak RT sekarang. Kita hubungi pihak berwenang di pusat melalui jalur yang tidak bisa mereka retas.”

Malam itu, di bawah bayang-bayang Selat Malaka, sandi terakhir telah dilepaskan. Prahara ini bukan lagi sekadar perebutan lahan, melainkan perjuangan mengungkap konspirasi global yang ingin menanam duri di jantung perairan Nusantara.

Mala menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, melihat lampu Lancang Kuning yang menjauh dan akhirnya menghilang di balik kabut, meninggalkan sebuah legenda baru yang akan diceritakan oleh ombak sepanjang masa.

Fajar yang akan datang tidak akan pernah sama lagi. Mala bukan lagi sekadar gadis guru. Ia kini adalah pemegang kunci dari sebuah kebenaran yang sanggup meruntuhkan raksasa besi yang angkuh itu. Di tangannya, sandi sang nahkoda akan menjadi pembuka jalan bagi kemerdekaan laut mereka yang terampas. [CM/Na]

Views: 11

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *