#30HMBCM
Oleh: Shunink
CemerlangMedia.Com — “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat: 12).
“Tumben ada di rumah? Biasanya dinas di musala atau patroli keliling kampung sama yang lain?” celetuk Bunda pada She yang sedang asyik menyaksikan serial anime di televisi.
“Lagi pengen di rumah aja, Bunda.” Dengan suara lirih dan pandangan sayu, She menjawab celetukan Bunda.
Melihat ekspresi dan mendengar cara She menjawab, Bunda terdiam dan berpikir, “Ada apa dengan anak ini, beberapa hari berdiam diri di rumah.”
“Ada masalah sama teman-teman?” tebak Bunda.
“Cerita dong,” imbuhnya.
She hanya menggelengkan kepala dan tersenyum.
Bunda makin curiga dengan tanggapan dari bahasa tubuh anaknya.
“Kalau tidak ada masalah, tumben She ada di rumah? Ini kan, waktunya main di luar rumah?” Bunda masih tetap berusaha memancing She untuk bercerita.
“Hemmm… malas aja,” sahut She.
Tiba-tiba…
“Kak, dipanggil Ustaz Ridho karena di musala ada acara tasyakuran,” teriak Ayya.
“Enggak, ah. Bilang aja aku tidur,” elak She dengan santainya.
“Eh, enggak boleh begitu. Sama aja membohongi orang lain dan mengajarkan Ayya bohong juga,” tegur Bunda pada She.
“Ayo, Kak! Di sana udah ngumpul semua. Kak Alvi, Kak Nia, Kak Wanda, Kak Rina… semuanya,” paksa Ayya sambil menarik tangan She.
She mulai geram pada Ayya, adiknya.
“Aduh, berisik! Aku enggak mau! Jangan dipaksa, kamu sendiri aja sana yang ikut!” bentak She.
Bunda pun memegang tangan Ayya sambil tersenyum dan berkata, “Bilang sama Ustaz Ridho kalau Kakak tidak bisa ikut karena ada uzur.”
Ayya pun menganggukkan kepala dan segera keluar rumah menuju musala.
“She… cerita sama Bunda, ada apa?” tanya Bunda sambik mengelus punggung She dengan lembut.
“Malas aja ketemu teman-teman,” jawab She.
“She tuh, enggak habis pikir. Sebenarnya salahku tuh, apa? Kenapa mereka dengan mudah menggunjing, menghina, bahkan memfitnah She?” imbuhnya.
“Pernah She menegur mereka, tetapi salah satu dari mereka menjawab, ‘Aah gitu aja baper, biasa aja kali, She-bal’. Sakit hati banget… masa namaku diplesetin jadi shibal, juga? Bunda kan tahu artinya shibal dalam bahasa korea?” ungkap She.
“Innalillahi… siapa yang panggil seperti itu, Nak?” tanya Bunda dengan sedikit amarah.
“Wanda. Parahnya lagi, yang lain itu tertawa dan ikutin si Wanda! Emang sih, Wanda itu anak orang kaya, sering ajak yang lain makan di cafe, jalan-jalan pake mobilnya. Aku apa?” jelas She.
“Mereka juga pernah bilang, kalau She ini orang miskin! Rumahnya jelek, Ayahnya enggak kerja di kantor! Yang aku pendeklah, hitamlah…. Tempo hari, aku dipanggil si Tompel, juga! Enggak ngerti, deh. Apa sih, mau mereka, tuh? Kenapa cuma aku aja? Salahku apa?” Isak tangisnya mulai terdengar.
Perih hati Bunda mendengar apa yang disampaikan oleh She. Bunda pun memeluk She dan berbisik, “Sabar, ya, Nak. Allah Swt. pasti punya maksud, kenapa She dikelilingi oleh teman-teman seperti mereka. She sudah hebat, bisa menahan amarah. Adukan ke Allah Swt. kesedihanmu, mungkin mereka hanya tidak tahu tentang apa yang mereka lakukan terhadap She. Namun, Allah Swt. tahu apa yang terbaik untuk She dan untuk mereka. Paham, kan?”
Dari serangkaian pengalaman yang dialami oleh She, menyadarkan Bunda bahwa selama ini yang dilakukan oleh anaknya adalah usaha untuk mendapatkan pengakuan dari teman-temannya (validasi).
She yang mencerca dan marah pada fakta hidupnya, She yang berani berbohong saat mencuri uang dalam dompet Ayah agar bisa berbelanja di swalayan bersama teman-temannya, dan She yang berani berbohong terkait dompet blink-blink kala itu.
Air mata Bunda pun mengalir tanpa bisa dibendung. Dia memeluk She dengan erat sambil berdoa, “Ya Allah, ampuni hamba. Lindungilah anakku dari kejahatan dan kezaliman orang-orang yang membencinya. Kuatkan jiwanya dan tunjukilah anakku ke jalan-Mu hingga menjadi insan yang bersabar menghadapi kerasnya dunia ini.”
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 4






















