#30HMBCM
Penulis: Zakiah Ummu Faaza
Bab 6 Memeluk Hidupku Hari ini
CemerlangMedia.Com, NOVEL — “Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR Abu Dawud & Tirmidzi).
“Alhamdulillahirabill ‘aalamiin…, tak terasa waktu begitu cepat berlalu ya, Bunga. Sudah hampir 3 tahun kamu bekerja dan membantu Ibu di sekolah ini,” kata Bu Retno kepada Bunga. Ibu sangat berterima kasih atas waktu, tenaga, dan pikiran yang tercurah selama ini. Ibu belum bisa membalas yang setimpal. Hanya Allah sebaik-baik pemberi balasan,” kata Bu Retno.
Mendengar ucapan dari kepala sekolahnya tersebut, Bunga hanya tersenyum dan mengangguk. Walaupun Bu Retno sudah ia kenal sejak kecil karena ia adalah gurunya sejak SD. Bu Retno sering kali mengatakan jangan sungkan terhadapnya, tetapi Bunga tetap proporsional, ia sangat menunjukkan rasa hormat kepadanya.
Bunga menghormati siapa saja yang usianya lebih tua darinya dan menyayangi yang lebih muda darinya. Dengan kepribadian yang dimilikinya seperti ini, ia tetap memiliki teman. Terkadang, sebagian orang melihat Bunga pendiam, pemalu, jarang bicara, bahkan introvert, tetapi di sisi lain ketika ia dibutuhkan berbicara di depan umum, ia tidak pernah menolak.
Bunga sering kali mengikuti berbagai pelatihan, training, dan upgrading diri mewakili dari lembaga yang diutus sekolah karena ia yamg masih muda, cukup energik, dan bisa diandalkan. Dengan mengikuti kegiatan tersebut, Bunga memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi anak-anak kecil di dalam kelas, walaupun terkadang masih harus belajar keras untuk bisa beradaptasi dengan siswanya.
Goresan pena di atas buku warna-warni belum juga berhenti. Padahal, waktu sudah menunjukan jam 11 siang, sudah waktunya Bunga pulang. “Hari ini Jum’at, aku harus menyelesaikan dulu rancangan kegiatan sekolah untuk satu minggu kedepan sebelum aku berlibur dan pulang ke rumah karena kalau sudah di rumah, peralatan dan medianya tidak tersedia,” ucap Bunga.
“Bunga, kamu belum pulang?” Tanya Bu Retno yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu. Hari ini, Bu Retno tidak masuk sekolah karena anak bungsunya sedang sakit panas. Pada saat itu, ia lewat di depan sekolah karena akan membeli bubur ayam untuk anaknya.
“Belum, Bu. Insyaallah, sebentar lagi saya akan pulang. Sesudah menyelesaikan ini, Bu, “kata Bunga.
Bu Retno berpesan kepada Bunga agar ia jangan dulu pulang ke rumah setelah selesai pekerjaannya. Ia ingin bertemu Bunga. Bu Retno minta sedikit waktunya untuk mengobrol bersama Bunga di sekolah, sepertinya ada hal yang sangat penting untuk dibicarakan. Bunga pun menyanggupi permintaan Bu Retno dan menunggunya di ruang kelas.
Suara langkah kaki terdengar menuju ruangan kelas yang hening. Bunga saat itu masih berkutat dengan penanya. “Bunga, sudah selesai pekerjaannya? Kalau sudah, menghadap Ibu, ya, ke kantor. Ibu ingin bicara sebentar,” kata Bu Retno.
Bunga segera merapikan perlengkapan mengajar dan segera bergegas menghampiri dan duduk di depan Bu Retno.
Bu Retno mulai berbicara kepada Bunga. Ia berencana akan menjodohkan Bunga dengan seorang pria yang memang cocok untuknya. Pria tersebut sangatlah baik agamanya, pemimpin salah satu pondok pesantren di daerahnya. Pria tersebut menginginkan seorang istri yang memang direkomendasikan oleh rekan dari alumni pondoknya dulu. Pada saat itu, kebetulan Bu Retno adalah salah satu rekannya. Ia teringat kepada Bunga karena sesuai dengan kriteria pria tersebut.
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 2






















