#30HMBCM2
Oleh: Lailatul Maulina
CemerlangMedia.Com — Peristiwa yang terjadi akibat kondisi dan situasi yang tidak sesuai dengan kebiasaan, sering kali mengejutkan. Perilaku seseorang yang menyakiti, biasanya berujung sakit hati yang mendalam. Tekanan dari atasan, sering kali menghadirkan rasa takut. Penilaian orang lain terhadap diri, sering juga membuat diri insecure. Kegagalan yang berulang, terkadang membuat diri jadi putus harapan.
Bahkan, usaha dan do’a yang belum membuahkan hasil, terkadang bisa saja seakan membuat hidup tidak lagi berarti. Nyatanya, semua itu bisa saja dialami oleh sebagaian besar orang. Namun ternyata, masih ada sosok luar biasa yang selalu membuat diri terdamba akan keistimewaannya. Dialah yang selalu tenang dengan value dirinya yang senantiasa memancar.
Sesulit apa pun kondisi dirinya, kegenting apa pun situasinya, bahkan seterpuruk apa pun perasaannya, yang terpancar dari sikapnya adalah ketenangan. Ketenangannya tidak berubah, bagaimana pun hantaman menerjang fisik dan batinnya. Setiap keluhan hampir tidak pernah keluar dari lisannya. Pembawaannya selalu tenang, sebab keyakinannya menghujam pada Sang Pengatur kehidupan.
Orang yang benar-benar punya nilai di dalam dirinya, tidak akan mundur sebab penilaian manusia. Manusia suka menilai sekadar apa yang mereka lihat, sering kali menyimpulkan tanpa ilmu dan pemahaman yang benar. Penilaiannya sering kabur dan tidak sesuai dengan realita yang ada. Parahnya, semua harus mengikuti penilaan baik dan benar sesuai pandangan mereka. Tanpa iman dan ilmu, sering kali penilaiannya mengusik jiwa yang tenang.
Namun tidak demikian bagi orang yang punya value. Pandangan orang yang asal-asalan, cukup menjadi pelajaran dan rambu bagi dirinya. Jangan sampai dirinya sama menyakiti atau merendahkan sebagai insan yang hidup berdampingan dengan sesama. Hidupnya pun menjadi selalu tenang, sebab value dirinya tidak lagi bisa dilumpuhkan dengan penilaian manusia.
Orang yang benar-benar punya nilai di dalam dirinya, tidak akan mudah melawan prinsip karena manusia. Prinsip itu tidak bisa ditawar, bahkan oleh orang terdekat pun. Ketika tekanan kondisi dan situasi mulai melingkupi diri, sering kali prinsip mudah goyah. Kegoyahan itu tidak sebegitu mudahnya terjadi, semua tergantung pada kekuatan jiwa yang senantiasa berusaha teguh dalam prinsip. Mungkin sering kali harus meneteskan air mata karena harapan ada dengan melawan prinsip, tetapi diri yang tenang selalu menguatkan dalam keheningan.
Hanya orang yang punya value yang bisa menepis segala pengaruh yang berusaha merusak prinsipnya. Siapa pun manusia yang membujuknya, tidak akan pernah membuatnya mundur dari prinsipnya. Ketenangannya dalam menjalani hidup telah membuatnya cukup dengan prinsipnya bahwa tidak seorang pun bisa mempengaruhi hidupnya, kecuali Allah sebagai Penciptanya.
Orang yang benar-benar punya nilai di dalam dirinya, tidak akan menjadi lemah sebab fisik disakiti. Diri yang punya nilai tidak akan menjadi kehilangan kekuatan, sebab fisik yang tersakiti. Justru, kelemahan itu ada karena prinsip yang hilang, sebab ancaman fisik yang menerjang. Kelemahan itu ada, sebab jiwa dan raga tidak lagi tunduk pada aturan Sang Pencipta, demi keamanan di hadapan manusia.
Manusia hanyalah bisa mengancam, tetapi Allah lah yang memberikan kekuatan. Kekuatan iman yang tidak lekang walau fisik hancur berantakan atau bahkan nyawa yang ikut melayang. Sebagaimana para sahabat Rasul yang tetap teguh pada keimanan, walau disiksa dengan begitu kejam fisik mereka. Nyawa mereka pun terancam melayang jika tidak memilih melawan prinsip untuk melepas Islam sebagai keyakinan.
Orang yang benar-benar punya nilai di dalam dirinya, tetap tenang dalam kesendirian. Orang yang punya nilai, tidak pernah ingin dan berharap dekat dengan siapa pun. Dirinya tahu bahwa semua orang bisa datang dan pergi, tetapi yang benar-benar tulus membersamai tidak akan pernah pergi. Diri yang selama ini sering memilih sendiri dalam keseharian, bukanlah itu menandakan dirinya kesepian. Akan tetapi, dari sanalah ketenangan itu muncul, sebab tiada bising yang tidak berkualitas mengitari kepala dan hati selain dari diri sendiri.
Diri yang tenang itu melibatkan Allah dalam segala urusannya sudah cukup. Jadi, hadirnya manusia adalah tempat beramal, bukan tempat baper berlebihan. Terlebih dalam pertemanan, dirinya sadar bahwa pertemanan bisa dengan siapa saja. Namun jika hanya berpotensi merusak hubungan dengan orang lain, merusak prinsip, atau bahkan merusak kualitas pemikiran dan perilaku dirinya, maka menjaga jarak itu lebih utama. Bukan untuk bermusuhan, tetapi menjaga batas dari orang yang kurang tepat.
Persahabatan pun biasanya hanya bersifat momentum sehingga dirinya tidak terlalu berlebihan. Jarak dan hilangnya komunikasi, bisa menjadikan persahabatan itu menghilang tanpa disengaja. Bahkan, relasi dengan para pejabat yang mungkin dianggap penting bagi orang lain, sering digadang-gadang bisa membuka peluang kemudahan dalam hal karir, pendidikan, bisnis atau lainnya. Padahal, itu hanyalah ilusi ketika relasimu hanya mementingkan tujuan-tujuan itu. Nyatanya, setiap hal yang yang ada pada diri manusia itu tidak pasti dan cenderung mengecewakan. Saat ini dan selamanya, cukup eratkan relasi dengan Allah, sebab tidak akan pernah menuai kecewa, walau dalam kondisi dirimu tidak mampu dan tidak akan pernah bisa memberikan balasan apa pun pada-Nya. Semua itu disebabkan hadir-Nya menenangkan, bukan sekadar dengan janji, tetapi dengan bukti nyata.
“Ketenangan itu hanya dengan yakin dan selalu berharap pada Allah saja. “ (L. Maulina).
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 9






















