#30HMBCM
Penulis: Kak Na
CemerlangMedia.Com — Pernah nggak sih, kamu kepikiran satu hal.
Di dunia ini, banyak banget hal yang kita ikuti tanpa benar-benar kita pastikan dulu kebenarannya. Ikut tren, ikut omongan orang, ikut apa yang lagi rame. Tanpa sadar… kita jalan begitu saja.
Padahal kalau sesuatu itu berkaitan dengan hidup kita, harusnya kita lebih hati-hati.
Harusnya kita tanya, “Ini benar nggak, sih?”
Sekarang bayangin kalau kamu lagi butuh arah dalam hidup. Butuh pegangan. Butuh sesuatu yang bisa kamu percaya. Lalu kamu menemukan satu sumber yang katanya bisa menjawab semua itu…, tetapi kamu sendiri belum benar-benar yakin.
Kira-kira kamu bakal langsung ikut?
Atau kamu akan mikir dulu?
Dan di sinilah kita sampai ke satu pertanyaan penting. Al-Qur’an… yang sering kita baca, yang sering kita dengar… itu benar-benar dari Allah?
Atau hanya sekadar tulisan manusia?
Pertanyaan ini mungkin nggak selalu kita ucapkan, tetapi sering lewat di pikiran. Apalagi sekarang … di mana semua hal bisa dipertanyakan.
Dan itu nggak salah. Karena sesuatu yang akan kita jadikan pegangan hidup memang harus diyakini dengan benar, bukan sekadar ikut-ikutan.
Coba bayangin ini.
Kamu lagi tersesat di tempat yang nggak kamu kenal. Lalu ada dua orang yang kasih kamu arah.
Yang pertama bilang, “Ikut aja jalan ini, aku juga pernah dengar dari orang.”
Yang kedua bilang, “Aku tahu pasti jalannya. Aku yang buat peta tempat ini.”
Kamu bakal percaya yang mana?
Pasti yang benar-benar tahu. Karena kamu nggak mau ambil risiko tersesat lebih jauh.
Dan hidup juga sama. Kalau kita mau mengikuti suatu petunjuk, kita harus yakin dulu … petunjuk itu benar.
Sekarang kita balik ke Al-Qur’an. Kalau Al-Qur’an itu benar dari Allah, maka isinya pasti benar. Nggak boleh ada salah, nggak boleh ada cacat.
Akan tetapi kalau itu buatan manusia, harusnya ada kelemahan. Karena manusia bisa salah, bisa lupa, dan terbatas.
Sekarang kita lihat fakta sederhana.
Al-Qur’an diturunkan lebih dari 1400 tahun yang lalu, di masa yang belum ada teknologi, belum ada ilmu modern seperti sekarang.
Tapi anehnya… isinya tetap relevan sampai hari ini. Tentang hidup, tentang manusia, tentang hati, dan tentang arah kehidupan.
Kalau itu buatan manusia biasa, harusnya sudah ketinggalan zaman. Harusnya sudah nggak cocok. Namun, kenyataannya… masih terasa “kena”.
Bukan hanya itu.
Al-Qur’an juga tidak sekadar meminta kita percaya, tetapi menantang.
Allah berfirman:
“Dan jika kamu ragu tentang (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisalnya….” (QS Al-Baqarah: 23).
Artinya, kalau kamu ragu ini dari Allah, silakan buat yang seperti ini. Dan sampai hari ini… tidak ada yang mampu. Padahal manusia sekarang jauh lebih maju. Ilmu berkembang, teknologi canggih, orang-orang pintar makin banyak.
Tetapi tetap… tidak ada yang bisa menandingi Al-Qur’an.
Kenapa?
Karena ini bukan karya manusia. Sekarang kita lihat dari sisi lain. Kalau seseorang membuat sesuatu dalam waktu lama, biasanya akan ada yang tidak konsisten. Al-Qur’an diturunkan selama lebih dari 20 tahun, di berbagai kondisi.
Kalau ini buatan manusia, harusnya ada yang bertentangan.
Tetapi tidak.
Allah juga menegaskan:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak pertentangan di dalamnya.” (QS An-Nisa: 82).
Artinya jelas. Kalau ini bukan dari Allah, pasti ada celahnya. Tetapi sampai hari ini … tidak ada.
Dan di titik ini, kita mulai melihat sesuatu.
Bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab. Bukan sekadar bacaan, tetapi benar-benar petunjuk.
Sekarang pertanyaannya bukan lagi, “Ini dari Allah atau bukan?”
Tetapi berubah jadi, “Kalau ini benar dari Allah… aku sudah memperlakukannya seperti apa?”
Apakah hanya dibaca?
Atau benar-benar dijadikan arah hidup?
Karena jujur saja… banyak dari kita sudah percaya, tetapi belum benar-benar menjadikannya sebagai pegangan. Kita masih lebih percaya omongan orang, lebih ikut tren, lebih nurut sama perasaan sendiri daripada kembali ke petunjuk.
Padahal kalau ini benar dari Allah, harusnya ini jadi yang paling kita pegang. Dan mungkin… ini bukan soal kamu belum tahu.
Tetapi soal kamu belum benar-benar mau.
Pelan-pelan… pertanyaan itu akan kembali ke diri kamu sendiri.
Renungan kecil:
💕🦋 Kalau Al-Qur’an benar-benar dari Allah… sudah sejauh apa kamu menjadikannya sebagai pedoman hidup? 🦋💕
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 1






















