#30HMBCM
Oleh: Shunink
CemerlangMedia.Com — “Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju perkara yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran itu ketenangan, sedangkan kedustaan itu keraguan.” (HR Tirmidzi).
“Fitnah! Aku tidak mengoloknya, Bun…,” teriak She yang tiba-tiba pulang dengan emosinya.
“Aku dengar sendiri, kamu yang ngatain kalau aku yang ambil kue Kak Alvi!” sahut Erlyta yang berdiri tepat di depan pintu.
Mendengar kedua anak tersebut saling berteriak, Bunda She dan Ibu Erlyta bergegas menghampiri mereka.
Bunda She dan Ibu Erlyta saling bertatapan dengan heran, mereka bingung dengan apa yang sedang diributkan oleh anak-anaknya.
“Sebenarnya, ini ada apa? Tadi, kan main bersama, kenapa tiba-tiba bertengkar?” tanya Bunda She heran.
“Ada apa Kak? Ayo ngomong!” gertak Ibu Erlyta sambil memegang tangan anaknya.
Dalam hati Bunda She berkecamuk segala rasa. Dia tidak ingin tersandung masalah dengan tetangga depan rumahnya tersebut. Tetangga dengan tempramen yang labil, merasa sebagai keluarga terpandang dan selalu merasa benar.
“Tadi tuh, Kakak She bilang kalau aku yang ambil kue Kak Alvi, padahal bukan aku. Karena yang ambil kue Kak Alvi itu Si Nia. Nah, sama Nia diberikan ke aku,” jelas Erlyta.
“Kamu bohong! Kamu fitnah!” teriak She dengan gemetar dan diiringi isak tangis.
“Oalah…. Ya, udah. Biar Ibu yang tanya ke Nia, gimana cerita awalnya. Sudah, Erlyta pulang!” sela Ibu Erlyta sambil menarik tangan anaknya.
Dalam perjalanan menuju rumah, terlihat Ibu Erlyta bicara serius dan mengaktifkan tangannya seolah meminta agar Erlyta melakukan sesuatu dengan berani.
She yang masih terdiam berdiri ditemani isak tangis dan gejolak emosinya, seolah konsisten membela diri bahwa dia tidak bersalah.
“Sudah, tidak apa. Kita tunggu jawaban dari Nia,” kata Bunda She dengan tenang.
“Bunda tidak percaya padaku? Dia yang ambil kue Alvi! Erlyta itu pandai memutar balikkan fakta, Bun,” tegas She lagi.
Bunda hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya sambil menggandeng tangan She, lalu mengajaknya masuk ke ruang tengah. “Bunda paham. Bunda mengerti apa yang dimaksud oleh She. Hanya saja, Bunda berharap, She bisa lebih tenang dalam menyampaikan sesuatu. Jika tidak, orang enggan percaya karena kamu ngotot full of emotionality. Sudah, sekarang She baca istighfar dulu, lalu minum dan cerita ke Bunda,” jelas Bunda.
Setelah beberapa menit, She sudah merasa calm down. Lalu dia bercerita bahwa inti masalahnya, Erlyta dan Nia mengambil beberapa snack Alvi. Namun ada beda, Nia sudah meminta izin pada Alvi, sedangkan Erlyta belum meminta izin untuk ambil snack juga.
“Tapi kenapa kok tadi Erlyta bilang, dia diberi oleh Nia?” tanya Bunda.
“Iya, karena Nia ambil terlalu banyak sehingga dia bagi dengan Erlyta,” jawab She.
“Alvi tahu atau tidak kalau Erlyta juga minta snack-nya?” tanya Bunda dengan saksama.
“Enggak, cuma dia kaget, kok snacknya tinggal dikit. Lalu, aku bilang ke Alvi jika Erlyta juga minta snack. Eee… Erlyta menyangkal, jadilah ribut!” jawab She.
Bunda tersenyum dan menepuk pundak She dengan lembut, sambil berkata, “Ya sudah, tidak apa-apa. She sudah berusaha memberitahu kejujuran yang sebenarnya. Jika ada yang tidak ingin mengakui karena takut penilaian manusia, itu bukan urusan She lagi, biar jadi urusan Allah Swt..”
“Tapi, Bun. Aku khawatir kalau Nia juga akan bicara tidak sebenarnya karena Erlyta tuh, anaknya suka menang sendiri dan menghasut teman lain!” tegas She.
“Tidak apa-apa, She yang tenang. Tidak perlu khawatir selama kamu sudah menyampaikan yang haq, itu sudah cukup. Allah Swt. lebih tahu…. So, yang tenang, ya…. She juga harus bersabar.” Bunda mencoba menenangkan She yang tenggelam dalam amarahnya.
“Insyaallah, Bun,” kata She lirih.
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 8






















